BACAAJA, SEMARANG- Tradisi Dugderan sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan kembali digelar di Kota Semarang pada 7-16 Februari 2026. Yang bikin beda, puncak prosesi Dugderan tahun ini nggak cuma berhenti di satu titik, tapi digelar di tiga lokasi penting.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, Dugderan 2026 membawa pesan kuat soal toleransi dan akulturasi budaya. Apalagi, pelaksanaannya berbarengan dengan perayaan Pasar Imlek Semawis menjelang Tahun Baru Imlek.
Baca juga: Semarang Gaspol Jadi Kota Wisata: Event Dibikin Meriah, Kotanya Dipoles Biar Makin Keren
“Karena bersamaan dengan Imlek, kami menekankan toleransi dan akulturasi antarbudaya serta antarumat beragama. Semua unsur agama dan kepercayaan kami libatkan,” ujar Indriyasari, Jumat (6/2/2026).
Bukan cuma prosesi adat, Dugderan juga jadi ajang ngumpulin warga dan nggerakin ekonomi. Kawasan Alun-alun hingga koridor Semarang Utara ditata dengan sistem zonasi yang lebih rapi. Sepanjang Jalan Ki Narto Sabdo disulap jadi bazar UMKM, tempat jajan, belanja, dan cuci mata.
Wahana Permainan
Sementara itu, area Alun-alun Masjid Agung Semarang sampai Jalan Agus Salim bakal dipenuhi wahana permainan dan panggung hiburan rakyat. Dari kesenian lokal sampai dangdut jadul ala Om Lorenza, semua ada.
Puncak Dugderan bakal digelar Senin (16/2/2026). Acara dibuka dengan karnaval pelajar yang start dari Balai Kota Semarang menuju Mal Paragon. Setelah itu, giliran karnaval Dugderan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat lintas agama dan kepercayaan.
Prosesi utama dilakukan di Balai Kota Semarang, dilanjutkan arak-arakan menuju Masjid Agung Semarang untuk penabuhan bedug. Setelah itu, suasana bergeser ke Alun-alun Kauman, yang diisi pembacaan Suhuf Halaqah, pembagian kue ganjel rel, serta air minum khataman Alquran untuk masyarakat.
Baca juga: Pemkot Semarang Kumpulkan Pelaku Wisata Bahas Arah Baru Pariwisata Kota
Rangkaian acara ditutup dengan perjalanan rombongan ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), tempat peserta Dugderan diterima langsung oleh Gubernur Jawa Tengah.
Dugderan 2026 bukan cuma soal tanda Ramadan datang, tapi juga bukti kalau di Semarang, beda budaya bukan buat ribut, justru buat dirayakan bareng. Tinggal satu PR: jangan sampai niat toleransi kalah sama rebutan ganjel rel. (tebe)


