BACAAJA, PARIS – Tak ada kekuasaan yang tak bisa ditumbangkan. Aksi protes besar-besaran terjadi di berbagai penjuru Prancis pada 17 Oktober 2026. Gelombang demonstrasi yang diikuti ratusan ribu orang itu berujung rusuh.
Sejumlah gedung dibakar massa. Bahkan bangunan bersejarah tak luput dari aksi pembakaran. Aksi demonstrasi berujung rusuh dan penjarahan itu awalnya menyuarakan tuntutan kepada pemerintah.
Berdasarkan laporan yang kamu berikan, sekitar 550.000 orang ikut dalam demonstrasi tersebut. Sementara itu, sekitar 1.200 orang dilaporkan ditangkap dan 150 polisi mengalami luka-luka.
“Tidak ada tempat bagi kekerasan,” tegas Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Bacaaja: Dua Kerangka Manusia di Bekas Gedung Terbakar Kwitang, Korban Demo Rusuh?
Bacaaja: 1.037 Orang Ditangkap setelah Demo Agustus, Mahfud MD: Sejarah Baru
Situasi ini membuat kondisi keamanan menjadi perhatian serius. Aparat pun menghadapi tantangan untuk mengendalikan keadaan di tengah besarnya jumlah demonstran.
Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu, mengatakan 150 polisi terluka dalam kerusuhan tersebut.
Warga Soroti Sekolah dan Biaya Hidup, Pemerintah Hadapi Tekanan
Aksi protes tersebut tidak muncul begitu saja. Para demonstran menyuarakan berbagai keluhan, mulai dari kondisi sekolah hingga biaya hidup yang semakin membebani masyarakat.
Tuntutan itu menunjukkan adanya keresahan warga terhadap persoalan sosial dan ekonomi yang mereka hadapi.
Besarnya jumlah peserta aksi juga memperlihatkan bahwa ketidakpuasan terhadap pemerintah telah menjadi isu yang mendapat perhatian luas.
Gelombang demonstrasi ini menjadi tantangan bagi pemerintah Prancis. Selain merespons tuntutan masyarakat, pemerintah juga perlu menangani kericuhan agar situasi tidak semakin memburuk.
Namun, informasi mengenai jumlah demonstran, penangkapan, dan korban luka tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui sumber berita tepercaya.
Aksi ini menjadi pengingat bahwa persoalan biaya hidup dan layanan publik dapat memicu gelombang protes besar ketika masyarakat merasa keluhannya belum terjawab. (*)

