BACAAJA, JAKARTA- Tahun 2025 rasanya bukan tahunnya atlet Indonesia buat main aman. Yang ada, gas, ngebut, dan nggak banyak basa-basi. Dari lapangan bulutangkis sampai dinding panjat, dari barbel sampai raket tenis, satu pesan yang sama terus muncul: Indonesia nggak sekadar ikut lomba, tapi ikut ganggu dominasi dunia.
Bukan cuma soal medali yang kinclong, tapi juga soal mental juara yang makin keliatan. Ini dia deretan atlet Indonesia yang sepanjang 2025 tampil paling kencang, paling konsisten, dan paling bikin lawan mikir ulang sebelum tanding.
Fajar Alfian / Muhammad Shohibul Fikri
Dipertemukan dadakan, hasilnya kejutan. Awalnya cuma eksperimen, ujung-ujungnya jadi solusi. Fajar dan Fikri yang dipasangkan di tengah musim malah jadi tumpuan harapan bulutangkis Indonesia. Dari empat turnamen BWF Super 1000, cuma mereka yang berhasil bawa pulang gelar.
China Open 2025 jadi bukti paling sahih. Penutup tahunnya juga manis: ranking 6 dunia dan tiket BWF World Tour Final. Chemistry mereka jelas bukan setting-an.
Kiromal Katibin
Speed climbing rasa skip iklan. Kalau ada istilah “lari tanpa mikir”, Kiromal definisinya. Atlet panjat tebing speed ini resmi jadi juara dunia IFSC Speed 2025. Umurnya masih 25 tahun, tapi koleksi medalinya udah bikin dinding podium penuh.
Satu emas, satu perak, dua perunggu dalam satu musim, medali emasnya datang dari Denver, AS. Indonesia? Masih pegang hak paten soal atlet speed climbing kelas dunia.
Rizki Juniansyah
Ngangkat besi, rekor dunia ikut terangkat. Abis emas Olimpiade Paris 2024, Rizki bukannya santai, malah tambah nekat. Di Kejuaraan Dunia 2025, dia borong dua emas dan mecahin rekor dunia clean and jerk 204 kg.
SEA Games 2025 juga nggak luput dari aksinya. Rekor clean and jerk dan total angkatan dibabat lagi. Intinya: kalau rekor ada, Rizki pengin nyobain ngancurin.
Janice Tjen
Tenis Indonesia akhirnya punya storyline. Tenis Indonesia pelan-pelan keluar dari mode senyap. Janice Tjen jadi tokoh utamanya. Juara Chennai Open 2025, runner-up di Brasil, dan yang paling penting: lolos US Open 2025.
Meski langkahnya terhenti di babak dua, panggung Grand Slam itu udah cukup jadi statement. Ditambah emas SEA Games dari nomor ganda, Janice nunjukin kalau proses naik level itu nyata.
Martina Ayu Pratiwi
Triathlon tapi medalinya borongan. Kalau medali bisa dipanen, Martina udah kayak musim panen raya. Atlet triathlon 21 tahun asal Magetan ini jadi penyumbang medali terbanyak Indonesia di SEA Games 2025: 5 emas dan 2 perak.
Aquathlon? Gas. Duathlon? Libas. Triathlon individual? Aman. Walau masih level Asia Tenggara, sinyalnya jelas: Martina bukan cuma buat SEA Games.
Tahun 2025 nunjukin satu hal penting: atlet Indonesia sebenarnya udah siap lari jauh, asal nggak ditarik mundur sama urusan klasik di luar arena. Mereka udah ngebut, tinggal pertanyaannya: ekosistemnya mau ikut gas atau masih sibuk nyalain lampu sein? (tebe)


