BACAAJA, KALIMANTAN – Pulau Borneo darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ribuan titik api terpantau menyebar di berbagai penjuru Kalimantan.
Berdasarkan Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui pemantauan satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/8/2026) mencatat 1.487 titik panas di Kalimantan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa Satuan Tugas (Satgas) penanganan karhutla, baik tim darat maupun udara, terus berupaya memadamkan api di sejumlah provinsi terdampak.
Bacaaja: Rp33,4 Miliar Hangus Jadi Abu, Estimasi Kerugian 447 Kasus Kebakaran di Jateng
Bacaaja: Antisipasi Kemarau, Jateng Siapkan 123 Juta Liter Air
“Namun demikian, sampai sekarang belum ada penutupan bandara akibat karhutla tersebut,” ujarnya.
Hotspot paling banyak terdeteksi di Kalimantan Tengah dengan 767 titik, disusul Kalimantan Barat sebanyak 560 titik.
Rinciannya:
- Kalimantan Tengah: 767 titik
- Kalimantan Barat: 560 titik
- Kalimantan Selatan: 74 titik
- Kalimantan Timur: 74 titik
- Kalimantan Utara: 3 titik
Meski jumlahnya mencapai ribuan, hotspot tidak otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran aktif. Data satelit tetap membutuhkan verifikasi di lapangan.
‘Ekspor’ asap ke negara tetangga
Ancaman karhutla tak hanya menjadi persoalan di dalam negeri. Kabut asap dari kebakaran di Kalimantan dilaporkan mulai bergerak hingga Sarawak, Malaysia, yang berbatasan langsung dengan wilayah Kalimantan.
Kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak pun ikut memburuk. Bahkan, dampaknya mulai terasa di sektor pendidikan. Sebanyak 108 sekolah di wilayah Serian, Sarawak, ditutup sementara akibat kualitas udara yang memburuk. Kegiatan belajar kemudian dialihkan ke sistem pembelajaran dari rumah.
Kondisi tersebut menjadi alarm bahwa karhutla bukan sekadar persoalan titik api. Jika tidak segera dikendalikan, dampaknya bisa meluas hingga lintas negara dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Mayoritas dipicu ulah manusia
Karhutla di Kalimantan bukan semata-mata persoalan musim kemarau. Riset Annisa Musrifatun Nur’Aini dan Athaya Putri Tatia Ananta dari Fakultas Kehutanan UGM (2025) yang dimuat dalam portal literasi sejarah bencana BNPB menyebut sebagian besar karhutla di Indonesia dipicu aktivitas manusia atau faktor antropogenik.
Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi pilihan karena dianggap murah dan cepat. Cara ini dilakukan oleh sejumlah pihak, mulai dari oknum korporasi hingga petani skala kecil.
Masalahnya, cara instan tersebut bisa berubah menjadi bencana besar. Asap dari karhutla bahkan dapat menyebar lintas negara dan mengganggu Malaysia, Singapura, hingga Brunei Darussalam.
Salah satu contoh terparah terjadi pada 2015. Kala itu, sekitar 2,6 juta hektare lahan terbakar, menyebabkan ratusan ribu orang mengalami gangguan pernapasan dan puluhan orang meninggal dunia.
Risikonya semakin besar saat musim kemarau tiba, terutama di wilayah gambut. Kanalisasi yang membuat lahan gambut kehilangan kelembapan dapat meningkatkan potensi kebakaran.
Yang lebih sulit, api di lahan gambut tidak selalu terlihat dari permukaan. Api dapat merambat di bawah tanah atau dikenal sebagai subsurface fire, sehingga sulit dideteksi dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan.
Artinya, ketika 1.487 titik panas kini terpantau di Kalimantan, persoalannya bukan cuma soal cuaca kering. Tata kelola lahan dan kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar juga menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dibenahi.
Kalau pola lama terus dibiarkan, karhutla bukan hanya menghanguskan hutan dan lahan, tetapi juga berpotensi kembali menghadirkan krisis asap lintas batas dengan dampak ekonomi, kesehatan, dan lingkungan yang jauh lebih luas. (*)

