BACAAJA, JAKARTA – Program dapur gizi di wilayah 3T kembali jadi sorotan setelah sejumlah investor datang membawa keluhan ke Badan Gizi Nasional (BGN). Mereka mengaku sudah membangun fasilitas dapur, tetapi masih mempertanyakan kejelasan kelanjutan program yang selama ini dijalankan.
Di tengah beredarnya kabar bahwa operasional dapur dihentikan, Kepala BGN Nanik S. Deyang memastikan informasi tersebut tidak benar. Menurutnya, tidak ada kebijakan penghentian dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah dibangun di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Nanik menjelaskan persoalan yang muncul bukan terkait penutupan dapur, melainkan keresahan para investor yang merasa sudah menggelontorkan dana untuk pembangunan fasilitas namun belum mendapatkan kepastian mengenai langkah berikutnya.
Ia mengatakan laporan tersebut baru diterimanya setelah menjabat sebagai Kepala BGN. Karena itu, dirinya masih mempelajari berbagai kebijakan yang pernah diambil pada periode sebelumnya.
Menurut Nanik, dirinya tidak terlibat dalam pengambilan keputusan operasional sebelum menjabat. Kondisi itu membuatnya memilih berhati-hati saat menanggapi berbagai persoalan yang muncul terkait proyek dapur 3T.
Keluhan investor kemudian dibahas dalam pertemuan yang melibatkan pimpinan BGN. Dalam kesempatan itu, para investor menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai nasib bangunan dapur yang telah selesai dikerjakan.
BGN pun memilih membuka ruang dialog untuk mendengar langsung aspirasi para pihak yang terlibat dalam pembangunan fasilitas tersebut.
Nanik mengungkapkan bahwa dirinya bersama dua wakil kepala BGN telah menerima perwakilan investor guna mendengarkan penjelasan dan pengaduan secara langsung.
Dari pertemuan itu, BGN mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai harapan investor yang menginginkan kepastian arah program ke depan.
Karena menyangkut kebijakan yang cukup besar, BGN tidak ingin mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Setiap langkah akan dibahas bersama pihak terkait agar solusi yang dihasilkan bisa diterima semua pihak.
Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah melakukan konsultasi dengan DPR. Jalur tersebut dipilih agar pembahasan mengenai dapur 3T dapat dilakukan secara menyeluruh.
BGN berharap diskusi dengan DPR dapat membantu menemukan titik temu yang tidak merugikan investor sekaligus tetap sejalan dengan tujuan program pemenuhan gizi nasional.
Di sisi lain, angka pembangunan dapur yang telah dilakukan ternyata tidak sedikit. Nanik menyebut sekitar 1.200 bangunan dapur sudah berdiri dan siap digunakan.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa investasi yang masuk ke program ini cukup besar dan melibatkan banyak pihak.
Tak hanya yang sudah selesai dibangun, masih ada ribuan dapur lain yang berada dalam berbagai tahap pengerjaan.
Sebagian masih dalam proses pembangunan fisik, sementara lainnya berada pada tahap persiapan maupun penyelesaian administrasi.
Besarnya jumlah proyek yang telah berjalan membuat penyelesaian persoalan ini menjadi perhatian penting bagi BGN.
Jika tidak segera ditemukan kejelasan, investor berpotensi terus mempertanyakan arah program yang selama ini mereka dukung.
Meski demikian, Nanik menegaskan fokus utamanya saat ini bukan mencari siapa yang salah atau mengulas keputusan masa lalu.
Ia lebih memilih memusatkan perhatian pada upaya mencari solusi yang bisa dijalankan secara realistis dan berkelanjutan.
Sikap itu terlihat ketika dirinya enggan memberikan komentar panjang mengenai kebijakan yang dibuat pada periode kepemimpinan sebelumnya.
Menurutnya, yang paling penting saat ini adalah memastikan berbagai persoalan yang muncul bisa diselesaikan dengan baik.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar pembahasan tidak terjebak pada polemik lama yang justru menghambat penyelesaian masalah.
Sementara itu, keberadaan dapur SPPG menjadi bagian penting dalam mendukung berbagai program pemenuhan gizi masyarakat.
Terutama di wilayah 3T yang selama ini menghadapi tantangan akses pangan dan distribusi layanan yang lebih kompleks dibanding daerah lain.
Karena itulah, keberlanjutan operasional dapur menjadi perhatian banyak pihak, termasuk investor yang sudah menanamkan modal dalam pembangunan fasilitas tersebut.
Mereka berharap bangunan yang sudah berdiri dapat dimanfaatkan sesuai tujuan awal sehingga investasi yang telah dikeluarkan tidak menjadi sia-sia.
Di tengah berbagai pertanyaan yang muncul, BGN memastikan komunikasi dengan investor tetap terbuka.
Lembaga tersebut juga berupaya mengumpulkan seluruh informasi yang dibutuhkan sebelum menentukan langkah lanjutan.
Untuk sementara, pesan yang ingin disampaikan BGN cukup jelas. Dapur SPPG di wilayah 3T tidak dihentikan, namun berbagai persoalan terkait keberlanjutan program masih akan dibahas bersama DPR dan pihak terkait guna menemukan jalan keluar yang paling tepat. (*)

