BACAAJA, YOGYAKARTA – Kasus love scamming kembali bikin geleng kepala. Di Yogyakarta, polisi membongkar sindikat penipuan berkedok asmara yang ternyata menyasar korban lintas negara. Dari Amerika Serikat sampai Australia, semua kena jebakan yang sama: rayuan manis berujung transfer uang.
Pengungkapan ini dilakukan Polresta Yogyakarta lewat operasi tangkap tangan di sebuah kantor di kawasan Gito Gati, Sleman. Tempat itu diduga jadi “pabrik” obrolan palsu yang sengaja dirancang buat memperdaya korban lewat aplikasi. Modusnya rapi, sistematis, dan jelas bukan kerjaan iseng.
Puluhan pekerja diperiksa. Enam orang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka, mulai dari pemilik perusahaan sampai para team leader. Perannya beda-beda, tapi tujuannya satu: bikin korban jatuh hati, lalu pelan-pelan diminta top up dan kirim gift.
Para admin percakapan ini dilatih buat merayu. Awalnya obrolan biasa, lalu makin intens, makin personal. Begitu korban mulai nyaman, muncullah permintaan kirim gift atau beli koin. Setelah itu, korban “dihadiahi” foto dan video sensual yang ternyata tetap berbayar.
Masalahnya, ini bukan sekadar penipuan receh. Otoritas Jasa Keuangan sudah lama mengendus pola love scamming sebagai kejahatan lintas negara dengan risiko kerugian tinggi. Emosi korban dijadikan senjata utama.
Menurut OJK, korban sering kali mengirim uang tanpa paksaan. Semua dilakukan sukarela karena merasa punya hubungan spesial. Di titik ini, logika kalah sama perasaan. Uang pun mengalir tanpa sadar.
Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menyebut pola ini sebagai grooming. Bukan ancaman, bukan tekanan, tapi pendekatan hangat yang bikin korban merasa aman. Pelaku sengaja menciptakan suasana positif supaya target justru mendekat sendiri.
Secara psikologis, korban love scamming cenderung punya sugestibilitas tinggi. Artinya, mudah terpengaruh dan menerima bujukan. Dalam data statistik, perempuan masuk kelompok yang cukup rentan, meski bukan satu-satunya.
Sebuah studi internasional tahun 2023 mencatat sekitar 60 persen korban love scamming di Indonesia adalah perempuan. Polanya pun hampir mirip: usia di atas 35 tahun, pernah menikah, mandiri secara finansial, dan aktif cari pasangan lewat aplikasi.
Kenapa perempuan? Bukan karena lemah, tapi karena sering kali berada di fase hidup yang sepi secara emosional. Kondisi ini dimanfaatkan pelaku dengan sangat rapi dan penuh perhitungan.
Psikolog klinis A. Kasandra Putranto menegaskan, love scamming sebenarnya bisa menimpa siapa saja. Laki-laki pun bisa jadi korban. Titik rawannya bukan gender, tapi kebutuhan emosional yang lagi kosong.
Pelaku biasanya datang dengan perhatian penuh, kata-kata manis, dan janji masa depan. Hubungan dibuat serba cepat: dari chatting, ngaku serius, sampai ngomongin nikah. Tapi pertemuan nyata? Itu cuma wacana.
Begitu kepercayaan terbentuk, uang jadi target utama. Alasannya bisa macam-macam, dari bisnis, hadiah, sampai keadaan darurat. Korban yang sudah terikat emosional sering kali tak sadar sedang dimanfaatkan.
Sepanjang 2025 saja, ribuan laporan love scam masuk ke Indonesia Anti Scam Center. Total kerugian hampir Rp 50 miliar. Angka itu jadi bukti kalau penipuan asmara bukan sekadar drama online, tapi kejahatan serius.
Jadi, kenapa korban love scamming banyak perempuan? Bukan soal siapa yang paling lemah, tapi siapa yang sedang paling butuh koneksi emosional. Di situlah para pelaku masuk, dengan senyum palsu dan janji yang tak pernah jadi nyata. (*)


