BACAAJA, SEMARANG- Program Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) RT Rp25 juta per tahun dinilai cukup membantu warga. Meski begitu, masih ada sejumlah catatan, mulai dari soal waktu pencairan sampai aturan penggunaan yang dianggap kaku.
Salah satu Ketua RT di Semarang Barat, Adri Maulana menyebut, BOP RT sangat terasa manfaatnya bagi warganya. Dana itu banyak dipakai untuk kegiatan sosial yang rutin digelar di kampung.
Baca juga: Dana BOP RT di Semarang Sisa, PKS Sentil Ribetnya Administrasi
“Program bantuan 25 juta ini bagus, dan harapannya terus dilanjutkan. Warga RT kami merasa terbantu, terutama buat konsumsi arisan, kegiatan 17-an, sama malam tirakatan,” kata Adri, Rabu (25/2/2026).
Meski begitu, Adri mengaku banyak pengurus RT yang masih bingung. Mereka khawatir salah menggunakan anggaran dan berujung masalah administrasi. “Kalau saya lihat laporan, banyak RT yang masih takut-takut. Khawatir nanti salah pakai,” ujarnya.
Ia berharap ke depan aturan penggunaan BOP bisa lebih fleksibel. Menurutnya, dana RT sebaiknya bisa dipakai untuk berbagai kegiatan. “Kalau bisa jangan cuma konsumsi. Akan lebih enak kalau bisa buat pembangunan kampung, misalnya bikin polisi tidur dan lainnya,” ucap Adri.
Soal waktu pencairan, Adri berharap BOP bisa cair sejak awal tahun. Menurutnya, pencairan di pertengahan tahun bikin waktu pemakaian terlalu mepet. “Harapannya cair Januari atau awal tahun. Kalau cair pertengahan, waktu habisin Rp25 juta itu singkat banget,” katanya.
Dianggarkan Awal
Ia menilai, kalau program ini memang prioritas dan bagian dari janji politik, seharusnya sudah dianggarkan sejak awal. Adri juga menegaskan pengawasan dana RT tak cuma dari pemerintah. “Pemerintah jangan khawatir. Dana RT itu diawasi warga sendiri. Uang kas yang nilainya kecil saja sensitif, apalagi Rp25 juta,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Joko, warga Kecamatan Ngaliyan. Ia berharap BOP bisa turun lebih awal, syukur-syukur Januari. “Soalnya sering dipakai buat pertemuan bulanan. Kalau cairnya tengah tahun, jadi muncul kecemburuan. Ada RT yang konsumsi ditanggung BOP, ada yang hanya pakai kas RT yang nominalnya lebih sedikit,” kata Joko.
Baca juga: Ratusan RT di Kota Semarang Ogah Ambil BOP, Anggaran Tersisa Miliaran
Namun, tidak semua warga merasakan manfaat BOP. Jaya, warga Kelurahan Manyaran, mengaku RT di lingkungannya sejak awal memilih tidak mengajukan BOP. “Kampungku belum pernah ngajuin. Ketua RT yang baru keberatan ngurus administrasinya, katanya ribet,” ujarnya.
Sebelumnya, Agustina Wilujeng Pramestuti juga angkat bicara soal pencairan BOP RT 2026. Ia belum berani menjanjikan waktu pasti, tapi memastikan bantuan Rp25 juta per RT tetap akan cair.
Menurut Agustina, pencairan BOP masih harus menunggu perhitungan fiskal daerah. Total anggaran yang disiapkan sekitar Rp280 miliar, sehingga perlu koordinasi lintas OPD.
Program ini pada dasarnya disambut positif. Warga merasa terbantu, kegiatan kampung jadi lebih hidup, dan beban kas RT berkurang. Tinggal satu PR yang terus jadi bisik-bisik: jangan sampai dana yang niatnya bikin guyub malah bikin deg-degan karena cairnya kelamaan. Karena di level RT, yang sensitif itu bukan cuma urusan politik, uang kas lima ribu aja bisa jadi bahan rapat panjang, apalagi Rp25 juta. (bae)


