PEPOHONAN rindang menaungi kawasan pesarean di Kelurahan Cepoko, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Suasananya tenang, jauh dari kesan ramai, dengan jalan berpaving yang mengarah ke kompleks makam.
Di salah satu sisi, berdiri sebuah bangunan bata merah yang sekilas menyerupai candi. Bentuknya bertingkat dengan ornamen di bagian atas dan dinding bata yang mengelilinginya. Namun bangunan ini bukan makam, melainkan pintu masuk menuju pesarean.
Tulisan nama “Pesarean Joyo Kusumo, Panembahan Pragolapati” terpampang di bagian tengah pintu tersebut. Dari sana, pengunjung bisa masuk ke area makam yang berada di balik bangunan gerbang.
Berbeda dengan gerbangnya, bangunan pesarean justru berbentuk rumah tradisional. Atap genteng tua terlihat bertingkat dan sudah ditumbuhi lumut di sejumlah bagian. Dindingnya didominasi warna putih, sementara rangka kayu dan penyangga teras dicat biru.
Bacaaja: Waduk Gajah Mungkur Mengering, Muncul Puluhan Makam Kuno
Bacaaja: Makam Bung Karno di Blitar Kini Bisa Diziarahi 24 Jam
Pintu masuk pesarean berupa pagar besi hitam. Di depannya terdapat teras berlantai keramik putih. Pepohonan di sekitar kawasan membuat suasananya teduh, sementara beberapa daun kering terlihat berserakan di lantai dan jalan.
Di bagian belakang dan samping pesarean, kawasan hijau masih cukup terasa. Pepohonan besar, tanaman pisang dan semak tumbuh di lereng sekitar makam, memperkuat kesan asri yang menjadi ciri kawasan Cepoko.
Pesarean ini dikenal masyarakat sebagai makam Panembahan Pragolapati, sosok yang dikaitkan dengan tokoh dari Pati. Keberadaannya juga menjadi bagian dari cerita sejarah dan tradisi masyarakat setempat.
Muhammad Asy’ari, warga yang menjaga makam, mengatakan nama sosok yang dimakamkan di tempat itu sempat memiliki beberapa penyebutan.
“Dulu waktu saya kecil, namanya Mbah Karto Kusumo. Kemudian ada peneliti yang menyebut Mbah Wiryo Kusumo. Terakhir dari keluarga Pati menyatakan namanya Wasis Joyo Kusumo,” ujar Asy’ari, Rabu (16/9/2026).
Menurut Asy’ari, kawasan makam juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Saat dia mulai tinggal di sekitar lokasi pada 2019, akses menuju makam masih berupa jalan setapak. Kini kawasan tersebut sudah memiliki jalan berpaving, talut, pelataran dan tempat parkir.
Sejumlah pembangunan itu, kata dia, turut melibatkan warga yang memiliki kaitan dengan Pati. Di kawasan pesarean juga terdapat musala dan sendang yang menjadi bagian dari lingkungan makam.
Pesarean tersebut tepatnya berlolasi di Jalan Joyo Kusumo, Cepoko, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Lokasinya dari jalan utama Gunungpati perlu masuk dan melewati jalan menurun hingga dekat persawahan.
Di kecamatan yang sama terdapat pesarean lain yang juga dikaitkan dengan tokoh Joyo Kusumo. (bae)

