BACAAJA, GARUT – Fenomena blue fire yang mendadak terlihat di Kawah Manuk, Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat, ternyata bukan sekadar pemandangan unik di tengah kawasan wisata. Badan Geologi Kementerian ESDM menemukan adanya pelepasan panas cukup tinggi yang memicu pembakaran material di permukaan.
Fenomena itu terpantau pada dini hari 23-24 September 2026. Pemeriksaan kemudian dilakukan Badan Geologi untuk mengetahui penyebab munculnya sinar api kebiruan yang terlihat di area Manifestasi Panas Baru tersebut.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, tim menemukan serbuk yang menyerupai abu sisa pembakaran di sekitar lokasi. Temuan itu diduga berkaitan dengan proses pemanasan atau pembakaran material permukaan akibat paparan panas.
Bukan Pertama Kali di Papandayan
Kemunculan blue fire sebenarnya bukan kejadian pertama di Gunung Papandayan. Fenomena serupa pernah tercatat pada 22 Februari 2023 dan 12 Juli 2025.
Namun, ada perbedaan lokasi yang cukup mencolok. Dua kejadian sebelumnya terpantau di dinding Kawah Baru, sedangkan fenomena September 2026 muncul di kawasan Kawah Manuk.
Badan Geologi juga melakukan pengamatan terhadap gas di Kawah Mas yang lokasinya berada tidak jauh dari Manifestasi Panas Baru. Hasil pengukuran tidak menemukan perubahan rasio gas yang berarti.
Data tersebut menunjukkan belum ada indikasi perubahan signifikan pada sistem hidrotermal di bawah Gunung Papandayan yang bisa dikaitkan langsung dengan munculnya manifestasi panas baru di Kawah Manuk.
Aktivitas Termal Mulai Menurun
Lana menyebut aktivitas termal di lokasi tersebut justru cenderung menurun berdasarkan hasil pengukuran dan pengamatan terbaru. Meski begitu, pelepasan gas vulkanik di sekitar lokasi masih tergolong signifikan.
Bau sulfur yang cukup menyengat juga masih tercium mengikuti arah angin dari lokasi manifestasi. Kondisi ini membuat keberadaan gas tetap perlu diwaspadai, terutama bagi orang yang berada di jalur paparan angin.
Paparan gas dalam konsentrasi tertentu bisa berdampak terhadap kesehatan. Karena itu, kemunculan blue fire tidak bisa dipandang hanya sebagai atraksi alam yang menarik untuk dilihat dari dekat.
Blue Fire Cantik, Risikonya Tetap Ada
Fenomena api biru memang cukup langka. Selama ini, blue fire lebih dikenal sebagai fenomena yang menjadi daya tarik Gunung Ijen di Jawa Timur.
Di Papandayan, persoalannya menjadi lebih serius karena titik kemunculan blue fire berada di Kawah Manuk. Lokasinya relatif dekat dengan jalur pendakian utama dan kawasan perkemahan yang biasa menjadi tujuan wisatawan.
Badan Geologi mengingatkan adanya sejumlah potensi bahaya di sekitar lokasi. Risiko tersebut antara lain paparan gas vulkanik beracun dengan konsentrasi tinggi hingga kemungkinan semburan gas dari kawasan kawah.
Pengunjung Diminta Jaga Jarak
Saat ini status Gunung Papandayan masih berada pada Level I atau Normal. Meski begitu, status tersebut bukan berarti seluruh kawasan kawah aman untuk didatangi tanpa pembatasan.
Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, wisatawan, pendaki, dan pengunjung tidak beraktivitas ataupun menginap di kawasan bukaan kawah aktif dalam kompleks Papandayan. Area yang dimaksud meliputi Kawah Baru, Kawah Emas, Kawah Nangklak, serta Kawah Manuk atau Balagadama.
Jarak aman yang direkomendasikan adalah minimal 500 meter dari bukaan kawah aktif. Imbauan tersebut makin penting ketika cuaca mendung atau hujan karena kondisi lingkungan dapat memengaruhi konsentrasi gas di sekitar kawah.
Gas Beracun Bisa Muncul Mendadak
Pengunjung juga diminta mengantisipasi kemungkinan peningkatan konsentrasi gas beracun secara tiba-tiba. Selain itu, potensi letusan yang muncul tanpa gejala vulkanik yang jelas serta longsor pada dinding kawah juga menjadi perhatian.
Jika blue fire kembali terlihat di lokasi lain dalam kompleks Gunung Papandayan, pengelola Taman Wisata Alam (TWA) diminta segera menerapkan jarak aman sesuai rekomendasi Badan Geologi.
PVMBG sampai sekarang masih memantau aktivitas Kawah Manuk secara berkelanjutan. Pemantauan dilakukan bersama pengelola TWA Gunung Papandayan untuk mengantisipasi jika fenomena serupa kembali muncul.
Lana mengatakan tingkat aktivitas Gunung Papandayan akan terus dievaluasi secara berkala. Evaluasi juga bisa dilakukan lebih cepat jika ditemukan perubahan aktivitas yang cukup signifikan. (*)

