BACAAJA, JAKARTA- Ketua Bidang Politik PDI Perjuangan, Puan Maharani, ngasih bekal langsung ke ribuan kader soal gimana caranya jadi partai penyeimbang yang nggak asal nyerang. Intinya simpel tapi berat: kritis, cerdas, solutif, dan tetap berpihak ke rakyat.
Pesan itu disampaikan Puan dalam materi “Kebijakan dan Strategi Politik Partai Penyeimbang” di Rakernas I sekaligus perayaan HUT ke-53 PDIP di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (11/1/2026).
Menurut Puan, kritis itu bukan berarti hobi nyalahin. Kritis harus pakai analisis tajam, berbasis aturan, data, dan fokus ke substansi, bukan serangan personal. “Kita juga harus objektif. Jangan-jangan masalah hari ini juga ada andil kekuasaan kita di masa lalu. Jadi kritik itu harus bijaksana,” ujar Puan.
Ketua DPR perempuan pertama ini menegaskan, sikap kritis juga bukan berarti auto nolak kebijakan pemerintah. Kalau bagus, ya didukung. Kalau kurang, dikoreksi dan disempurnakan.
Baca juga: Megawati Hadiri Rakernas Hari Kedua
Masuk ke poin kedua, Puan menyebut kecerdasan politik itu soal strategi, bukan emosi. Bukan adu teriak, apalagi konfrontasi tanpa arah. “Kecerdasan itu membaca situasi, memilih strategi, dan konsisten menjaga tujuan. Tekanan bisa jadi peluang, perbedaan bisa jadi penyeimbang,” jelasnya.
Puan lalu mencontohkan kondisi di DPR RI. Saat ini, Fraksi PDIP hanya satu berhadapan dengan tujuh fraksi lain. Tanpa PDIP pun, rapat tetap bisa jalan. “Di situ kita harus cerdas menjaga posisi agar tetap diperhitungkan,” katanya.
Partai Penyeimbang
Sebagai partai penyeimbang, Puan menekankan kader PDIP jangan berhenti di kritik. Harus ada solusi. “Jangan mengkritik kalau nggak punya solusi. Kita pernah jadi partai pemerintah, kita tahu ribetnya bikin kebijakan,” ujarnya.
Pengalaman itu, kata Puan, bikin PDIP bukan cuma punya hak mengkritik, tapi juga kewajiban menawarkan alternatif. Tujuannya satu: pembangunan tetap jalan dan kesejahteraan rakyat nggak mundur.
Puan juga mengingatkan, meski PDIP kini di luar pemerintahan, bukan berarti boleh cuek atau membiarkan arah pembangunan melenceng demi kepentingan politik jangka pendek.
“Perbedaan posisi politik tidak menghapus tanggung jawab moral dan kebangsaan,” tegasnya. Menurut Puan, peran penyeimbang cuma punya makna kalau benar-benar berpijak pada kepentingan rakyat.
Baca juga: Ganjar Tegesin PDIP Tolak Keras Pilkada Lewat DPRD: Sudah Benar Pilih Langsung Aja!
Kalau tidak, partai bisa sibuk sendiri, ribut internal, tapi jauh dari masalah nyata masyarakat. Karena itu, saat rakyat menghadapi persoalan, kader PDIP diminta fokus ke solusi, bukan sekadar ribut di ruang publik.
“Supaya kita nggak sibuk berbunyi, tapi benar-benar bekerja,” ujarnya. Puan mencontohkan aksi PDIP membantu korban bencana di Sumatera. Saat itu, kader langsung turun tangan. “Kata Ibu Ketua Umum, membantu korban bencana itu urusan kemanusiaan, bukan urusan politik,” tegas cucu Bung Karno ini.
Kritik tanpa solusi cuma bikin bising. Kata Puan, politik nggak butuh pengeras suara, yang dibutuhkan rakyat itu jalan keluar. (tebe)


