BACAAJA, JAKARTA – Kalau kamu kira Asia Tenggara itu “paru-paru dunia”, sayangnya faktanya nggak seindah itu.
Studi terbaru yang dipimpin Hiroshima University, Jepang, mengungkap fakta pahit: Asia Tenggara justru jadi salah satu sumber utama gas rumah kaca di dunia.
Emisi yang dilepas ke atmosfer jauh lebih besar dibanding kemampuan alamnya buat menyerap karbon.
Bacaaja: Bencana di Mana-mana, Rencana Energi Indonesia Dinilai Nggak Nyambung
Bacaaja: Irlandia Suntik Mati Seluruh PLTU Batu Bara, Andalkan Pembangkit Listrik Tenaga Angin
Padahal, kawasan ini punya hutan, rawa, mangrove, dan lahan gambut dengan kandungan karbon tertinggi di planet ini.
“Asia Tenggara punya ekosistem kaya karbon, tapi tetap menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca daripada yang bisa diserap,” kata Masayuki Kondo, penulis utama studi, dikutip Rabu (24/12/2025).
Masalah utamanya bukan alam—tapi aktivitas manusia. Mulai dari:
Deforestasi yang kebablasan
Pengeringan lahan gambut
Kebakaran hutan
Pemakaian batu bara yang makin brutal
Studi yang dimuat di Global Biogeochemical Cycles ini menilai, kondisi ini bikin target Perjanjian Paris makin sulit dicapai oleh negara-negara ASEAN.
Peneliti menghitung emisi karbon di Asia Tenggara dari tahun 2000–2019, mencakup karbon dioksida, metana, hingga dinitrogen oksida.
Hasilnya?
Hutan dan lahan basah masih menyerap karbon
Tapi nggak sanggup ngejar laju penebangan hutan
Perubahan fungsi lahan jadi penyumbang emisi terbesar selama 20 tahun terakhir
“Hutan berusaha tumbuh kembali, tapi kalah cepat dengan laju deforestasi,” kata Kondo.
Emisi fosil naik 48 persen, batu bara makin ganas
Yang bikin makin ngeri, emisi dari bahan bakar fosil naik 48 persen.
Awalnya minyak jadi sumber utama. Tapi sejak 2005, batu bara mulai tancap gas. Tahun 2018, emisi batu bara bahkan melampaui minyak.
Kalau semua PLTU batu bara yang direncanakan benar-benar dibangun? Netralitas iklim bisa makin jauh dari kata mungkin.
“Lonjakan emisi batu bara di Asia Tenggara ini belum pernah terjadi sebelumnya,” tegas Kondo.
Masalah lain: banyak wilayah Asia Tenggara belum punya sistem pemantauan emisi yang memadai. Akibatnya, data sering kurang akurat dan kebijakan jadi lambat.
Sebagai solusi, para peneliti membentuk jaringan internasional bernama LeXtra, buat:
Memperkuat pemantauan emisi
Memperbaiki model iklim
Mempermudah berbagi data antarnegara
Apakah masih ada harapan? Menurut peneliti masih. Kuncinya ada di:
Menghentikan deforestasi
Mengurangi ketergantungan energi fosil
Beralih ke kebijakan iklim yang serius
“Asia Tenggara masih punya peluang tumbuh secara ekonomi tanpa menghancurkan iklim,” tutup Kondo.
Kalau hutan terus ditebang dan batu bara terus dipuja, jangan heran kalau Asia Tenggara bukan lagi penyangga iklim—tapi sumber krisisnya.

![Ilustrasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara [pixabay]](https://bacaaja.co/wp-content/uploads/2025/06/Ilustrasi-pembangkit-listrik-tenaga-uap-PLTU-batu-bara-pixabay.jpg)
