BACAAJA, JAKARTA – Kasus dugaan keracunan makanan yang membuat seorang siswi asal Kabupaten Karo, Sumatra Utara, mengalami gangguan ingatan menjadi perhatian publik. Kondisi tersebut dikaitkan dengan hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga dikonsumsi korban.
Dokter spesialis saraf Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), menjelaskan bahwa keracunan makanan dalam kondisi tertentu bisa berdampak pada fungsi otak. Jika gangguan memori berlangsung cukup lama, salah satu kemungkinan yang perlu diperiksa adalah ensefalopati toksik akibat infeksi atau paparan toksin.
Menurut Yuda, sejumlah kuman dapat menghasilkan racun yang memengaruhi kerja otak. Dampaknya bukan hanya gangguan ingatan, tetapi juga bisa berkaitan dengan perubahan perilaku seseorang.
Kuman Tertentu Bisa Pengaruhi Fungsi Otak
Yuda menerangkan, kuman penyebab penyakit tifoid merupakan salah satu contoh mikroorganisme yang dapat menyebar melalui makanan tercemar. Infeksi maupun toksin yang dihasilkan kuman tertentu berpotensi memicu gangguan pada fungsi otak, termasuk memori dan perilaku.
“Beberapa kuman dapat memproduksi toksin yang mengganggu fungsi otak. Misalnya kuman thypoid yang dapat menyebar lewat makanan yang tercemar dapat mengakibatkan gangguan memori dan perilaku,” jelas Yuda saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (8/9).
Meski begitu, dokter tersebut mengingatkan bahwa gangguan ingatan setelah dugaan keracunan tidak bisa langsung dipastikan disebabkan oleh kuman atau racun tertentu. Penyebabnya harus ditelusuri melalui pemeriksaan medis dan melihat kondisi klinis pasien secara menyeluruh.
“Namun pada kasus ini perlu dieksplore kuman penyebabnya,” kata Yuda.
Kondisi Siswi Korban Dugaan Keracunan MBG
Kasus yang menjadi sorotan ini melibatkan Febiola Br Purba, siswi asal Kabupaten Karo yang disebut mengalami kondisi medis serius setelah diduga keracunan makanan dari program MBG.
Ayah Febiola, Icuk Sugiarto Purba, menyampaikan bahwa kemampuan mengingat putrinya mengalami penurunan drastis. Bahkan, kondisi tersebut disebut membuat Febiola kesulitan mengenali orang-orang terdekatnya.
Febiola dikabarkan tidak mengenali guru, teman sekelas, orang tua, hingga saudara kandungnya. Kabar ini kemudian memicu perhatian luas karena gangguan memori tersebut disebut mencapai 70 persen.
Dokter Ingatkan Istilah Kehilangan Ingatan
Yuda menegaskan bahwa ungkapan “kehilangan 70 persen ingatan” bukan istilah medis yang lazim digunakan untuk menjelaskan gangguan memori. Penilaian mengenai kondisi kognitif pasien tidak bisa hanya didasarkan pada persentase yang beredar.
Untuk mengetahui seberapa berat gangguan yang dialami, pasien perlu menjalani pemeriksaan langsung. Dokter harus menilai jenis gangguan kognitif, fungsi memori, serta kemungkinan penyebab yang mendasarinya.
Dengan demikian, dugaan hubungan antara keracunan makanan dan gangguan ingatan Febiola masih membutuhkan penelusuran medis lebih lanjut. Pemeriksaan terhadap kuman penyebab, toksin, dan kondisi kesehatan pasien menjadi bagian penting untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. (*)

