BACAAJA.CO, SEMARANG– Siapa bilang baris-berbaris cuma urusan anak muda berseragam? Di Pedurungan, Kota Semarang, para anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas) membuktikan bahwa usia bukan alasan untuk kehilangan semangat.
Langkah tegap, aba-aba komandan, sampai kekompakan gerakan menjadi bukti bahwa jiwa muda tak selalu soal angka di kartu identitas. Keseruan itu terlihat dalam lomba Peraturan Baris-Berbaris (PBB) yang digelar Rumah Aspirasi Warga bekerja sama dengan Rumah Juang Mochamad Herviano melalui kegiatan Oktober Fiesta.
Acara yang berlangsung di Lapangan Palebon Raya, Sabtu, (10/10/2026) malam ini digelar dalam rangka ikut memeriahkan HUT Tentara Nasional Indonesia (TNI) sekaligus memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Bukan sekadar adu rapi barisan atau siapa paling lantang meneriakkan komando, kegiatan ini juga menjadi ajang kumpul-kumpul positif bagi anggota Linmas yang sehari-hari sibuk menjaga lingkungan masing-masing.
Baca juga: 70 Pelajar Naik Ring, Tinju Semarang Cari Bibit Baru
Koordinator Rumah Aspirasi Warga, Rahmulyo Adi Wibowo atau akrab disapa RAW mengatakan, kegiatan tersebut sengaja dirancang agar anggota Linmas punya ruang beraktivitas sekaligus merasakan perhatian dari masyarakat.
“Sejatinya kami ingin mengajak mereka berkegiatan. Ada gerak langkah, gerak badan, juga gerak pikiran, sehingga tidak stuck, tidak merasa sendiri, dan tidak merasa capek sendirian. Mereka juga perlu mendapatkan perhatian,” ujarnya.
Antusiasme peserta pun bukan kaleng-kaleng. Sebanyak 12 kelurahan atau seluruh kelurahan yang ada di Kecamatan Pedurungan turut serta. Mereka mengirimkan masing-masing 15 anggota sehingga ada total 180 personel Linmas yang ikut meramaikan kompetisi tersebut.
Meski sebagian peserta tak lagi berusia muda, semangat mengikuti instruksi tetap terjaga. Setiap kelompok berusaha menjaga gerakan tetap seragam, langkah tidak berantakan, dan kekompakan tetap menjadi andalan.
Unsur Kehebohan
Menariknya, lomba ini tak hanya mengandalkan standar PBB pada umumnya. Bhabinkamtibmas Palebon, Aiptu Purnomo menjelaskan, unsur penilaian juga memasukkan kehebohan dan kemeriahan penampilan.
Jadi, peserta bukan cuma dituntut disiplin dan kompak, tetapi juga mampu menghadirkan suasana yang hidup. Barisan boleh serius, tetapi semangat tetap harus terasa.
Panitia juga menyiapkan hadiah uang tunai untuk juara pertama, kedua, ketiga, serta juara harapan. Hadiah tersebut menjadi bonus atas usaha para peserta menampilkan kemampuan terbaiknya.
Namun, bagi RAW, nilai utama kegiatan ini bukan semata-mata soal siapa yang membawa pulang hadiah. Respons positif peserta justru menjadi bukti bahwa kegiatan sederhana bisa menghadirkan kebersamaan dan membuat mereka merasa dihargai.
Baca juga: Nyanyi Dulu, Beban Hidup Belakangan: Puluhan Warga Pedurungan Adu Suara
Dalam kompetisi tersebut, Linmas Kelurahan Tlogomulyo berhasil meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati Linmas Kelurahan Gemah, disusul Pedurungan Lor di peringkat ketiga.
Sementara itu, juara harapan pertama diraih Linmas Plamongansari, juara harapan kedua Linmas Penggaron Kidul, dan juara harapan ketiga Linmas Pedurungan Kidul.
Ajang ini menjadi pengingat bahwa anggota Linmas bukan sekadar sosok yang dipanggil ketika lingkungan membutuhkan pengamanan. Mereka juga bagian dari masyarakat yang perlu mendapat ruang untuk berinteraksi, bergerak, dan menunjukkan potensi.
Sebab, menjaga lingkungan memang butuh kekompakan. Tetapi menjaga semangat orang-orang yang mengabdi juga tak kalah penting. Jangan sampai Linmas baru mendapat tepuk tangan ketika barisannya rapi di lapangan.
Di luar lomba, ketika mereka kembali berjaga dan membantu warga, perhatian serta penghargaan seharusnya tetap berjalan. Sebab, pengabdian tak harus memakai aba-aba agar keberadaannya dianggap berharga. (tebe)

