BACAAJA, SEMARANG- Saat ini bisa dibilang dunia digital bukan lagi “dunia orang kota”. Itu yang dirasakan sekitar 40 pelaku UMKM di Kelurahan Jabungan, Banyumanik, Semarang saat ikut pelatihan bertema “Pemanfaatan Media Sosial sebagai Media Promosi Produk Olahan UMKM” bareng tim Departemen Administrasi Bisnis Universitas Diponegoro (Undip).
Di sinilah mereka belajar bahwa spanduk dan brosur sudah kalah pamor sama video reels berdurasi 15 detik.Selama ini, kebanyakan peserta masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Tapi, riset yang dibawa tim Undip menunjukkan lebih dari 70 persen konsumen sekarang nemuin produk baru dari media sosial. Makanya, lewat pelatihan ini, mereka diajak naik kelas digital.
Robetmi Jumpakita Pinem, S.AB, MBA, Ph.D, dosen Administrasi Bisnis Undip bilang, kalau promosi efektif itu bukan soal kamera mahal, tapi soal cerita. “Yang penting bukan alatnya, tapi ceritanya. Gimana UMKM bisa jujur dan konsisten dalam bercerita soal produknya,” ujarnya.
Peserta nggak cuma duduk dengerin teori. Mereka langsung praktik: motret produk pakai cahaya alami, nulis caption yang catchy, sampai bikin content plan. Sesi paling rame? Saat mereka disuruh bikin video reels. Banyak yang kaget karena postingan sederhana bisa menjangkau ratusan akun dalam hitungan menit. “Ternyata segampang ini, ya? Saya pikir harus bayar iklan dulu,” kata Diah, salah satu peserta, sambil ngakak kecil.
Tantangan
Meski antusias, nggak sedikit yang curhat soal tantangan bikin konten. Ada yang bilang susah nyari waktu, ada juga yang baru pertama kali buka akun bisnis di Instagram. Tapi Robetmi santai aja. “Transformasi digital itu bukan cuma soal teknologi, tapi soal pola pikir,” jelasnya.
Dari catatan panitia, sekitar 80 persen peserta sebelumnya belum pernah pakai media sosial buat promosi. Sekarang, sebagian besar udah punya akun bisnis dan mulai belajar ngatur jadwal upload.
Tim Undip berharap dari kegiatan ini lahir Komunitas UMKM Digital Jabungan, ruang bareng buat saling promosi, kolaborasi, dan bantu satu sama lain biar tetap eksis di dunia maya. “Dari dapur rumah, produk mereka bisa sampai ke dunia maya, bahkan dunia nyata yang lebih luas,” tutup Robetmi.
Sekarang, ponsel mereka bukan cuma buat nelpon suami atau anak. Tapi juga jadi etalase, studio, sekaligus panggung. Siapa sangka, dari dapur Jabungan, bisa muncul bintang UMKM baru di timeline kita? (tebe)


