Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Koh Aming Jadi Jembatan Teman-teman Tuli ‘Mendengar’
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Kerjo Aneh-aneh

Koh Aming Jadi Jembatan Teman-teman Tuli ‘Mendengar’

R. Izra
Last updated: November 24, 2025 11:29 am
By R. Izra
5 Min Read
Share
SHARE

Sosok sederhana, Koh Aming, punya peran tak sederhana agar teman-teman tuli ‘bisa mendengar’ apa yang mereka lihat.

KOH Aming punya profesi yang jarang ditemui. Dia juru bahasa isyarat untuk teman-teman Tuli.

Di saat yang lain riuh bersuara, Koh Aming sibuk nggerakin tangan. Gerakannya lincah, udah nyatu dengan dirinya. Ia berbicara tanpa suara, jadi jembatan teman-teman Tuli mendengar.

Koh Aming yang punya nama lengkap Stevanus Ming itu emang punya kerjaan unik. Dia jadi juru bahasa isyarat. Tak banyak yang menggeluti kerjaan sepertinya.

Bacaaja: Mas Septa Penjaga Kenangan Masa Kecil: Koleksi Ribuan Item Mainan Jadul dari Lorong Waktu

Bacaaja: Om Shinjo, Badut Semarang yang Hidup dari Tawa Anak

Koh Aming mengaku belajar langsung dari komunitas Tuli. Dia hire teman-teman Tuli dan minta mereka ngajari dia pelan-pelan.

“Daya belajar sama teman-teman Tuli langsung,” katanya dalam Podcast Kerjo Aneh-Aneh yang tayang di kanal YouTube Bacaajadotco.

Dari situ dia tahu kalau bahasa isyarat itu punya pakem. Bukan cuma gerak tangan sembarangan.

Awal-awal dia grogi banget. Tangannya kaku, mulut senyum-senyum sendiri saking gugupnya. Dia cuma bisa abjad dan belum paham isyarat untuk kalimat panjang, apalagi isyarat saat ada pidato.

Perjalanan dari Nol

Dia mulai belajar bahasa isyarat tahun 2016. Terus pelan-pelan ikut bantu teman-teman Tuli mulai 2018. Sampai sekarang pun dia ngaku masih belajar.

Menurutnya, dunia disabilitas berkembang terus. Kebutuhan teman Tuli juga selalu berubah. Jadi dia ngerasa harus terus adaptasi.

Awalnya, dia sama sekali nggak punya rencana masuk ke dunia disabilitas. Dulu waktu kuliah, dia lagi LDR dan hubungannya nggak direstui. Dia pasrah dan berdoa, siap dikasih jodoh seperti apa pun.

“Doanya dijawab, saya dapat istri disabilitas tuli,” katanya sambil ketawa kecil.

Dari situ dia merasa punya panggilan. Janji yang dulu ia ucapkan akhirnya dia wujudkan lewat kerja nyata.

Tidak Semua Teman Tuli Bisa Isyarat

Dia bilang, banyak orang nggak tahu kalau ada teman Tuli yang nggak bisa bahasa isyarat maupun bahasa Indonesia. Alasannya macam-macam. Salah satunya karena dulu keluarga menganggap “cacat” itu aib.

Anak Tuli sering dilarang keluar rumah. Nggak boleh bersosialisasi. Jadi mereka tumbuh tanpa akses ke bahasa atau dunia luar.

Begitu dewasa, mereka harus keluar rumah dan akhirnya kaget. Dunia luar terasa asing banget. Dan itu bukan salah mereka, tapi karena mereka tidak diberi kesempatan.

Koh Aming bilang komunikasi dengan teman Tuli jangan panjang-panjang. Bikin kalimat singkat. Misalnya “Nama siapa?” bukan “Kamu boleh tolong kasih tahu saya siapa namamu?”

Teman Tuli kadang menangkap bagian awal saja atau akhir saja. Tengahnya bisa hilang. Jadi lebih baik dipersingkat. Yang penting jelas.

Mimik itu vital. Gerak bibir itu wajib. Tapi jangan bersuara keras-keras. Nggak perlu teriak.

Dia cerita istrinya pernah ditilang polisi di Surabaya. Polisi kumisan tebal, bibirnya nggak kelihatan. Istrinya melotot berusaha baca gerak bibir. Polisi malah marah, mengira dilototin.

Untung ada teman dengar yang menjelaskan. Barulah polisinya paham.

Belajar Isyarat dengan Etika

Koh Aming juga cerita soal etika. Banyak orang minta diajari isyarat seenaknya. Tapi dia bilang, orang dengar nggak bisa sembarangan mengajarkan bahasa isyarat.

Dia pernah belajar dari temannya orang Ambon. Mereka bilang, “Kalau pakai bahasa kami, jangan sembarangan, itu menghina budaya kami.” Sejak itu dia sadar bahasa adalah identitas.

Bahasa isyarat juga begitu. Itu budaya teman-teman Tuli. Kalau orang dengar mengajarkan seenaknya, itu seperti merebut hak mereka.

Dia heran kenapa orang Indonesia sering cuek soal bahasa sendiri. Padahal bahasa itu identitas. Dan buat komunitas Tuli, bahasa isyarat adalah rumah mereka.

Makanya dia selalu bilang, belajar boleh, tapi belajarlah dari sumber yang berhak. Dari komunitasnya. Dari teman-teman Tuli.

Dan kalau tidak tahu, ya tanya. Sama seperti kita akan marah kalau rumah kita dimasuki orang tanpa izin. Begitu juga bahasa.

Menjadi Jembatan, Bukan Mengambil Peran

Koh Aming menjalani perannya dengan rendah hati. Dia sadar posisinya hanya sebagai jembatan, bukan pemilik bahasa. Karena bahasa isyarat milik komunitas Tuli.

Yang dia lakukan adalah membuka jalan. Memberi ruang. Dan memastikan suara teman-teman Tuli tetap dihormati, meski disampaikan lewat tangan dan mimik.

Buat banyak orang, dia cuma interpreter. Tapi buat teman Tuli, dia teman yang menjaga pintu komunikasi tetap terbuka. Dengan cara yang hangat, wajar, dan penuh hormat. (bae)

You Might Also Like

Kerja Fleksibel agar Hidup Tetap Jalan: Cara Mbak Dwi Bertahan setelah Ditinggal Suami

Dari Jasa Bersih-bersih Lewat Aplikasi, Mbak Dwi Punya Segudang Cerita

Langit Tak Selalu Muram di Tangan Lek Joko Sang Pawang Hujan

Om Shinjo, Badut Semarang yang Hidup dari Tawa Anak

Cerita Eldea si Pawang Anjing Pelacak Bea Cukai yang Ditakuti Bandar Narkoba

TAGGED:bahasa isyaratkerjo aneh anehkoh aming
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Polisi lakukan olah TKP kematian dosen muda Untag Semarang, di kostel Mimpi In. Kasus Kematian Dosen Untag Banyak Kejanggalan, Ini Kata Petir
Next Article Ilustrasi TKI. Derita Warga Temanggung, 20 Tahun Kerja di Malaysia Gak Digaji

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Mohammad Saleh: BUMD Jangan Cuma Numpang Nama, Saatnya Fokus Nambah PAD

Kolaborasi Riset: Dari Sampah Jadi Energi, Dari Beasiswa Jadi Solusi

Jepara Diterjang Longsor (Lagi): Akses Damarwulan-Tempur Putus Total

Gedung Sekolah Jadi ‘Mesin Uang’? Cara Jateng Bikin Aset Jadi Sumber Cuan

Kota Lama Semarang Moncer, Kunjungan Wisatawan Naik 24,7 Persen saat Lebaran

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Mas Septa, sang penjaga mimpi masa kecil dengan aneka mainan jadul, menunjukkan ribuan koleksi di Nostalgia Gallery.
Kerjo Aneh-aneh

Mas Septa Penjaga Kenangan Masa Kecil: Koleksi Ribuan Item Mainan Jadul dari ‘Lorong Waktu’

Oktober 11, 2025
Mbak Putri, sarja hukum yang milih jadi tukang jamu.
Kerjo Aneh-aneh

Kerjo Aneh-aneh: Bakul Jamu Unik, Jualan Sambil Nyanyi dan Live TikTok

Oktober 14, 2025
Penyedia jasa bersih-bersih rumah via aplikasi 'rewangono', Dwi Wulandari, punya segudang cerita.
Kerjo Aneh-aneh

Cerita dari Semarang: ketika Sapu Migarasi ke Smartphone, Jasa Bersih-bersih go Digital

Januari 13, 2026
Kerjo Aneh-aneh

Cerita Ayu dan Ana Merias Mereka yang Tak Lagi Bernapas

Oktober 12, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Koh Aming Jadi Jembatan Teman-teman Tuli ‘Mendengar’
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?