Sosok sederhana, Koh Aming, punya peran tak sederhana agar teman-teman tuli ‘bisa mendengar’ apa yang mereka lihat.
KOH Aming punya profesi yang jarang ditemui. Dia juru bahasa isyarat untuk teman-teman Tuli.
Di saat yang lain riuh bersuara, Koh Aming sibuk nggerakin tangan. Gerakannya lincah, udah nyatu dengan dirinya. Ia berbicara tanpa suara, jadi jembatan teman-teman Tuli mendengar.
Koh Aming yang punya nama lengkap Stevanus Ming itu emang punya kerjaan unik. Dia jadi juru bahasa isyarat. Tak banyak yang menggeluti kerjaan sepertinya.
Bacaaja: Mas Septa Penjaga Kenangan Masa Kecil: Koleksi Ribuan Item Mainan Jadul dari Lorong Waktu
Bacaaja: Om Shinjo, Badut Semarang yang Hidup dari Tawa Anak
Koh Aming mengaku belajar langsung dari komunitas Tuli. Dia hire teman-teman Tuli dan minta mereka ngajari dia pelan-pelan.
“Daya belajar sama teman-teman Tuli langsung,” katanya dalam Podcast Kerjo Aneh-Aneh yang tayang di kanal YouTube Bacaajadotco.
Dari situ dia tahu kalau bahasa isyarat itu punya pakem. Bukan cuma gerak tangan sembarangan.
Awal-awal dia grogi banget. Tangannya kaku, mulut senyum-senyum sendiri saking gugupnya. Dia cuma bisa abjad dan belum paham isyarat untuk kalimat panjang, apalagi isyarat saat ada pidato.
Perjalanan dari Nol
Dia mulai belajar bahasa isyarat tahun 2016. Terus pelan-pelan ikut bantu teman-teman Tuli mulai 2018. Sampai sekarang pun dia ngaku masih belajar.
Menurutnya, dunia disabilitas berkembang terus. Kebutuhan teman Tuli juga selalu berubah. Jadi dia ngerasa harus terus adaptasi.
Awalnya, dia sama sekali nggak punya rencana masuk ke dunia disabilitas. Dulu waktu kuliah, dia lagi LDR dan hubungannya nggak direstui. Dia pasrah dan berdoa, siap dikasih jodoh seperti apa pun.
“Doanya dijawab, saya dapat istri disabilitas tuli,” katanya sambil ketawa kecil.
Dari situ dia merasa punya panggilan. Janji yang dulu ia ucapkan akhirnya dia wujudkan lewat kerja nyata.
Tidak Semua Teman Tuli Bisa Isyarat
Dia bilang, banyak orang nggak tahu kalau ada teman Tuli yang nggak bisa bahasa isyarat maupun bahasa Indonesia. Alasannya macam-macam. Salah satunya karena dulu keluarga menganggap “cacat” itu aib.
Anak Tuli sering dilarang keluar rumah. Nggak boleh bersosialisasi. Jadi mereka tumbuh tanpa akses ke bahasa atau dunia luar.
Begitu dewasa, mereka harus keluar rumah dan akhirnya kaget. Dunia luar terasa asing banget. Dan itu bukan salah mereka, tapi karena mereka tidak diberi kesempatan.
Koh Aming bilang komunikasi dengan teman Tuli jangan panjang-panjang. Bikin kalimat singkat. Misalnya “Nama siapa?” bukan “Kamu boleh tolong kasih tahu saya siapa namamu?”
Teman Tuli kadang menangkap bagian awal saja atau akhir saja. Tengahnya bisa hilang. Jadi lebih baik dipersingkat. Yang penting jelas.
Mimik itu vital. Gerak bibir itu wajib. Tapi jangan bersuara keras-keras. Nggak perlu teriak.
Dia cerita istrinya pernah ditilang polisi di Surabaya. Polisi kumisan tebal, bibirnya nggak kelihatan. Istrinya melotot berusaha baca gerak bibir. Polisi malah marah, mengira dilototin.
Untung ada teman dengar yang menjelaskan. Barulah polisinya paham.
Belajar Isyarat dengan Etika
Koh Aming juga cerita soal etika. Banyak orang minta diajari isyarat seenaknya. Tapi dia bilang, orang dengar nggak bisa sembarangan mengajarkan bahasa isyarat.
Dia pernah belajar dari temannya orang Ambon. Mereka bilang, “Kalau pakai bahasa kami, jangan sembarangan, itu menghina budaya kami.” Sejak itu dia sadar bahasa adalah identitas.
Bahasa isyarat juga begitu. Itu budaya teman-teman Tuli. Kalau orang dengar mengajarkan seenaknya, itu seperti merebut hak mereka.
Dia heran kenapa orang Indonesia sering cuek soal bahasa sendiri. Padahal bahasa itu identitas. Dan buat komunitas Tuli, bahasa isyarat adalah rumah mereka.
Makanya dia selalu bilang, belajar boleh, tapi belajarlah dari sumber yang berhak. Dari komunitasnya. Dari teman-teman Tuli.
Dan kalau tidak tahu, ya tanya. Sama seperti kita akan marah kalau rumah kita dimasuki orang tanpa izin. Begitu juga bahasa.
Menjadi Jembatan, Bukan Mengambil Peran
Koh Aming menjalani perannya dengan rendah hati. Dia sadar posisinya hanya sebagai jembatan, bukan pemilik bahasa. Karena bahasa isyarat milik komunitas Tuli.
Yang dia lakukan adalah membuka jalan. Memberi ruang. Dan memastikan suara teman-teman Tuli tetap dihormati, meski disampaikan lewat tangan dan mimik.
Buat banyak orang, dia cuma interpreter. Tapi buat teman Tuli, dia teman yang menjaga pintu komunikasi tetap terbuka. Dengan cara yang hangat, wajar, dan penuh hormat. (bae)

