Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: PWI: Bencana Bukan Cuma Angka, Ada Manusia di Baliknya
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

PWI: Bencana Bukan Cuma Angka, Ada Manusia di Baliknya

Setiap kali bencana datang, linimasa langsung penuh angka korban, bangunan roboh, dan foto-foto yang bikin nyesek. Tapi menurut Ketua Umum PWI, berita bencana seharusnya nggak berhenti di situ. Karena di balik data dan visual dramatis, ada manusia yang sedang berjuang bertahan.

T. Budianto
Last updated: Desember 25, 2025 3:27 pm
By T. Budianto
3 Min Read
Share
BERI SAMBUTAN: Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Akhmad Munir saat menyampaikan sambutannya dalam diskusi "Kaleidoskop Media Massa 2025" di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Selasa (23/12/2025). (Foto: Ist)
SHARE

BACAAJA, JAKARTA- Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Akhmad Munir menegaskan, pemberitaan bencana harus mengedepankan aspek kemanusiaan, bukan sekadar mengejar statistik atau tayangan sensasional.

Munir menyebut, di tengah situasi bencana yang penuh ketidakpastian, kepanikan, dan kecemasan, pers punya peran penting sebagai rujukan informasi agar masyarakat tetap bisa berpikir jernih. Karena itu, akurasi, verifikasi, dan keberimbangan informasi jadi kebutuhan dasar.

“Pemberitaan bencana sejatinya adalah pemberitaan tentang kemanusiaan. Ia tidak boleh direduksi hanya menjadi statistik korban, kerusakan infrastruktur, atau visual dramatis semata,” ujar Munir dalam diskusi Kaleidoskop Media Massa 2025 di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Selasa (23/12/2025).

Baca juga: PWI Jateng Resmi Dilantik: Setiawan Pegang Kemudi, Jurnalis Diminta Tetap Waras di Era Riuh

Menurutnya, etika jurnalistik harus jadi fondasi utama dalam setiap peliputan kebencanaan. Bukan untuk membatasi kebebasan pers, tapi justru untuk menjaga martabat dan kepercayaan publik terhadap profesi jurnalis.

“Kepercayaan publik terhadap media tidak hanya dibangun dari kecepatan, tapi dari integritas, kepekaan, dan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Munir menilai pers Indonesia dituntut mampu menyajikan berita bencana secara akurat, empatik, dan proporsional, dengan menempatkan keselamatan dan kemanusiaan sebagai prioritas utama.

Cegah Kepanikan

Pemberitaan yang jernih dinilai bisa mencegah kepanikan sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap upaya penanganan bencana. Tak hanya itu, pers juga punya peran strategis dalam menjaga narasi optimisme dan keberlanjutan pembangunan nasional, termasuk kepercayaan terhadap iklim investasi dan pariwisata.

“Di balik setiap peristiwa bencana ada manusia yang luka, kehilangan, dan trauma. Karena itu etika jurnalistik harus menjadi fondasi utama dalam setiap peliputan kebencanaan,” katanya.

Melalui peliputan yang kontekstual dan bertanggung jawab, Munir menilai media bisa menunjukkan bahwa bencana tidak menghapus potret utuh Indonesia sebagai bangsa yang tangguh dan siap bangkit. Ia juga mendorong pengembangan jurnalisme bencana yang edukatif, bukan cuma melaporkan kejadian, tapi juga membangun kesadaran mitigasi, kesiapsiagaan, dan ketangguhan masyarakat.

Baca juga: PWI Pusat Punya Pengurus Baru, Siap Gaspol Hadapi Era AI & Perkuat Dunia Pers

“Pers Indonesia harus jadi pilar demokrasi sekaligus pilar kemanusiaan. Hadir saat bencana, setia mengawal pemulihan, dan konsisten menyalakan harapan,” ujarnya.

Ke depan, Munir menilai tantangan pers akan makin kompleks, mulai dari perubahan iklim, percepatan teknologi digital, hingga derasnya arus informasi. Semua itu menuntut jurnalisme yang adaptif, tapi tetap berakar kuat pada profesionalisme dan kode etik. Intinya, berita bencana bukan lomba siapa paling cepat atau paling viral. Karena korban bukan konten, dan air mata bukan clickbait. (tebe)

You Might Also Like

KPK Grebek Kantor Pajak, Gatot Subroto Mendadak Tegang

Iran Akui Ali Khamenei Gugur Diserang AS-Israel, Siapkan Balas Dendam Paling Ganas

Semarang Disulap Jadi “War Room” MBG, Pakar Dunia Turun Gunung

Sekda Jateng: Jangan Baper Sama Pinjol!

Mengerikan! Detik-detik Ojol Tewas Dilindas Mobil Lapis Baja Brimob, Pelaku Kabur ke Mako

TAGGED:headlinejurnalisliputan bencanaPWIwartawan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Dilepas Presiden, Atlet Langsung Mode Menggila
Next Article Kemenpora: Bonus SEA Games Tinggal Gas, Atlet Harap Sabar Dikit

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Undip Kenalkan Kopi Tawangmangu ke Dunia

KPK Kulik Aktivitas Fadia Arafiq Saat Menjabat

Bayar Sampah di Semarang Sekarang Nggak Tunai Lagi

Waisak Belum Mulai, Borobudur Sudah Full Booking

Ibu-Ibu Pegang Pisau Kurban, Ternyata Hukumnya Bikin Banyak Kaget

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Olahraga

Kota Semarang Juara Umum Popda 2025

Juni 20, 2025
Hukum

Cinta Berujung Tragedi: Dosen Cantik Tewas di Tangan Polisi Muda

November 4, 2025
Hukum

Masuk Rumah Bidan Diam-diam, Warga Geruduk Tuntut Kadus Mundur

Mei 6, 2026
The Champions PLN Mobile Proliga 2025 Pertamina Enduro
Olahraga

Pertamina Enduro Juara, Popsiwo Runner Up, Klub Megawati ke-3

Mei 11, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: PWI: Bencana Bukan Cuma Angka, Ada Manusia di Baliknya
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?