BACAAJA, JAKARTA – Suasana sidang kasus teror penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus di Pengadilan Militer II-08 Jakarta mendadak terasa berat saat dokter spesialis mata dari RSCM membeberkan kondisi terbaru mata kanan korban. Dalam keterangannya, dokter menyebut kerusakan yang dialami Andrie masuk kategori parah dan sudah berada di level grade 3 dari skala maksimal 4.
Dokter spesialis mata, dr. Faraby Martha, menjelaskan kondisi tersebut ketika hadir sebagai saksi ahli dalam sidang yang menghadirkan empat terdakwa kasus penyiraman air keras. Penjelasan medis yang disampaikan di ruang sidang membuat suasana sempat hening karena tingkat kerusakan mata korban disebut sudah sangat serius.
Faraby mengatakan trauma kimia yang dialami mata kanan Andrie bukan kategori ringan. Menurutnya, dalam dunia medis, grade 4 merupakan kondisi paling berat, sementara kondisi korban sudah berada satu tingkat di bawah level tertinggi tersebut.
“Saya tidak bisa mengkorelasikan kejadian dengan tingkat keparahan. Cuma yang saya tahu keparahan itu grade 3 dari 4,” ujar Faraby di hadapan majelis sidang.
Pernyataan itu kemudian dipertegas lagi saat oditur militer menanyakan langsung apakah kondisi Andrie memang sudah berada pada level yang mengkhawatirkan. Faraby tanpa ragu membenarkan bahwa kerusakan yang dialami korban tergolong parah.
“Iya, grade 4 yang paling parah,” jawab Faraby saat ditanya kembali oleh Oditur Militer Mayor Chk Wasinton Marpaung.
Meski begitu, dokter mengaku belum bisa memastikan apakah tingkat kerusakan tersebut disebabkan oleh percikan atau karena siraman air keras dalam jumlah besar. Menurutnya, fokus tim medis saat ini lebih tertuju pada upaya penyelamatan kondisi mata korban dibanding menelusuri pola serangannya.
Hal yang paling membuat ruang sidang terasa mencekam adalah saat dokter menyebut luka pada mata Andrie bersifat permanen. Jawaban singkat itu langsung menarik perhatian semua pihak yang hadir dalam persidangan.
“Permanen,” kata Faraby saat ditanya apakah kerusakan pada mata korban akan menetap.
Walau begitu, tim dokter disebut masih terus berusaha mempertahankan bentuk bola mata korban agar tidak mengalami kerusakan lebih jauh. Menurut Faraby, saat ini target utama pengobatan adalah menjaga struktur anatomi mata tetap utuh.
Dokter menjelaskan kondisi bola mata Andrie sekarang masih dipertahankan agar tidak rusak total. Tim medis berusaha memastikan mata korban tetap dalam kondisi stabil meski fungsi penglihatannya mengalami penurunan drastis.
Faraby juga mengatakan kondisi penglihatan Andrie masih akan terus diperiksa secara rutin. Tim dokter belum bisa memastikan apakah mata kanan korban nantinya masih bisa memiliki fungsi penglihatan yang lebih baik atau justru mengalami penurunan permanen total.
“Itu akan dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan klinis pasien,” tutur Faraby di persidangan.
Perawatan yang dijalani Andrie pun ternyata tidak sederhana. Sejak dilarikan ke RSCM pada 13 Maret 2026 lalu, ia sudah beberapa kali menjalani tindakan operasi demi menyelamatkan kondisi matanya yang rusak akibat cairan kimia berbahaya tersebut.
Dalam keterangannya, Faraby menjelaskan bagian kornea mata korban kini bahkan sudah ditutup menggunakan lapisan selaput tulang. Langkah itu dilakukan demi menjaga kondisi bola mata agar tidak jebol akibat kerusakan yang sangat berat.
“Supaya matanya itu tidak jebol, kuman dari luar tidak masuk dan air dari dalam bola mata tidak keluar,” jelas Faraby.
Namun tindakan medis tersebut berdampak besar terhadap kemampuan penglihatan Andrie. Karena bagian mata sudah ditutup permanen, fungsi penglihatannya nyaris hilang total pada sisi kanan.
Dokter menjelaskan saat ini Andrie hanya mampu melihat cahaya menggunakan mata kanannya. Bagian hitam pada mata disebut sudah tidak terlihat lagi karena area tersebut kini tertutup jaringan berwarna merah akibat proses medis yang dilakukan.
“Hanya bisa melihat cahaya. Ditutup secara permanen,” kata Faraby.
Tidak hanya mata, kondisi tubuh Andrie juga mengalami luka serius di sejumlah bagian. Dokter lain yang turut hadir sebagai saksi ahli, dr. Parintosa, menjelaskan korban mengalami luka bakar cukup luas ketika pertama kali tiba di IGD RSCM.
Bagian tubuh yang terdampak meliputi wajah sebelah kanan, leher, sebagian dada, mayoritas lengan kanan, hingga sebagian lengan kiri. Tim medis menemukan tingkat keasaman cairan yang mengenai tubuh korban berada pada pH 3, jauh di bawah kondisi normal tubuh manusia.
Karena itu, tim medis langsung melakukan pencucian intensif untuk menetralkan zat kimia yang menempel di tubuh korban. Penanganan cepat dilakukan agar kerusakan jaringan tidak semakin meluas ke bagian tubuh lainnya.
Selain pengobatan mata, Andrie juga menjalani operasi pencangkokan kulit untuk menutup area tubuh yang mengalami luka bakar akibat air keras. Menurut dokter, sebagian besar luka kini sudah berhasil ditutup menggunakan jaringan kulit lain.
“Sudah 98 persen kulit yang terbakar telah ditutup,” ujar Parintosa dalam keterangannya.
Meski perkembangan pengobatan disebut cukup baik, proses pemulihan korban diperkirakan masih sangat panjang. Dokter menyebut penyembuhan luka bakar berat seperti yang dialami Andrie bisa memakan waktu satu hingga dua tahun.
Bahkan menurut penjelasan medis di persidangan, hasil pemulihan luka bakar biasanya tidak bisa kembali sepenuhnya seperti kondisi awal. Dalam banyak kasus, tingkat pemulihan maksimal berada di kisaran 80 persen dari kondisi normal sebelumnya.
Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie sendiri terus menjadi sorotan publik karena menyasar seorang aktivis HAM dan meninggalkan dampak fisik yang sangat serius. Kesaksian para dokter di persidangan makin memperlihatkan betapa berat luka yang harus ditanggung korban hingga sekarang. (*)

