BANTAL bergambar meong itu menyimpan sejuta kisah. Nasib puluhan kucing terlantar ada di tangan Winika Desiana atau akrab disapa Dina (53) -perempuan yang membuat bantal-bantal bergambar meong itu.
Bantal-bantal bergambar hewan yang dibuat Dina bukan sekadar penghias rumah. Dari setiap bantal yang terjual, ada bagian yang disisihkan untuk menghidupi puluhan kucing terlantar yang ia rawat.
Perempuan asal Gunungpati, Semarang, itu mulai menyelamatkan kucing sejak 2017. Kala itu, ia menemukan seekor induk bersama lima anak kucing yang dibuang di depan rumahnya di kawasan Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Bacaaja: Kucing Kecil Nempel Terus, Ternyata Ada Alasan Ini
Bacaaja: Kucing Bikin Mandul dan Keguguran? Begini Fakta Ilmiahnya, Bukan Sekadar Mitos
Sejak kejadian tersebut, Dina terus melakukan rescue kepada sejumlah kucing terlantar atau kucing jalanan. Kini sekitar 30 kucing tinggal dan dirawat di rumahnya, sementara puluhan lainnya ia temui di jalan dan rutin diberi makan.
“Awalnya melihat ada indukan dengan lima anak kucingnya itu dibuang di depan rumah. Saya kasihan terus saya ambil, saya rescue,” ujar Dina saat ditemui, Minggu (27/9/2026).
Merawat puluhan kucing tentu membutuhkan biaya tidak sedikit. Untuk pakan saja, Dina menghabiskan sekitar Rp860 ribu per bulan untuk dua karung, belum termasuk vitamin dan kebutuhan pengobatan.
Agar tak terus bergantung pada bantuan orang lain, Dina memanfaatkan keahliannya di bidang kerajinan tangan. Ia membuat bantal karakter berukuran 45×45 sentimeter yang dijual sekitar Rp100 ribu.
Sekitar 50 persen keuntungan penjualan bantal tersebut ia sisihkan untuk membeli pakan dan membiayai kebutuhan kucing-kucing rescue.
“Saya usahakan dari sini ada budget sekian persen, sekitar 50 persen dari keuntungan itu untuk beli pakan untuk shelter dan kucing-kucing di luar,” katanya.
Perjalanan Dina merawat kucing juga tak selalu mulus. Serangan penyakit seperti panleukopenia pernah membuat sejumlah anak kucing yang diasuhnya mati.
Menurutnya, persoalan lain yang cukup berat adalah biaya vaksinasi dan sterilisasi. Ia berharap pemerintah ikut membuka akses sterilisasi gratis atau bersubsidi untuk membantu mengendalikan populasi kucing liar di Semarang.
Di tengah rasa lelah yang sesekali muncul, Dina memilih terus bergerak. Baginya, usaha kecil yang ia jalankan bukan hanya soal menjual kerajinan, tetapi juga cara untuk memastikan kucing-kucing terlantar ia temui tetap bisa makan dan mendapat perawatan. (dul)

