BACAAJA, SEMARANG – Menjelang waktu sahur di bulan Ramadhan, banyak orang mendadak galau. Bangun sudah, mata masih setengah terbuka, lalu muncul pertanyaan klasik: mau tahajud dulu atau langsung ke dapur siapkan sahur?
Dua-duanya ibadah sunnah yang punya nilai besar. Tahajud menguatkan ruhani, sementara sahur jadi “bekal tempur” biar kuat puasa seharian penuh.
Kebingungan ini makin terasa bagi mereka yang ingin total memaksimalkan pahala di bulan penuh ampunan. Rasanya sayang kalau ada momen ibadah yang terlewat begitu saja.
Penjelasan soal hal ini pernah disampaikan oleh Ustadz Adi Hidayat (UAH), pendakwah yang dikenal sistematis dalam mengurai dalil. Dalam salah satu kajiannya, ia menjawab persoalan ini dengan runtut dan mudah dipahami.
Dalam tayangan di kanal YouTube Taffaquh Ilmi, UAH menjelaskan bahwa langkah pertama adalah memahami istilahnya dulu. Banyak orang menyamakan qiyamulail dan tahajud, padahal keduanya tidak sepenuhnya identik.
Qiyamulail adalah istilah umum untuk salat malam. Ia bisa dilakukan sebelum tidur ataupun setelah tidur.
Sementara tahajud secara teknis dilakukan setelah seseorang tidur lebih dulu, lalu bangun di sepertiga malam. Jadi ada unsur “bangun dari tidur” di dalamnya.
Selama Ramadhan, umat Islam sejatinya sudah terbiasa dengan qiyamulail lewat salat tarawih. Artinya, unsur ibadah malam sebenarnya sudah tertunaikan.
UAH pun mengatakan, “Kalau sudah tunaikan qiyamulail lewat tarawih, maka menjelang subuh sebaiknya fokus pada sahur.”
Menurutnya, sahur punya dampak langsung pada kekuatan fisik saat berpuasa. Tanpa sahur yang cukup, tubuh bisa cepat lemas dan akhirnya ibadah lain ikut terdampak.
Karena itu, walaupun tahajud dan sahur sama-sama sunnah, tetap ada skala prioritas yang perlu dipertimbangkan. Bukan soal mana lebih mulia secara mutlak, tapi mana yang paling dibutuhkan saat itu.
Kalau kondisi tubuh terasa butuh asupan agar kuat puasa, maka mendahulukan sahur adalah pilihan yang bijak. Apalagi puasa berlangsung hampir seharian penuh.
Namun bukan berarti tahajud harus ditinggalkan. Justru yang paling ideal adalah mengatur waktu agar keduanya bisa dijalankan.
UAH memberi contoh sederhana. Bangun lebih awal, misalnya sekitar pukul 00.30 atau 01.00, lalu tunaikan dua rakaat tahajud dengan khusyuk.
Setelah itu, lanjutkan dengan persiapan sahur dan makan secukupnya. Tidak perlu berlebihan, yang penting cukup untuk menjaga stamina.
Dengan cara ini, dua keutamaan bisa diraih sekaligus. Pahala tahajud dapat, sunnah sahur pun tidak terlewat.
UAH menegaskan, “Dua-duanya sunnah, tapi kalau bisa dilakukan semua, itu yang paling utama.”
Ia juga mengingatkan bahwa tahajud tanpa sahur berisiko membuat tubuh lemah saat puasa. Kalau sudah terlalu lemas, konsentrasi ibadah siang hari bisa terganggu.
Karena itu, kuncinya ada pada manajemen waktu dan memahami kondisi diri. Ramadhan bukan hanya soal memperbanyak ibadah, tapi juga menjaga keseimbangan.
Memulai sahur dengan dua rakaat tahajud bisa menjadi pembuka yang penuh berkah. Ruhani terisi dulu, lalu fisik dipersiapkan.
Akhirnya, tidak perlu merasa tertekan harus memilih salah satu. Dengan perencanaan yang baik, tahajud dan sahur bisa berjalan beriringan.
Semoga di bulan Ramadhan ini, kita dimampukan menata waktu dengan lebih cerdas, agar ruhani kuat dan fisik pun tetap bertenaga dalam menjalani ibadah puasa. (*)


