BACAAJA, SEMARANG- Kasus leptospirosis di Kota Semarang ternyata belum bisa dibilang kalem. Dalam tiga tahun terakhir, total 23 warga meninggal dunia akibat penyakit yang dibawa bakteri leptospira ini. Rinciannya, 10 orang meninggal pada 2023, 5 orang di 2024, dan 8 orang sepanjang 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam menyebut, angka kasusnya naik-turun tapi cenderung bikin waswas. Terutama di 2025, saat jumlah kasus melonjak cukup tajam. “Kalau dilihat, 2023 ada 38 kasus, 2024 turun jadi 32 kasus, tapi 2025 malah naik ke 59 kasus. Dan perlu dicatat, lepto ini penyakit akibat bakteri, bukan virus,” kata Hakam, Senin (9/2/2026).
Baca juga: Superflu Lagi Ramai, Dinkes: Semarang Masih Nihil Kasus
Menurutnya, bakteri leptospira termasuk “sat set” berkembang di tubuh manusia. Sekali masuk, infeksinya bisa cepat dan berbahaya karena bisa menyerang organ vital. Nggak heran kalau penyakit ini punya tingkat kematian yang cukup tinggi.
Masalah klasik pun kembali disebut: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang masih rendah dan minimnya kepedulian warga soal kebersihan lingkungan. Mayoritas kasus leptospirosis di Semarang banyak ditemukan di kawasan permukiman padat yang punya PR besar soal sanitasi.
Gerakkan OTT
“Mulai akhir 2025 kemarin sudah ada gerakan OTT, Operasi Tangkap Tikus. Semakin banyak tikus yang ditangkap, potensi penularan ke manusia bisa ditekan,” jelas Hakam. Penanganan leptospirosis di Semarang kini meniru jurus lawas demam berdarah: fokus ke sumber penularan.
Artinya, perang terbuka ke tikus-tikus yang berkeliaran di lingkungan warga. Targetnya nggak main-main. Di kelurahan yang masuk kategori rentan, warga didorong bisa menangkap 50 sampai 100 ekor tikus. Setelah itu, petugas puskesmas bakal turun tangan ngajarin cara penanganan lanjutan biar aman.
Jadi kalau selama ini Semarang dikenal dengan lumpia dan Lawang Sewu, jangan sampai bonus citranya nambah satu lagi: kota ramah tikus. Soalnya kalau tikus masih betah, bakteri pun ikut betah dan manusia lagi-lagi yang harus waspada. (tebe)


