BACAAJA, MAGELANG- Rupiah Borobudur Playon 2026 kembali membuktikan bahwa sebuah event olahraga bisa memberi dampak lebih dari sekadar menyehatkan tubuh. Tahun ini, seluruh dana pendaftaran peserta yang mencapai lebih dari Rp600 juta akan disalurkan kepada 10 desa di sekitar Borobudur untuk mendukung program pengelolaan sampah.
Sekda Jateng, Sumarno mengapresiasi konsistensi Bank Indonesia yang terus mengemas Rupiah Borobudur Playon sebagai ajang yang memadukan olahraga, pemberdayaan ekonomi, edukasi, hingga aksi sosial.
“Kami dari Pemprov Jateng mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia yang selalu konsisten menyelenggarakan kegiatan ini,” ujar Sumarno saat konferensi pers di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu (5/7/2026).
Baca juga: Borobudur Marathon Bukan Sekadar Lari: Sport Tourism Jadi Mesin Ekonomi Jawa Tengah
Menurutnya, manfaat event lari saat ini tak lagi berhenti pada gaya hidup sehat. Ajang seperti Borobudur Playon juga menjadi strategi menggerakkan ekonomi daerah melalui sektor sport tourism.
“Jateng pertumbuhan ekonominya banyak ditopang konsumsi. Untuk meningkatkan konsumsi tentu saja harus banyak mendatangkan orang dari luar Jawa Tengah,” katanya.
Ia menilai penyelenggaraan Borobudur Playon berhasil menghadirkan efek berantai. Wisata bergerak, UMKM ikut berjualan, hotel terisi, hingga masyarakat sekitar memperoleh manfaat langsung dari hasil penyelenggaraan acara.
Program Lingkungan
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M Noor Nugroho, menjelaskan seluruh biaya pendaftaran peserta akan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk program lingkungan.
“Yang kami peroleh dari pendaftaran pelari itu kira-kira Rp600 juta dan itu akan kami donasikan ke 10 desa untuk program pengolahan sampah,” ujarnya.
Selain lomba lari kategori 5 kilometer dan 10 kilometer, Rupiah Borobudur Playon juga diramaikan puluhan UMKM binaan Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS), perlindungan konsumen, hingga operasi pasar murah.
Antusiasme masyarakat terhadap ajang ini pun terus meningkat. Jika pada penyelenggaraan perdana tahun 2023 diikuti sekitar 2.000 peserta, tahun ini jumlah pelari melonjak menjadi sekitar 4.000 orang.
Baca juga: Sport Tourism Dongkrak Ekonomi, Pemprov Genjot Event Lari di Tiap Daerah
Sejumlah pejabat juga ikut merasakan atmosfer lomba. Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi turun di kategori 5 kilometer, sementara Sekda Sumarno menyelesaikan rute 10 kilometer bersama ribuan peserta lainnya.
Salah satu peserta asal Yogyakarta, Laras Khalifah mengaku tak pernah bosan mengikuti Borobudur Playon. Tahun ini menjadi kali ketiganya ia ambil bagian dalam ajang tersebut.
“Event ini sangat menyenangkan. Rutenya juga bagus. Kebetulan tadi tidak terlalu panas, suasananya meriah, saya ikut bersama anak saya dan kami sangat menikmati event ini,” katanya.
Menurut Laras, suasana sejuk kawasan Borobudur menjadi alasan utama dirinya selalu kembali. “Selain dekat dari rumah, suasananya juga sejuk dan menyenangkan. Itu yang membuat saya tertarik ikut lagi,” ujarnya.
Banyak event olahraga selesai ketika pelari melewati garis finis. Borobudur Playon memilih melangkah lebih jauh, ketika langkah para pelari berhenti, manfaatnya justru mulai berlari menuju masyarakat. (tebe)

