BACAAJA, SEMARANG — Kalau manusia punya Lebaran, kera di Gua Kreo juga nggak mau ketinggalan. Sabtu (28/3/2026), kawasan Gua Kreo, Semarang, berubah jadi “venue pesta” buat ratusan kera lewat tradisi tahunan Sesaji Rewanda.
Ya, ini bukan sekadar acara wisata biasa. Ini tradisi turun-temurun yang masih dijaga warga, sekaligus jadi momen unik: kera-kera literally diajak “pesta” hasil bumi.
Sejak pagi, vibes sudah terasa. Warga Kampung Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, menggelar kirab budaya dengan membawa tujuh gunungan hasil bumi.
Bacaaja: Dari Panggung ke Kera: Cara Semarang Bikin Tradisi Tetap ‘Hidup’
Bacaaja: Kota Lama Semarang Moncer, Kunjungan Wisatawan Naik 24,7 Persen saat Lebaran
Isinya? Komplit banget:
- buah-buahan
- sayur-mayur
- ketupat
- sampai “sego kethek”
Nggak cuma itu, ada juga replika kayu jati yang diarak. Ini bukan properti random, tapi simbol perjalanan Sunan Kalijaga saat membawa kayu dari Gua Kreo untuk membangun Masjid Agung Demak.
Setelah kirab sampai lokasi, doa dipanjatkan. Baru deh sesi yang ditunggu-tunggu: kera-kera turun gunung dan pesta dimulai
Bagian dari Sejarah

Menurut Ketua Pengelola Desa Wisata Kandri, Saiful Ansori, kera di Gua Kreo bukan dianggap hama.
“Monyet-monyet ini konon membantu Sunan Kalijaga,” katanya.
Makanya, warga punya “kode etik tak tertulis”:
- nggak boleh menangkap
- nggak boleh menyakiti
Mereka hidup berdampingan dengan kera sebagai bagian dari warisan budaya. Sesaji Rewanda jadi bagian dari tradisi Syawalan masyarakat Semarang. Intinya:
- bentuk syukur
- menjaga harmoni manusia & alam
- merawat warisan leluhur
Jadi bukan cuma soal ritual, tapi juga soal keseimbangan hidup.
Pertunjukan Kolosal “Mahakarya Gua Kreo”
Fun fact: sehari sebelum puncak acara, digelar pertunjukan kolosal “Mahakarya Gua Kreo”.
Lebih dari 150 penari dan pemusik tampil. Jadi ini bukan event kecil, tapi paket lengkap: budaya, sejarah, dan hiburan jadi satu.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, bilang kalau semua rangkaian acara ini memang dirancang nyambung.
Mulai dari pertunjukan seni sampai ritual Sesaji Rewanda, semuanya jadi cara buat “menghidupkan lagi” cerita Sunan Kalijaga sekaligus nilai gotong royong.
Di Gua Kreo, wisata bukan cuma soal view. Pengunjung juga bisa ngerasain langsung tradisi yang masih hidup.
Kera-kera di sini bukan cuma bagian ekosistem, tapi juga identitas budaya. Dan interaksi manusia, satwa yang tetap harmonis ini jadi daya tarik yang nggak semua tempat punya.
Intinya, sesaji Rewanda bukan cuma soal “ngasih makan monyet”. Ini tentang sejarah, kepercayaan, dan cara manusia hidup berdampingan dengan alam. (*)


