Dinda Meilina adalah mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Bergiat di UKM KIAS.
Tidak boleh ada hubungan, seberapa pun rumitnya, yang layak berakhir dengan kekerasan.
Indonesia memang luar biasa. Masyarakat kita benar-benar bisa nggak tahu tetangga sebelah lagi kenapa, tapi tahu detail kehidupan orang yang bahkan belum pernah kita temui. Begitu juga dengan Fara dan Reyhan. Beberapa hari lalu mungkin mereka cuma dua mahasiswa biasa. Sekarang? Nama mereka mondar-mandir di timeline seperti iklan yang nggak bisa di-skip.
Awalnya terlihat sederhana. Dua orang yang sedang berhubungan dekat. Ada video kebersamaan mereka di TikTok. Ada momen mesra yang bikin netizen langsung mode “zoom in”. Dan seperti biasa, dalam waktu singkat semua orang mendadak jadi analis hubungan profesional. Padahal video yang tengah viral sering kali cuma potongan. Bukan keseluruhan cerita.
Kabarnya, kedekatan Fara dan Reyhan bermula saat mereka menempuh program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Dan kita semua tahu, KKN itu bukan cuma Kuliah Kerja Nyata. Kadang bisa jadi “Kuliah Kerja Numbuhin Rasa”. Intensitasnya tinggi. Bertemu tiap hari, diskusi bareng, lelah bareng, tertawa bareng. Dari yang awalnya cuma rekan satu kelompok, lama-lama jadi tempat bertukar cerita. Dan di situlah batas pertemanan mulai bias.
Hubungan mereka disebut bukan sekadar teman. Bahkan lebih dari pacar dalam hal kedekatan emosional. Tapi uniknya, mereka tidak pernah benar-benar pacaran. Tidak ada status, tidak ada pernyataan “kita resmi, ya”. Hanya kedekatan yang berjalan begitu saja. Masalahnya, hubungan tanpa status tetap melibatkan perasaan. Tetap ada cemburu. Tetap ada ekspektasi. Tapi tidak punya kejelasan.
Sementara itu, Fara disebut sudah memiliki pacar bernama Ferdi. Di sinilah cerita mulai terasa rumit. Karena kalau memang sudah punya pasangan, tapi menjalin kedekatan sedalam itu dengan orang lain, tentu bukan lagi sekadar “teman biasa”. Mau disebut apa pun istilahnya, tetap saja ada hati yang terlibat.
Reyhan bahkan disebut membantu Fara dalam menyusun proposal skripsi. Dari yang awalnya cuma bantu revisi, jadi berlanjut sering menjalin komunikasi. Dari diskusi metodologi penelitian bisa jadi diskusi tentang masa depan. Dan seperti yang sering terjadi, perasaan tumbuh di ruang yang terlalu nyaman. Lalu datang momen ketika Reyhan menyatakan perasaannya.
Tapi respons yang diterima kabarnya tidak sesuai harapan. Bahkan disebut-sebut ada kata-kata yang merendahkan. Di titik itu, hubungan yang tadinya abu-abu mulai berubah jadi tidak sehat. Karena ketika satu pihak merasa serius dan pihak lain tidak, yang muncul bukan lagi romantis tapi ketidakseimbangan. Dan sayangnya, cerita ini tidak berhenti di situ.
Yang membuat semuanya benar-benar berubah adalah kabar tentang kekerasan. Disebut bahwa emosi memuncak dan berujung pada tindakan yang sangat serius. Ini bukan lagi soal cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ini sudah masuk wilayah yang jauh lebih berat. Tidak boleh ada hubungan, seberapa pun rumitnya, yang layak berakhir dengan kekerasan. Tidak ada sakit hati yang bisa jadi alasan untuk melukai orang lain. Dan tidak ada penolakan yang pantas dibalas dengan tindakan ekstrem seperti tindak kekerasan.
Video kebersamaan mereka di TikTok milik Reyhan semakin membuat publik berspekulasi. Postingan ulang yang dianggap seperti “kode-kode” membuat sebagian orang berpikir semuanya sudah direncanakan. Entah benar atau tidak, persepsi publik sudah terbentuk. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang perlu kita lihat lebih dalam: pola relasinya.
Hubungan tanpa kejelasan sering kali melahirkan ekspektasi sepihak. Kedekatan tanpa komitmen bisa membuat satu pihak merasa berhak, sementara pihak lain merasa tidak pernah menjanjikan apa-apa. Dan ketika dua persepsi itu bertabrakan, dampaknya bisa besar. Kadang kita menormalisasi hal-hal kecil: Ah cuma dekat doang, ah cuma teman tapi nyaman, ah nggak ada status kok. Padahal, rasa tetap rasa. Hati tetap hati. Dan kalau tidak dikelola dengan dewasa bisa berubah jadi luka.
Kisah Fara dan Reyhan apa pun detail lengkapnya jadi pengingat bahwa relasi yang tidak sehat tidak selalu terlihat dari luar. Kadang dari luar tampak mesra, kompak, bahkan romantis, tapi di dalamnya bisa saja ada tekanan, kebohongan, atau ego yang tidak terkendali. Dan mungkin yang paling ironis adalah ini: ketika semuanya meledak, netizen datang paling depan. Menghakimi. Menyimpulkan. Membagi peran siapa korban, siapa pelaku, dan siapa yang paling salah. Padahal kita hanya melihat potongan video di layar gawai, bukan keseluruhan hidup mereka.
Pada akhirnya viral akan berlalu. Timeline akan pindah topik. Tapi pelajarannya seharusnya tidak ikut hilang. Tentang pentingnya batas. Tentang pentingnya kejelasan. Tentang pentingnya mengelola emosi. Karena cinta dengan atau tanpa status seharusnya tetap menjunjung rasa hormat dan keamanan. Dan kalau sebuah hubungan membuat orang merasa tertekan, terhina, atau sampai berujung kekerasan, itu bukan lagi soal cinta. Itu tanda bahwa ada yang salah sejak awal.
Mungkin sebelum kita sibuk jadi komentator nasional, ada baiknya kita belajar satu hal sederhana: hubungan yang sehat itu bukan soal seberapa sering terlihat mesra di kamera, tapi seberapa aman dan dewasa dijalani di dunia nyata.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


