BACAAJA, JAKARTA – Momen langka bakal kejadian di 2026. Hari Raya Nyepi dan Idulfitri diprediksi jatuh hampir barengan. Nah, urusan sensitif kayak gini jelas nggak bisa dianggap sepele.
Menteri Agama Nasaruddin Umar sampai khusus ngobrolin hal ini bareng Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Rabu (4/3/2026).
Yang jadi perhatian utama itu soal malam takbiran yang kemungkinan bertepatan dengan Hari Raya Nyepi di Bali. Kita tahu, saat Nyepi suasana harus hening total. Nggak ada suara berisik, nggak ada kendaraan lalu-lalang. Sementara di sisi lain, malam sebelum Lebaran identik dengan takbir yang menggema di mana-mana.
Menag bilang, pemerintah pusat sudah koordinasi dengan pemda dan tokoh-tokoh masyarakat di Bali buat cari titik temu. Intinya sederhana: dua-duanya tetap bisa jalan, tanpa saling ganggu.
Hasilnya? Takbiran tetap boleh dikumandangkan. Tapi ada penyesuaian. Penggunaan sound system dibatasi, terutama pada jam 06.00 sampai 09.00. Jadi tetap ada ruang untuk umat Muslim merayakan, sekaligus tetap menghormati umat Hindu yang menjalankan Nyepi.
“Takbir tidak bertentangan dengan Nyepi,” kurang lebih begitu pesan yang disampaikan Menag setelah lapor ke Presiden.
Momen ini jadi pengingat kalau Indonesia memang penuh warna. Kadang kalendernya bikin dua perayaan besar datang hampir bersamaan. Tapi selama komunikasinya jalan dan saling ngerti, semuanya bisa diatur.
Beda keyakinan bukan soal siapa paling keras suaranya, tapi gimana caranya tetap saling jaga suasana. (*)


