BACAAJA, BOYOLALI- Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menegaskan, saat ini tidak ada lagi desa sangat tertinggal dan terpencil di Jawa Tengah. Kuncinya satu: ekonomi desa bergerak, ditopang jutaan usaha mikro yang terus naik level.
Pernyataan itu disampaikan Luthfi saat menghadiri puncak peringatan Hari Desa Nasional yang digelar meriah di Lapangan Kawasan Kebun Raya Indrokilo, Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Kamis, (15/1/2026).
Jateng sendiri tercatat sebagai provinsi dengan jumlah desa terbanyak di Indonesia, yakni 7.810 desa yang tersebar di 29 kabupaten/kota. Dan kabar paling bikin senyum: tahun 2025 sudah nol desa sangat tertinggal.
Baca juga: Posyandu di Tiga Desa Jateng Jadi Role Model
Data indeks desa menunjukkan, ada 2.208 desa mandiri atau sekitar 28,27 persen. Lalu 3.291 desa maju, 1.666 desa berkembang, dan tinggal 15 desa tertinggal yang kini jadi prioritas intervensi agar segera naik kelas.
“Desa itu ujung tombak pembangunan. Kalau desanya kuat, daerah dan nasional ikut kuat,” kata Luthfi. Lebih lanjut dipaparkan, berbagai program desa yang digarap Pemprov Jateng menunjukkan hasil nyata. Saat ini ada 154 kawasan perdesaan tematik di enam sektor: pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, industri, dan peternakan.
Desa Mandiri Energi
Tak berhenti di situ, Jateng saat ni juga punya 2.331 Desa Mandiri Energi, yang terdiri dari desa inisiatif, berkembang, hingga mapan. Sementara di sektor pariwisata, terdapat 899 desa dan kampung wisata, dari tahap rintisan sampai desa wisata maju.
Program penguatan desa ini diperkuat lewat skema Satu OPD Satu Desa Binaan, yang sekaligus jadi strategi pengentasan kemiskinan. Sepanjang 2025, tercatat 76 desa dampingan dari 49 OPD Provinsi Jawa Tengah.
Jika ditarik ke belakang, sejak 2019 hingga 2025 sudah ada 452 desa dampingan dengan total anggaran sekitar Rp112,5 miliar, hasil kolaborasi APBN, APBD, Dana Desa, hingga CSR.
Menurut Luthfi, UMKM adalah napas ekonomi Jawa Tengah. Total ada sekitar 4,2 juta UMKM, dan sekitar 3 juta di antaranya hidup di desa. Bahkan, sebagian desa kini sudah naik kelas jadi Desa Ekspor, punya usaha skala menengah dengan standar pasar luar negeri.
“Itu potensi desa yang harus terus kita dorong dan tingkatkan,” ujarnya. Momentum Hari Desa Nasional di Boyolali, lanjut Luthfi, diharapkan menjadi booster bagi UMKM agar makin dikenal, makin kuat, dan makin berdampak.
Sementara itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto menegaskan, desa adalah subjek pembangunan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca juga: Jateng Lagi Ramai: Dari Desa Sunyi Sampai Borobudur, Semua Jadi Magnet
“Kita satukan energi supaya ekonomi desa bangkit dan tumbuh. Ini bagian dari astacita Presiden Prabowo tentang pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Membangun desa sejatinya membangun Indonesia,” tegasnya.
Kalau dulu desa sering dicap tertinggal, sekarang justru jadi mesin ekonomi. UMKM gas, wisata ramai, energi mandiri nyala. Tinggal satu tantangan: jangan sampai desa maju cuma di data, tapi warganya masih harus mikir panjang tiap akhir bulan. (tebe)


