SEMARANG– Energi anak muda itu memang harus disalurkan. Mau dipendam, bisa meledak. Mau diarahkan, bisa jadi prestasi. Di Kota Semarang, sekitar 70 pelajar memilih naik ring dan adu teknik tinju ketimbang menghabiskan energi untuk hal yang tidak jelas. Mereka mengikuti kejuaraan tinju tingkat pelajar di GOR Satria Udinus, baru-baru ini.
Ajang tersebut digelar Pemkot Semarang melalui Dinas Pemuda Olahraga bersama Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Kota Semarang. Yang menarik, jumlah peserta kali ini melonjak cukup jauh. Pada penyelenggaraan sebelumnya, pesertanya hanya sekitar 30 petinju. Artinya, ring tinju mulai ramai dan yang datang bukan cuma atlet dari sasana.
Ketua Pertina Kota Semarang, Rahmulyo Adiwibowo mengatakan, tingginya minat peserta menunjukkan olahraga tinju mulai mendapat perhatian lebih luas, terutama dari kalangan pelajar.
“Kalau tidak kami batasi, jumlah pendaftar bisa terus bertambah. Selain untuk prestasi dan mencari bibit petinju potensial, ajang ini sekaligus sebagai wadah untuk menyalurkan energi pelajar ke hal positif bagi masa depannya,” kata Rahmulyo.
Baca juga: 7.515 Atlet Pelajar Jateng Turun Gelanggang
Buat Pertina, pertandingan ini bukan cuma perkara menang atau kalah. Ada proses pembibitan yang sedang dimainkan. Salah satu yang cukup menarik adalah kesempatan bagi petinju mandiri yang belum bergabung dengan sasana untuk ikut bertanding.
Mereka diberi ruang untuk menguji kemampuan sekaligus mental ketika berhadapan dengan petinju yang sudah lebih dulu berlatih di sasana. “Yang menarik, ada peserta yang berlatih secara mandiri dan belum bergabung dengan sasana. Mereka kami beri ruang untuk bertanding. Ini penting sebagai bagian dari pembibitan sekaligus mengukur keberanian mereka menghadapi lawan dari sasana,” ujar Rahmulyo yang juga Ketua Fraksi PDIP DPRD Kota Semarang ini.
Dengan begitu, ring bukan cuma tempat mencari pemenang. Ia juga menjadi semacam ruang seleksi awal. Siapa yang punya teknik, siapa yang punya mental, dan siapa yang ternyata punya potensi untuk dikembangkan lebih jauh.
Pria yang akrab disapa RAW ini menilai, olahraga tinju juga bisa menjadi salah satu jalan untuk mengarahkan energi pelajar ke kegiatan yang lebih produktif. Tentu saja, urusan pukul-memukul di atas ring tidak berarti bebas aturan.
Keselamatan tetap menjadi prioritas. Wasit memiliki kewenangan menghentikan pertandingan apabila kondisi salah satu petinju dinilai sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan laga.
Sambut Positif
Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Muhammad Ahsan menyambut positif kejuaraan tersebut. Menurutnya, kompetisi semacam ini bisa menjadi pintu masuk bagi pelajar yang selama ini punya minat atau bakat tinju tetapi belum menemukan wadah untuk mengembangkannya.
“Ini menjadi wadah yang baik bagi pelajar untuk mengembangkan minat dan potensinya. Kami mendukung pembinaan mereka agar setelah mengikuti kejuaraan bisa diarahkan untuk berlatih lebih serius di sasana,” tutur Ahsan.
Sementara itu, Kabid Pembinaan Prestasi Olahraga Dispora Kota Semarang Sugeng Dilianto mengatakan, kejuaraan tersebut merupakan bagian dari pola pembinaan atlet pelajar secara berkelanjutan.
Programnya sebenarnya sudah dimulai dari kegiatan sebelumnya. Saat itu, kegiatan masih berupa ekshibisi. Sebanyak 30 pelajar yang dinilai membutuhkan pembinaan dipilih untuk menjalani latihan selama dua pekan di dua sasana dan hasilnya cukup positif.
Ada perkembangan dari sisi kebugaran hingga mental. Dari pengalaman tersebut, program kemudian dikembangkan menjadi kejuaraan dengan jumlah peserta yang lebih banyak.
Baca juga: Mahasiswi Udinus Semarang Bikin Sejarah Panahan Indonesia, Raih Emas di Asian Games 2026
“Hasil pembinaan waktu itu cukup menggembirakan. Ada perubahan dari sisi kebugaran maupun mental. Dari pengalaman tersebut kemudian kami kembangkan menjadi kejuaraan dengan jumlah peserta yang lebih banyak,” ungkap Sugeng. Menurutnya, kompetisi juga penting untuk memetakan potensi atlet sekaligus membiasakan pelajar dengan atmosfer pertandingan.
Sebab, bakat tanpa pengalaman bertanding kadang cuma menjadi bakat yang tersimpan di lemari. “Dari sini kami berharap muncul petinju-petinju yang bisa dibina secara berjenjang. Setelah dari tingkat pelajar, mereka dapat diarahkan ke Popda, Porprov, PON, bahkan memiliki peluang memperkuat Indonesia di level SEA Games,” katanya.
Dengan peserta yang semakin banyak, Pertina dan Dispora Kota Semarang pun mulai memproyeksikan kejuaraan tersebut menjadi agenda pembinaan rutin. Targetnya bukan cuma menambah koleksi medali.
Lebih jauh, ajang ini diharapkan menjadi tempat membangun mental bertanding sekaligus menyiapkan regenerasi petinju Kota Semarang. Sebab, mencari juara itu satu urusan. Menyiapkan generasi juara berikutnya, ceritanya beda lagi.
Di saat sebagian energi anak muda kadang habis buat ribut di jalan, 70 pelajar ini justru memilih ribut secara resmi. Pakai sarung tinju, ada wasit, ada aturan, bahkan ada peluang dapat medali. Kalau semua “adu kuat” punya ring dan aturan seperti ini, mungkin yang pulang bukan surat panggilan polisi, tapi sertifikat prestasi. (tebe)

