BACAAJA, SEMARANG – Kasus yang sempat dikira penculikan terhadap atlet golf Jesslyn Wijaya akhirnya menemui titik terang. Polisi memastikan perempuan berusia 32 tahun itu pergi atas keinginannya sendiri dan tidak menjadi korban tindak pidana.
Sebelumnya, Jesslyn dikabarkan dibawa sejumlah pria dari sebuah restoran di kawasan Mangga Besar, Jakarta Pusat, pada 13 Juli 2026. Peristiwa itu sempat memicu dugaan penculikan.
Namun, hasil penyelidikan menunjukkan cerita yang sebenarnya berbeda. Polisi memastikan lima pria yang membawa Jesslyn bukan pelaku penculikan.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra mengatakan, kelima orang tersebut merupakan orang suruhan ibu kandung Jesslyn.
Setelah dijemput dari restoran, Jesslyn dibawa menuju Bandara Ahmad Yani di Semarang sebelum melanjutkan perjalanan ke luar negeri.
Polisi kemudian berhasil melacak keberadaan Jesslyn di Bangkok, Thailand. Kepastian itu diperoleh setelah penyidik menerima video pernyataan langsung dari Jesslyn.
Dalam keterangannya, Jesslyn menegaskan dirinya berada di luar negeri atas kemauan sendiri.
Karena tidak ditemukan unsur pidana, polisi memastikan penyelidikan kasus tersebut akan dihentikan setelah proses gelar perkara selesai.
Dari hasil pendalaman sementara, akar persoalan diduga berasal dari konflik di dalam keluarga.
Menurut Roby, hubungan asmara Jesslyn dengan sang kekasih menjadi pemicu utama ketegangan tersebut.
Keluarga disebut tidak memberikan restu terhadap rencana pernikahan Jesslyn dengan pria bernama Evan.
Di sisi lain, Evan mengungkapkan bahwa seluruh persiapan pernikahan mereka sebenarnya hampir selesai.
Meski begitu, ia memilih tidak mengungkap kapan tepatnya hari bahagia tersebut akan digelar.
Evan juga mengaku persoalan antara Jesslyn dan ibu kandungnya bukan hal baru. Konflik itu disebut sudah berlangsung cukup lama.
Menurutnya, saat masih tinggal bersama ibunya, Jesslyn tidak leluasa berkomunikasi dengan orang lain.
Telepon genggam, laptop, hingga iPad milik Jesslyn disebut sempat diambil sehingga ia kesulitan menghubungi keluarga maupun teman-temannya.
Tak hanya itu, Evan mengklaim Jesslyn juga tidak diizinkan bepergian sendiri dan harus selalu didampingi sang ibu.
Kondisi tersebut, menurut Evan, berdampak besar terhadap kesehatan mental calon istrinya.
Ia mengatakan Jesslyn sempat kehilangan pekerjaan dan mengalami tekanan psikologis yang berat akibat konflik keluarga.
Bahkan, Evan menyebut Jesslyn pernah beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya sebelum akhirnya memilih keluar dari rumah pada Oktober 2025 untuk menjalani hidup secara mandiri.
Meski sempat menghebohkan publik dengan dugaan penculikan, polisi kini memastikan kasus tersebut mengarah pada persoalan keluarga. Proses hukum pun akan dihentikan karena tidak ditemukan unsur tindak pidana. (*)

