BACAAJA, CARACAS — Situasi dunia sedang tidak baik-baik saja. Amerika Serikat (AS) bikin kekacauaan. Militer Paman Sam nyerang langsung jantung Venezuela.
Pasukan Amerika Serikat melakukan serangan militer skala besar ke negara Amerika Selatan itu. Respons dunia internasional pun langsung bermunculan.
Rusia dan Iran, dua sekutu utama Venezuela, kompak mengecam keras langkah AS yang dinilai kelewat batas.
Bacaaja: Iran Bergolak! Ekonomi Ambruk, Demo Besar-besaran Telan 7 Korban Tewas
Bacaaja: Pelatih Valencia dan 2 Anaknya Masih Hilang, Dubes Spanyol Minta Indonesia Lanjutkan Pencarian
Lewat pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut tindakan AS sebagai “aksi agresi bersenjata” yang sama sekali tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.
Moskow menegaskan dukungan penuh mereka kepada rakyat Venezuela dan kepemimpinan Bolivarian dalam menjaga kedaulatan negara.
Rusia juga mengingatkan agar kawasan Amerika Latin tetap menjadi zona damai, bukan ajang unjuk kekuatan militer.
Rusia menilai, yang paling penting saat ini adalah mencegah eskalasi makin liar. Dialog dianggap satu-satunya jalan keluar.
“Venezuela harus dijamin haknya untuk menentukan nasib sendiri tanpa campur tangan asing, apalagi lewat kekuatan militer,” tegas Kemlu Rusia.
Mereka juga memastikan Kedutaan Besar Rusia di Caracas masih beroperasi normal dan belum ada laporan warga Rusia yang terdampak.
AS langgar kedaulatan Venezuela dan Piagam PBB
Nada keras juga datang dari Iran. Teheran secara terbuka mengecam serangan militer AS yang disebut melanggar kedaulatan Venezuela dan Piagam PBB.
Menurut Iran, agresi terhadap negara anggota PBB adalah pelanggaran serius terhadap perdamaian dan keamanan global, dengan dampak yang bisa menjalar ke mana-mana.
Di sisi lain, kondisi di dalam Venezuela sendiri masih penuh tanda tanya. Wakil Presiden Delcy Rodríguez mengaku pemerintah belum mengetahui keberadaan Presiden Nicolás Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa AS telah melakukan serangan besar-besaran dan menangkap Maduro beserta istrinya, lalu membawa mereka keluar dari Venezuela.
Rodríguez pun angkat suara. Dalam panggilan audio ke televisi pemerintah VTV, ia menuntut bukti konkret dari pemerintah AS terkait keselamatan Presiden Maduro dan Ibu Negara.
Ia juga menuding serangan tersebut telah menewaskan pejabat negara, personel militer, hingga warga sipil di berbagai wilayah.
Menanggapi situasi genting ini, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López langsung mengumumkan pengerahan pasukan secara nasional.
Dalam pidato video berbahasa Spanyol, ia menyerukan front persatuan perlawanan menghadapi apa yang disebutnya sebagai “agresi terburuk yang pernah dialami Venezuela.”
“Mereka menyerang kita, tapi mereka tidak akan menundukkan kita,” tegas Padrino López, sambil menekankan bahwa seluruh angkatan bersenjata bergerak mengikuti perintah Presiden Maduro.
Hingga kini, situasi Venezuela masih terus berkembang dan dunia internasional menahan napas, menunggu kejelasan nasib kepemimpinan negara itu serta arah konflik ke depan. Kalau salah langkah, efek dominonya bisa ke mana-mana.
Agresi militer AS bisa memicu Perang Dunia (PD) III jika Rusia ikut masuk arena pertempuran. Bagaimana menurut Sobat Bacaaja? (*)


