Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Ironi Kisah Reyhan dan Fara: Dari Kedekatan Personal ke Penghakiman Nasional
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Ironi Kisah Reyhan dan Fara: Dari Kedekatan Personal ke Penghakiman Nasional

Redaktur Opini
Last updated: Maret 6, 2026 3:27 pm
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Dinda Meilina adalah mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Bergiat di UKM KIAS.

Tidak boleh ada hubungan, seberapa pun rumitnya, yang layak berakhir dengan kekerasan.

 

Indonesia memang luar biasa. Masyarakat kita benar-benar bisa nggak tahu tetangga sebelah lagi kenapa, tapi tahu detail kehidupan orang yang bahkan belum pernah kita temui. Begitu juga dengan Fara dan Reyhan. Beberapa hari lalu mungkin mereka cuma dua mahasiswa biasa. Sekarang? Nama mereka mondar-mandir di timeline seperti iklan yang nggak bisa di-skip.

Awalnya terlihat sederhana. Dua orang yang sedang berhubungan dekat. Ada video kebersamaan mereka di TikTok. Ada momen mesra yang bikin netizen langsung mode “zoom in”. Dan seperti biasa, dalam waktu singkat semua orang mendadak jadi analis hubungan profesional. Padahal video yang tengah viral sering kali cuma potongan. Bukan keseluruhan cerita.

Kabarnya, kedekatan Fara dan Reyhan bermula saat mereka menempuh program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Dan kita semua tahu, KKN itu bukan cuma Kuliah Kerja Nyata. Kadang bisa jadi “Kuliah Kerja Numbuhin Rasa”. Intensitasnya tinggi. Bertemu tiap hari, diskusi bareng, lelah bareng, tertawa bareng. Dari yang awalnya cuma rekan satu kelompok, lama-lama jadi tempat bertukar cerita. Dan di situlah batas pertemanan mulai bias.

Hubungan mereka disebut bukan sekadar teman. Bahkan lebih dari pacar dalam hal kedekatan emosional. Tapi uniknya, mereka tidak pernah benar-benar pacaran. Tidak ada status, tidak ada pernyataan “kita resmi, ya”. Hanya kedekatan yang berjalan begitu saja. Masalahnya, hubungan tanpa status tetap melibatkan perasaan. Tetap ada cemburu. Tetap ada ekspektasi. Tapi tidak punya kejelasan.

Sementara itu, Fara disebut sudah memiliki pacar bernama Ferdi. Di sinilah cerita mulai terasa rumit. Karena kalau memang sudah punya pasangan, tapi menjalin kedekatan sedalam itu dengan orang lain, tentu bukan lagi sekadar “teman biasa”. Mau disebut apa pun istilahnya, tetap saja ada hati yang terlibat.

Reyhan bahkan disebut membantu Fara dalam menyusun proposal skripsi. Dari yang awalnya cuma bantu revisi, jadi berlanjut sering menjalin komunikasi. Dari diskusi metodologi penelitian bisa jadi diskusi tentang masa depan. Dan seperti yang sering terjadi, perasaan tumbuh di ruang yang terlalu nyaman. Lalu datang momen ketika Reyhan menyatakan perasaannya.

Tapi respons yang diterima kabarnya tidak sesuai harapan. Bahkan disebut-sebut ada kata-kata yang merendahkan. Di titik itu, hubungan yang tadinya abu-abu mulai berubah jadi tidak sehat. Karena ketika satu pihak merasa serius dan pihak lain tidak, yang muncul bukan lagi romantis tapi ketidakseimbangan. Dan sayangnya, cerita ini tidak berhenti di situ.

Yang membuat semuanya benar-benar berubah adalah kabar tentang kekerasan. Disebut bahwa emosi memuncak dan berujung pada tindakan yang sangat serius. Ini bukan lagi soal cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ini sudah masuk wilayah yang jauh lebih berat. Tidak boleh ada hubungan, seberapa pun rumitnya, yang layak berakhir dengan kekerasan. Tidak ada sakit hati yang bisa jadi alasan untuk melukai orang lain. Dan tidak ada penolakan yang pantas dibalas dengan tindakan ekstrem seperti tindak kekerasan.

Video kebersamaan mereka di TikTok milik Reyhan semakin membuat publik berspekulasi. Postingan ulang yang dianggap seperti “kode-kode” membuat sebagian orang berpikir semuanya sudah direncanakan. Entah benar atau tidak, persepsi publik sudah terbentuk. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang perlu kita lihat lebih dalam: pola relasinya.

Hubungan tanpa kejelasan sering kali melahirkan ekspektasi sepihak. Kedekatan tanpa komitmen bisa membuat satu pihak merasa berhak, sementara pihak lain merasa tidak pernah menjanjikan apa-apa. Dan ketika dua persepsi itu bertabrakan, dampaknya bisa besar. Kadang kita menormalisasi hal-hal kecil: Ah cuma dekat doang, ah cuma teman tapi nyaman, ah nggak ada status kok. Padahal, rasa tetap rasa. Hati tetap hati. Dan kalau tidak dikelola dengan dewasa bisa berubah jadi luka.

Kisah Fara dan Reyhan apa pun detail lengkapnya  jadi pengingat bahwa relasi yang tidak sehat tidak selalu terlihat dari luar. Kadang dari luar tampak mesra, kompak, bahkan romantis, tapi di dalamnya bisa saja ada tekanan, kebohongan, atau ego yang tidak terkendali. Dan mungkin yang paling ironis adalah ini: ketika semuanya meledak, netizen datang paling depan. Menghakimi. Menyimpulkan. Membagi peran siapa korban, siapa pelaku, dan siapa yang paling salah. Padahal kita hanya melihat potongan video di layar gawai, bukan keseluruhan hidup mereka.

Pada akhirnya viral akan berlalu. Timeline akan pindah topik. Tapi pelajarannya seharusnya tidak ikut hilang. Tentang pentingnya batas. Tentang pentingnya kejelasan. Tentang pentingnya mengelola emosi. Karena cinta dengan atau tanpa status seharusnya tetap menjunjung rasa hormat dan keamanan. Dan kalau sebuah hubungan membuat orang merasa tertekan, terhina, atau sampai berujung kekerasan, itu bukan lagi soal cinta. Itu tanda bahwa ada yang salah sejak awal.

Mungkin sebelum kita sibuk jadi komentator nasional, ada baiknya kita belajar satu hal sederhana: hubungan yang sehat itu bukan soal seberapa sering terlihat mesra di kamera, tapi seberapa aman dan dewasa dijalani di dunia nyata.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

 

You Might Also Like

Rahayu Saraswati Mundur dari DPR: Mundur untuk Maju atau Mundur untuk Ngopi Dulu, Ya?

Menimbang Keadilan Upah di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

Perihal Pajak dan Kekhawatiran Seorang Lelaki Beristri

Cerita Kelam Petani di Pundenrejo

Inovasi Pro Rakyat: Kabupaten Magelang Wujudkan Angkutan Pelajar Gratis

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kanada Siap Perluas Investasi di Jateng, Agroteknologi Jadi Andalan
Next Article Tanda-Tanda Kemarau Datang Lebih Cepat di Sejumlah Wilayah, Termasuk Jateng

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Menu Buka Puasa Terbaik, Kata UAH, Idealnya Bukan Gorengan

Tender Pelat Nomor Kendaraan Disorot, Dugaan Monopoli Mulai Terkuak

Wali Kota Solo dan Wakil Wali Kota Solo, Respati Ardi-Astrid Widayani, beber pencapaian selama setahun memimpin Solo, saat ngabuburit bareng warga di Monumen Apem Sewu Bantaran Sungai BBWS Bengawan Solo, Jumat (6/3/2026).

Ngabuburit Bareng Warga, Respati–Astrid ‘Curhat’ Setahun Pimpin Solo

Buya Yahya Ingatkan Buka Bersama Jangan Sampai Lupa Ibadah

Ilustrasi pembayaran tunai menggunakan mata uang rupiah.

THR Belum Cair? Tenang, Begini Cara Lapor Online Resmi

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Gus Yasin dan Romy Rohmahurmuzi memberikan keterengan kepada awak media seusai Muktamar PPP X di Ancol Jakarta. Seperti Muktamar sebelumnya, Muktamar PPP tahun ini juga diwarnahi dengan perpecahan antar kader. Hasilnya, dua kubu salim klaim kemenangan melalui jalur aklamasi partai. Baik kubu incumben Mardionao maupun kubu Agus Suparmanto. Foto: dok.
Opini

Mardiono vs Agus Suparmanto, Drama Faksi PPP yang Tak Pernah Usai

September 28, 2025
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintah sebenarnya punya niat baik: anak sekolah kenyang, cerdas, dan sehat. Tapi realitanya, justru banyak siswa keracunan massal di berbagai daerah. Programnya keren di pidato, tapi di lapangan? Bisa bikin perut mules berjamaah.
Opini

Makan Bergizi Gratis, Tapi Rakyatnya Masuk IGD

September 21, 2025
Opini

Pasar Spekulatif dan Batas Rasionalitas Ekonomi

Februari 26, 2026
Opini

Self-Reward: Tren atau Kebutuhan?

Desember 8, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ironi Kisah Reyhan dan Fara: Dari Kedekatan Personal ke Penghakiman Nasional
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?