BACAAJA, SEMARANG – Memahami perbedaan tak cukup hanya lewat ‘teori’. Mahasiswa PPL UIN Walisongo Semarang belajar langsung tentang kehidupan umat Buddha saat mengunjungi Wihara Mahabodhi, Jalan Seroja Timur, Semarang, Senin (12/10/2026).
Di sana, mahasiswa berkeliling melihat ruang ibadah dan aula, sekaligus berdialog dengan pengurus wihara tentang tradisi serta kegiatan keagamaan umat Buddha.
Ketua Pengurus Wihara Mahabodhi, Andi Febrianto Lusdan (53), menjelaskan bahwa kegiatan di wihara tak hanya berupa kebaktian rutin setiap minggu. Ada pula puja untuk memperingati 40 atau 100 hari, sembahyang saat bulan purnama dan bulan gelap, hingga perayaan Imlek.
Bacaaja: Tidak Ada Alasan Bermusuhan, Semua Manusia Bersaudara Atas Nama Kemanusiaan
Bacaaja: Kemenag Jateng Gandeng ISNU, Gas Bareng Program CTC buat Pemberdayaan Umat
Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama (BLA) Semarang, H. Moch. Muhaemin, mengatakan perjumpaan langsung seperti ini membantu mahasiswa melihat keberagaman dari dekat, bukan sekadar mempelajarinya di kelas.
“Teman-teman nanti belajar dengan Wihara Mahabodhi ini bahwa kita adalah setara,” ujarnya.
Dalam dialog tersebut, Bhante Nyanasuryanadi mengingatkan bahwa perbedaan keyakinan perlu disikapi dengan bijak. Menurutnya, sentimen agama bisa memicu persoalan ketika orang tak mampu memahami perbedaan.
“Sentimen agama paling sensitif,” kata Bhante Nyanasuryanadi yang juga menjabat sebagai Kaprodi Magister Pendidikan Keagamaan Buddha STIAB Smaratungga Boyolali.
Ia menilai kerukunan juga membutuhkan kemampuan mengendalikan diri. Sebab, persoalan bukan hanya muncul di antara pemeluk agama berbeda, tetapi juga di dalam kelompok agama yang sama.
“Yang paling utama kan batin kita,” tuturnya.
Melalui kunjungan ini, mahasiswa diharapkan tak hanya mengenal tradisi agama lain, tetapi juga belajar membangun toleransi lewat dialog dan perjumpaan langsung. BLA Semarang pun berharap kerja sama dengan Wihara Mahabodhi berlanjut dalam kegiatan nyata, bukan sebatas kesepakatan tertulis. (dul)

