BACAAJA, SEMARANG – Aktivitas influenza di Indonesia kembali jadi perhatian. Di tengah naiknya angka deteksi, masyarakat diminta tetap waspada tanpa ikut terseret kepanikan, sementara pemerintah didorong memperkuat pemantauan kasus dan kesiapan layanan kesehatan.
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani mengatakan peningkatan aktivitas influenza perlu direspons dengan langkah antisipasi yang jelas. Menurutnya, penguatan surveilans, kesiapan fasilitas kesehatan, dan penyampaian informasi yang gampang dipahami menjadi bagian penting dalam menghadapi situasi tersebut.
Kementerian Kesehatan mencatat positivity rate influenza mencapai 56 persen pada periode surveilans minggu ke-38 tahun 2026. Meski demikian, Kemenkes menyebut aktivitas influenza masih berada dalam rentang kewaspadaan dan belum menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Netty mengingatkan agar peningkatan kasus tidak diterjemahkan sebagai alasan untuk panik. Yang dibutuhkan justru kewaspadaan dan kemampuan masyarakat mengenali gejala serta mengambil langkah yang tepat ketika mengalami keluhan.
Anak Usia Dini Perlu Diperhatikan
Kelompok anak menjadi salah satu perhatian dalam peningkatan aktivitas influenza kali ini. Data surveilans Kemenkes menunjukkan sekitar 39 persen kasus influenza yang terdeteksi berasal dari kelompok usia 0-4 tahun.
Menurut Netty, kondisi tersebut membuat orang tua perlu lebih memahami gejala influenza pada anak. Edukasi mengenai kapan anak perlu dibawa berkonsultasi ke fasilitas kesehatan juga perlu terus digencarkan.
Selain itu, kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan dan menerapkan etika batuk juga tidak boleh disepelekan. Informasi semacam ini dinilai perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana supaya mudah dipraktikkan sehari-hari.
Netty menilai masyarakat tidak perlu dibebani istilah kesehatan yang terlalu teknis. Informasi mengenai influenza sebaiknya disampaikan secara sederhana, berdasarkan data, dan tidak membuat orang salah menangkap kondisi yang sebenarnya.
Subclade K Masih Dipantau
Perhatian juga tertuju pada influenza A(H3N2) subclade K yang telah terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan data Kemenkes hingga minggu ke-37 tahun 2026, terdapat 188 kasus subclade K yang tercatat sejak 2025.
Kasus tersebut tersebar di 20 provinsi. Jumlah deteksi paling banyak ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.
Meski angka kumulatif sejak 2025 mencapai 188 kasus, Kemenkes menyebut temuan subclade K pada 2026 justru lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga minggu ke-38, tercatat 166 kasus pada 2025 dan 22 kasus pada 2026.
Bagi Netty, data tersebut perlu dijelaskan secara terbuka agar masyarakat tidak salah memahami perkembangan influenza. Istilah seperti subclade juga sebaiknya disertai penjelasan yang mudah dipahami, bukan sekadar disampaikan sebagai istilah teknis.
Jangan Borong Obat Antivirus
Di sisi lain, Netty mengingatkan masyarakat agar tidak ikut-ikutan melakukan panic buying obat antivirus, termasuk oseltamivir. Obat tersebut tidak diperuntukkan bagi semua orang yang mengalami influenza.
Kemenkes menyatakan penggunaan oseltamivir perlu disesuaikan dengan kondisi pasien. Antivirus tersebut terutama digunakan pada kondisi tertentu, termasuk kasus berat atau pasien dengan komorbid yang membutuhkan penanganan antivirus.
Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan membeli atau mengonsumsi obat tersebut secara sembarangan hanya karena khawatir tertular influenza. Pengobatan sebaiknya mengikuti indikasi dan rekomendasi dari tenaga kesehatan.
Menurut Netty, kekhawatiran terhadap peningkatan kasus jangan sampai justru memunculkan masalah baru. Salah satunya adalah penggunaan obat tanpa pemeriksaan dan tanpa mengetahui apakah memang dibutuhkan.
Surveilans dan Faskes Harus Siap
Komisi IX DPR RI mendorong pemerintah memperkuat deteksi dini melalui sistem surveilans. Dengan pemantauan yang baik, perubahan pola influenza diharapkan bisa diketahui lebih cepat.
Kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan juga menjadi perhatian. Jika kebutuhan layanan meningkat, fasilitas kesehatan harus memiliki kemampuan untuk merespons kondisi tersebut tanpa mengganggu pelayanan bagi pasien lainnya.
Selain sistem kesehatan, komunikasi publik juga dinilai punya peran penting. Masyarakat membutuhkan informasi yang konsisten supaya bisa membedakan antara kewaspadaan yang diperlukan dan kepanikan yang justru tidak membantu.
Peningkatan aktivitas influenza memang perlu menjadi perhatian, terutama bagi kelompok yang lebih banyak terdeteksi dalam surveilans seperti anak usia 0-4 tahun. Namun, masyarakat tetap diminta mengandalkan informasi resmi, menjaga kebersihan, menerapkan etika batuk, serta berkonsultasi ke tenaga kesehatan ketika mengalami gejala yang membutuhkan pemeriksaan. (*)

