BACAAJA, BANJARNEGARA – Suasana Pondok Pesantren Modern Al Madina MBS Pingit, Kecamatan Rakit, sempat geger sejak Minggu sore (14/9/2025). Ratusan santri tiba-tiba mengeluhkan gejala mirip keracunan usai menyantap makanan di pondok.
Awalnya hanya 19 santri yang datang ke Puskesmas Rakit 1 dengan kondisi demam, mual, muntah, dan diare. Mereka sempat dirawat, lalu diperbolehkan pulang. Namun, pada Senin malam (15/9), jumlah santri yang sakit melonjak drastis hingga mencapai puluhan.
Hingga Selasa siang (16/9), data Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara mencatat total ada 146 santri terdampak. Kepala Dinas Kesehatan, dr. Latifa Hesti P, M.Kes, memastikan kondisi sudah dalam penanganan.
“Sebanyak 34 santri masih menjalani rawat inap di puskesmas dan RSUD, sisanya 112 mendapat perawatan jalan. Kami terus memantau kondisi mereka,” jelas dr. Hesti.
Penanganan Medis Cepat
Santri yang sakit langsung mendapat infus, obat, dan pengawasan ketat dari tenaga medis. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap santri yang belum menunjukkan gejala, demi memastikan penyebaran tidak semakin meluas.
Dinas Kesehatan turut mengambil sampel makanan serta air minum terakhir yang dikonsumsi santri. Hasil uji laboratorium di Labkesda Banjarnegara dan Jawa Tengah akan menjadi kunci untuk memastikan penyebab keracunan massal ini.
Posko Darurat Didirikan
Untuk mempercepat penanganan, Tim Gerak Cepat (TGC) langsung mendirikan posko di Puskesmas Rakit 1. Dari sini, pengawasan dan koordinasi lintas sektor dilakukan bersama puskesmas lain serta rumah sakit rujukan.
Selain fokus pada pengobatan, tim juga melakukan pembersihan lingkungan pesantren. Ada pula opsi pembelajaran daring bagi santri yang sehat agar proses belajar tetap berjalan.
Situasi Sudah Terkendali
Meski kasus ini sempat membuat panik, pemerintah daerah memastikan kondisi terkini relatif terkendali. Orang tua santri diminta tetap tenang dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila ada gejala baru yang muncul.
“Kami apresiasi kerja sama pengelola pondok dan lintas sektor yang responsif, mulai dari PMI, BPBD, hingga aparat desa. Semua bergerak cepat,” kata dr. Hesti.
Hingga kini, investigasi masih berjalan. Sementara itu, para santri yang sudah pulih tetap mendapat pemantauan agar tidak terjadi gejala lanjutan. (*)


