BACAAJA, PURWOKERTO- Anggota DPD RI Abdul Kholik menilai kawasan di sepanjang Jalur Selatan Jawa Tengah atau Jasela punya potensi besar buat dikembangkan sebagai penyangga pangan nasional.
Menurutnya, penguatan sektor pertanian, perikanan, hingga pembangunan konektivitas antarwilayah harus dilakukan secara terintegrasi agar kawasan selatan bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Kita ingin membahas strategi pengembangan pertanian dan perikanan untuk mewujudkan kemandirian pangan di wilayah Barlingmascakeb dan Purwomanggung, khususnya Jasela,” kata Abdul Kholik dalam Diskusi Kelompok Terpumpun di Purwokerto,belum lama ini.
Baca juga: Jalur Tengah Jateng Siap Jadi Favorit Pemudik
Diskusi itu melibatkan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Baperida) dari wilayah Barlingmascakeb yang meliputi Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen.
Selain itu hadir pula perwakilan Purwomanggung yang terdiri dari Purworejo, Wonosobo, Magelang, dan Temanggung. Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto juga ikut dilibatkan dalam pembahasan tersebut.
Kholik mengatakan Jateng masih menghadapi tantangan besar dalam pembangunan. Mulai dari tingginya jumlah penduduk, kemiskinan, ketimpangan wilayah, hingga ancaman terhadap sektor pangan akibat alih fungsi lahan dan minimnya regenerasi petani.
Dengan jumlah penduduk sekitar 38 juta jiwa, menurut dia, pembangunan ekonomi tidak bisa terus berpusat di kawasan pantai utara saja. “Kita melihat disparitasnya masih tinggi. Ada daerah yang angka kemiskinannya sekitar 4 persen, tapi di wilayah selatan masih ada yang dua digit,” ujarnya.
Modal Kuat
Dia menilai Jasela punya modal kuat karena didukung sektor pertanian, perikanan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif. Apalagi kawasan itu dihuni sekitar 11,8 juta jiwa yang dinilai cukup potensial menjadi kekuatan ekonomi baru. “Kemajuan itu jangan cuma diukur dari industri manufaktur. Sektor pangan juga industri strategis,” katanya.
Sementara itu, Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Mahdi Abdillah, mengatakan sektor pertanian dan perikanan punya pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi daerah dan pengendalian inflasi.
Menurutnya, komoditas pangan yang harganya sering naik turun masih jadi penyumbang utama inflasi di wilayah eks Keresidenan Banyumas. Bank Indonesia, kata Mahdi, terus mendukung ketahanan pangan melalui pengembangan klaster pangan strategis, kerja sama antardaerah, digitalisasi pertanian, sampai penguatan hilirisasi produk. “Kolaborasi antardaerah jadi kunci karena setiap wilayah punya potensi yang bisa saling melengkapi,” katanya.
Baca juga: Sawah Kebanjiran, Luthfi Jamin Stok Pangan Masih Aman
Dalam diskusi itu, Kepala Pusat Studi Transportasi dan Pengembangan Wilayah LPPM Unsoed, Probo Hardini, menyoroti masih lemahnya konektivitas antarwilayah di kawasan selatan Jateng.
Menurut dia, ego sektoral antarwilayah juga masih jadi hambatan dalam pengembangan kawasan. “Kami menemukan tiap daerah punya keunggulan masing-masing, jadi pendekatannya harus kolaboratif,” ujarnya.
Sementara pakar kebijakan publik Unsoed, Prof Slamet Rosyadi, menegaskan pengembangan pertanian dan perikanan di Jasela harus sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Zero Hunger atau tanpa kelaparan.
Perguruan tinggi, kata dia, siap mendukung lewat riset, inovasi teknologi, dan pendampingan kebijakan agar sektor pangan di wilayah selatan makin produktif dan punya nilai tambah.
Kalau semua daerah sudah mau duduk satu meja dan berhenti sibuk jaga “wilayah kekuasaan”, mungkin Jalur Selatan nggak lagi cuma terkenal karena tikungan dan tanjakannya, tapi juga karena jadi dapur besar yang bikin Jawa Tengah tetap kenyang. (tebe)

