Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Bukan Paru-paru Dunia, Asia Tenggara Penyumbang Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Tumbuh

Bukan Paru-paru Dunia, Asia Tenggara Penyumbang Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar

R. Izra
Last updated: Desember 26, 2025 11:07 am
By R. Izra
3 Min Read
Share
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara [pixabay]
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara [pixabay]
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Kalau kamu kira Asia Tenggara itu “paru-paru dunia”, sayangnya faktanya nggak seindah itu.

Studi terbaru yang dipimpin Hiroshima University, Jepang, mengungkap fakta pahit: Asia Tenggara justru jadi salah satu sumber utama gas rumah kaca di dunia.

Emisi yang dilepas ke atmosfer jauh lebih besar dibanding kemampuan alamnya buat menyerap karbon.

Bacaaja: Bencana di Mana-mana, Rencana Energi Indonesia Dinilai Nggak Nyambung
Bacaaja: Irlandia Suntik Mati Seluruh PLTU Batu Bara, Andalkan Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Padahal, kawasan ini punya hutan, rawa, mangrove, dan lahan gambut dengan kandungan karbon tertinggi di planet ini.

“Asia Tenggara punya ekosistem kaya karbon, tapi tetap menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca daripada yang bisa diserap,” kata Masayuki Kondo, penulis utama studi, dikutip Rabu (24/12/2025).

Masalah utamanya bukan alam—tapi aktivitas manusia. Mulai dari:

  • Deforestasi yang kebablasan

  • Pengeringan lahan gambut

  • Kebakaran hutan

  • Pemakaian batu bara yang makin brutal

Studi yang dimuat di Global Biogeochemical Cycles ini menilai, kondisi ini bikin target Perjanjian Paris makin sulit dicapai oleh negara-negara ASEAN.

Peneliti menghitung emisi karbon di Asia Tenggara dari tahun 2000–2019, mencakup karbon dioksida, metana, hingga dinitrogen oksida.

Hasilnya?

  • Hutan dan lahan basah masih menyerap karbon

  • Tapi nggak sanggup ngejar laju penebangan hutan

  • Perubahan fungsi lahan jadi penyumbang emisi terbesar selama 20 tahun terakhir

“Hutan berusaha tumbuh kembali, tapi kalah cepat dengan laju deforestasi,” kata Kondo.

Emisi fosil naik 48 persen, batu bara makin ganas

Yang bikin makin ngeri, emisi dari bahan bakar fosil naik 48 persen.

Awalnya minyak jadi sumber utama. Tapi sejak 2005, batu bara mulai tancap gas. Tahun 2018, emisi batu bara bahkan melampaui minyak.

Kalau semua PLTU batu bara yang direncanakan benar-benar dibangun? Netralitas iklim bisa makin jauh dari kata mungkin.

“Lonjakan emisi batu bara di Asia Tenggara ini belum pernah terjadi sebelumnya,” tegas Kondo.

Masalah lain: banyak wilayah Asia Tenggara belum punya sistem pemantauan emisi yang memadai. Akibatnya, data sering kurang akurat dan kebijakan jadi lambat.

Sebagai solusi, para peneliti membentuk jaringan internasional bernama LeXtra, buat:

  • Memperkuat pemantauan emisi

  • Memperbaiki model iklim

  • Mempermudah berbagi data antarnegara

Apakah masih ada harapan? Menurut peneliti masih. Kuncinya ada di:

  • Menghentikan deforestasi

  • Mengurangi ketergantungan energi fosil

  • Beralih ke kebijakan iklim yang serius

“Asia Tenggara masih punya peluang tumbuh secara ekonomi tanpa menghancurkan iklim,” tutup Kondo.

Kalau hutan terus ditebang dan batu bara terus dipuja, jangan heran kalau Asia Tenggara bukan lagi penyangga iklim—tapi sumber krisisnya.

You Might Also Like

Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput, Kebijakan Iklim Indonesia Salah Arah?

Hati-Hati! Jaringan Terorisme Sasar Anak-anak Lewat Game Online

Bukan Cuma Soal Suara, Posisi Knalpot Juga Berpengaruh Banget Sama Polusi Udara

Dorong Transportasi Hijau, Pemkot Semarang dengan Bus Masifkan Bus Listrik

Bukan Cuma Buang Sampah, TPA Jatibarang Bakal Hasilin Listrik!

TAGGED:asia tenggarabatu baragas efek rumah kacapltutumbuh
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Aksi demonstrasi menuntut penetapan status bencana nasional di Aceh. Liputan Demo Bencana Nasional di Aceh, Ponsel Wartawan Dirampas Oknum TNI
Next Article Dewan Pakar BGN Ikeu Tanziha. Siswa Upload Menu MBG Ada Belatung, BGN: Sikap Kurang Bersyukur

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Jateng Mau Sulap 70 Persen Sampah Jadi Listrik, Mimpi atau Jalan Keluar?

96 Ribu Pejabat “Belum Lapor”, MAKI: KPK Jangan Cuma Kasih Angka, Spill Namanya!

MBG Lima Hari Aja? Santai, Daerah 3T Dapat “Bonus Sabtu”

Bukan Sekadar Haul, Ini “Push Rank” KH Sholeh Darat Jadi Pahlawan Nasional

Haji 2026 Tetap Berangkat, Meski Timur Tengah Lagi Panas-Panasnya

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi anak terpapar konten radikalisme dan terorisme dari game online.
Tumbuh

Awas! Anak Muda Bisa Terpapar Radikalisme dalam Hitungan Bulan dengan Cara Ini

Januari 3, 2026
Ilustrasi TikTok.
Tumbuh

Viral Uninstall Massal TikTok, Gara-gara Pengendali Baru ‘Orang Dekat’ Presiden

Januari 31, 2026
Tumbuh

Pemprov Dorong Transformasi Sampah Jadi Energi

Februari 24, 2026
Ilustrasi kucing peliharaan di dalam rumah.
Tumbuh

Kucing Bikin Mandul dan Keguguran? Begini Fakta Ilmiahnya, Bukan Sekadar Mitos

Januari 14, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Bukan Paru-paru Dunia, Asia Tenggara Penyumbang Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?