BACAAJA, ENDE – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengusulkan agar pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya mengandalkan fasilitas sekolah. Menurutnya, berbagai elemen masyarakat juga bisa ikut ambil bagian agar program berjalan lebih luas dan efektif.
Usulan itu disampaikan saat menanggapi rencana Badan Gizi Nasional (BGN) yang ingin memanfaatkan kantin sekolah sebagai dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama untuk memperkuat layanan di berbagai daerah.
Saat berada di SDN Wolomoni, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Kamis (18/6/2026), Gibran menilai konsep tersebut sudah berada di jalur yang tepat. Namun, ia berharap cakupannya bisa diperluas dengan melibatkan lebih banyak pihak.
Menurut Gibran, lembaga keagamaan dapat menjadi mitra penting dalam mendukung penyediaan makanan bergizi, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau kawasan 3T yang memiliki tantangan akses cukup besar.
Ia menyebut pesantren maupun gereja memiliki fasilitas dan jaringan masyarakat yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat pelaksanaan program MBG di daerah-daerah tersebut.
Selain lembaga keagamaan, Gibran juga mengusulkan keterlibatan sekolah kejuruan yang memiliki program keahlian tata boga. Para siswa dinilai bisa memperoleh pengalaman praktik sekaligus berkontribusi dalam program nasional.
Menurutnya, keterlibatan SMK Tata Boga akan memberi manfaat ganda karena selain membantu penyediaan makanan, juga menjadi sarana pembelajaran bagi para siswa.
Tak hanya itu, Gibran juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menjadi bagian dari rantai penyediaan makanan bergizi.
Ia menilai semakin banyak pihak yang terlibat, semakin kuat pula kolaborasi yang terbangun sehingga pelaksanaan program dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat.
Gibran juga mengajak kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk ikut berpartisipasi. Pengalaman para anggotanya dalam pengelolaan pangan dinilai dapat menjadi nilai tambah bagi program MBG.
Perhatian khusus juga diberikan kepada para orangtua murid. Menurut Gibran, mereka memiliki informasi paling lengkap mengenai kebiasaan makan dan kebutuhan anak masing-masing.
Karena itu, masukan dari orangtua dianggap penting dalam menyusun maupun mengevaluasi menu yang disajikan kepada para siswa.
Ia menilai kebutuhan setiap anak tidak selalu sama. Ada yang memilih-milih makanan, ada yang memiliki porsi makan besar, sementara sebagian lainnya justru makan dalam jumlah sedikit.
Dengan memahami karakter tersebut, penyedia makanan dapat menyesuaikan menu agar lebih disukai sekaligus tetap memenuhi kebutuhan gizi anak.
Gibran meyakini pendekatan yang melibatkan keluarga akan membuat program MBG semakin efektif karena makanan yang disajikan lebih sesuai dengan kebiasaan para siswa.
Ia juga berharap komunikasi antara sekolah, penyedia makanan, dan orangtua dapat berjalan lebih terbuka sehingga setiap masukan bisa menjadi bahan evaluasi.
Kolaborasi yang luas dinilai menjadi salah satu kunci keberhasilan program makan bergizi di berbagai daerah dengan kondisi yang berbeda-beda.
Melalui keterlibatan sekolah, lembaga keagamaan, UMKM, PKK, hingga orangtua murid, pemerintah berharap pelaksanaan MBG dapat berlangsung lebih merata sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.
Dengan model gotong royong tersebut, program Makan Bergizi Gratis diharapkan tidak hanya menghadirkan makanan sehat bagi siswa, tetapi juga memperkuat peran masyarakat dalam mendukung peningkatan kualitas gizi anak-anak Indonesia. (*)

