TEMANGGUNG, BACAAJA — Longsor yang memutus total akses jalan di Desa Ngadisepi-Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, bukan cuma bikin mobilitas warga terganggu, tapi juga sempat bikin aktivitas sekolah ketar-ketir.
Akses utama ke SD Negeri 2 Gemawang tertutup total, sementara jalur alternatif yang ada malah berlumpur dan rawan bahaya. Jelas bukan opsi aman buat anak-anak.
Biar pendidikan nggak ikut “terkubur” longsor, BPBD Kabupaten Temanggung langsung ambil peran. Sejak Rabu (7/1/2026), armada SAR dan BPBD dikerahkan buat antar-jemput siswa dari wilayah terdampak.
Bacaaja: Jaran Kepang Bikin Bupati Temanggung Masuk Nominasi Anugerah PWI 2026
Bacaaja: Longsor di Gemawang Temanggung Bikin Jalan Putus Total, Warga Harus Memutar 15 Km
Pemandangan pagi itu pun cukup bikin merinding: puluhan anak berdiri menunggu jemputan, tapi yang datang bukan bus sekolah—melainkan mobil ambulans SAR dan kendaraan BPBD. Bukan darurat medis, tapi darurat pendidikan.
Kepala SDN 2 Gemawang, Lasyuri, bilang sekitar 50 dari total 101 siswa berasal dari area yang terdampak longsor.
Awalnya, sekolah sempat mengalihkan pembelajaran ke daring selama dua hari. Tapi mulai hari ini, siswa kembali belajar tatap muka, meski dengan penyesuaian.
Jam masuk dimundurkan jadi pukul 08.00 WIB, dan pulang lebih cepat sekitar 11.00 WIB. “Yang penting anak-anak bisa tetap belajar dengan aman,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Temanggung, Totok Nursetyanto, menegaskan kalau langkah ini bagian dari respons darurat bencana.
Setiap hari, dua armada disiapkan untuk mengangkut sekitar 50 siswa, lengkap dengan enam personel pengawal demi memastikan perjalanan aman, apalagi saat hujan turun.
Rencananya, skema ini bakal berjalan dua sampai tiga minggu, sampai akses jalan darurat baru bisa difungsikan.
Totok juga mengingatkan, kawasan tersebut memang sudah masuk zona rawan longsor sejak 2019. Longsor kali ini bahkan memutus jalan darurat lama.
Solusi jangka panjangnya bukan jembatan, tapi pembuatan trase jalan baru yang diperkeras, minimal bisa dilalui motor. Sambil jalan, BPBD terus koordinasi dengan Badan Geologi buat mitigasi longsor lanjutan.
Cerita dari Gemawang ini jadi bukti: jalan boleh putus, tapi hak anak buat sekolah nggak boleh ikut terhenti. Di tengah bencana, kehadiran mobil BPBD ternyata bisa bikin masa depan tetap jalan. (*)


