LANGIT mendung bukan tanda sial bagi Lek Joko. Justru di situlah rezeki datang. Saat orang lain panik menutup tenda, ia tenang menatap awan.
Setiap kali ada acara besar di Semarang, namanya sering disebut. Dari pesta pernikahan, konser musik, sampai acara pemerintahan. Semua berharap langit tetap cerah di tangan pria itu.
Lek Joko bukan sekadar pawang hujan. Ia lebih suka disebut “penggeser angin.” Katanya, tugasnya bukan menolak hujan, tapi memindahkannya ke tempat lain.
Baginya, pekerjaan sebagai pawang hujan bukan hal luar biasa. Ia sudah melakoni profesi ini sejak tahun 2005, menjaga langit agar tetap bersahabat di tengah pesta, konser, hingga proyek besar.
Warisan dari Kakek
Cerita Joko dimulai dari masa kecilnya di Solo. Saat teman sebayanya bermain di sawah, Joko lebih suka duduk di serambi rumah, memperhatikan kakeknya berdiri di tengah hujan.
Dia melihat sendiri bagaimana kakeknya bekerja sama dengan alam. Saat hujan lebat disertai petir, kakeknya membaca mantra dan azan. Sesaat setelah itu hujan pun reda.
Dari situlah benih ilmu itu tumbuh. Tak ada sekolahnya, tak ada buku panduan. Ia belajar langsung dari pengalaman dan dari kakek yang sudah lebih dulu dikenal sebagai pawang hujan kampung.
Dari cucu-cucunya, cuma Joko kecil yang dipilih sebagai pewaris. Pewaris ilmu pawang hujan. Dia memang punya kedekatan khusus dengan kakeknya.
Geser Angin, Bukan Melawan Langit
Lek Joko tak mau disebut orang sakti. Yang ia lakukan bukan mencegah hujan turun dengan melawan kehendak alam. Katanya, ia hanya menggeser angin.
“Kita enggak bisa nolak hujan. Wong itu dari Yang di Atas. Kita cuma bisa menggeser lewat angin,” ucapnya saat menjadi narasumber Podcast Kerjo Aneh-Aneh bersama host Lek Slam di YouTube Bacaajadotco.
Namun sebelum bekerja, selalu ada ritual. Malam hari, ia menyalakan dupa, membaca doa dalam bahasa Arab, dan memohon izin pada Yang Maha Kuasa agar langit bersahabat.
Baginya, ritual bukan soal mistik, tapi soal menghormati alam. Ia hanya menjadi perantara, bukan pengendali.
Dari Konser Musik ke Pembangunan Stadion
Nama Lek Joko sudah lama dikenal di kalangan event organizer (EO) Semarang. Hampir setiap konser besar di kota ini pernah menggunakan jasanya. Dari panggung Via Vallen, Wali Band, hingga roadshow besar rokok Apache.
“EO Bandung juga sering pakai saya. Waktu itu keliling Indonesia, dari 2015 sampai 2017,” ujarnya.
Tapi jasanya tak hanya dipakai di dunia hiburan. Ia juga dipercaya dalam proyek-proyek pembangunan besar. “Pernah dipakai di Jambi, terus di Mamuju. Karena waktu ngecor gedung, enggak boleh hujan,” katanya.
Semua berawal dari keberhasilannya menjaga cuaca saat pembangunan stadion di Jepara. “Waktu itu sukses, makanya saya dibawa lagi ke proyek lain. Dari situ kepercayaan datang terus,” ujarnya.
Rezeki di Balik Mendung
Bagi Lek Joko, awan mendung bukan pertanda buruk. Justru di situlah rezeki datang.
Tarifnya tak berubah sejak lama: sekitar Rp1,5 juta untuk satu event. Kalau di luar kota atau butuh berhari-hari, tentu lain cerita.
“Yang penting, ritualnya sama. Enggak ada setengah hari, enggak ada dua jam doang. Semua sama,” katanya tegas.
Tapi di balik profesinya, Lek Joko memegang teguh etika. Ia tak mau disewa untuk tujuan buruk. “Saya disalahi sering, tapi nyalahi orang enggak pernah,” tegasnya.
Pantangan dari Kakek
Dari sang kakek pula, ia mendapat pesan yang selalu diingat sampai sekarang. Pantangannya cuma satu: jangan ganggu istri orang. Kalau dilanggar, ilmunya bisa hilang sendiri.
Pesan itu terdengar sederhana, tapi bagi Lek Joko, itu dasar moral dari semua yang ia kerjakan.
“Mau mabuk, mau judi, enggak papa. Tapi jangan itu. Itu yang bikin semua berantakan,” katanya setengah bercanda.
Etika Langit dan Kompetisi Hujan
Dunia pawang hujan ternyata tak selalu damai. Pernah, ia merasa “diserang” pawang lain saat mengawal konser di Subang.
“Di sebelah acara saya ada kesenian tradisional juga pakai pawang. Dia nembak awan, saya ikut kena. Hujan turun,” ujarnya. Untungnya bisa tetap ia kendalikan setelah 15 menit.
Lek Joko menyebut peristiwa itu sebagai risiko pekerjaan. Kadang radiusnya saling bertabrakan.
Single Fighter Penjaga Langit
Meski namanya dikenal, ia tak tergabung dalam komunitas apa pun. “Enggak ada perkumpulan pawang di Semarang. Saya sendiri aja. Single fighter,” ujarnya bangga.
Baginya, semua cukup dijalani dengan keyakinan. Ia tak merasa perlu menonjolkan diri. “Saya enggak pernah bilang pawang hujan kalau ditanya orang. Bilangnya serabutan aja,” katanya.
Bagi sebagian orang, pekerjaannya aneh. Tapi bagi Lek Joko, inilah jalan hidup. Ia tak menguasai langit, hanya menjaganya agar tak muram terlalu lama. (bae/*)

