BACAAJA, JAKARTA – Sidang kasus dugaan pemerasan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) malah berubah jadi panggung monolog.
Mantan Wamenaker Immanuel Ebenezer alias Noel tampil all-out di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (26/1/2026), dengan satu pesan ekstrem: “Kalau saya korupsi, hukum mati saya.”
Noel bilang dirinya konsisten dengan omongannya sendiri soal korupsi.
“Saya komit(men) dengan isu ini,” katanya.
Bacaaja: “Ada Huruf K-nya”, Noel Lempar Clue, Publik Disuruh Tebak Partai
Bacaaja: Lonjakan Kekayaan Noel Bikin Heboh, Sejumlah Mobil dan Motor Mewah Disita KPK
Namun, di saat yang sama, dia menuduh KPK menjalankan “operasi tipu-tipu”, bahkan menyindir lembaga antirasuah itu lebih mirip konten kreator ketimbang aparat penegak hukum.
Menurut Noel, proses yang ia alami penuh framing: dari dipanggil klarifikasi, tahu-tahu ditetapkan tersangka, lalu narasi soal puluhan mobil dan duit ratusan miliar yang disebut-sebut hasil pemerasan.
“Datang katanya klarifikasi, paginya saya TSK. Mobil saya diminta, besoknya dibilang 32 mobil hasil pemerasan. Lanjut lagi, tiba-tiba Rp201 miliar,” kata Noel, yang merasa ceritanya terus digiring ke arah sensasi.
Noel juga menantang KPK untuk membuktikan siapa pengusaha yang benar-benar diperas.
Ia menuding framing kasus ini bukan cuma membohongi dirinya, tapi juga presiden dan rakyat.
Di ujung pernyataannya, Noel kembali menegaskan posisi kontroversialnya: korupsi itu lahir dari kebohongan, dan kalau dirinya terbukti melakukan itu, hukuman paling berat pun ia klaim siap terima.
Sidang masih jalan, kasus belum putus. Tapi satu hal sudah pasti: drama politik-hukum ini makin panas, dan publik kebagian tontonan yang campur aduk antara amarah, tudingan, dan retorika keras. (*)


