BACAAJA, BEKASI — Kisahnya kayak plot film thriller, tapi ini kejadian beneran. Ermanto Usman (65), mantan bos HRD di Jakarta International Container Terminal (JICT), tewas secara tragis di rumahnya, Senin (2/3/2026).
Kematian Ermanto Usmlang bikin publik langsung auto curiga. Kenapa? Karena almarhum bukan orang biasa. Dia dikenal vokal banget bongkar dugaan praktik nggak beres di lingkungan pelabuhan.
Ia juga pernah jadi ketua serikat pekerja dan aktif menyuarakan isu-isu yang dianggap janggal di internal perusahaan.
Bacaaja: OTT Bupati Fadia Arafiq, Pemprov Jateng Pastikan Pemerintahan Pekalongan Tetap Berjalan
Bacaaja: Daftar 7 Bupati/Wali Kota Hasil Pilkada 2024 yang Terjaring OTT KPK, Dua dari Jateng
JICT sendiri adalah anak usaha Pelindo, operator pelabuhan terbesar di Indonesia.
Dua kali dipecat karena terlalu lantang
Menurut kakaknya, Dalsaf Usman, Ermanto sempat dua kali dipecat karena dianggap terlalu keras mengkritik kebijakan internal.
“Dia dipecat karena mengkritik kebijakan yang tidak sesuai prosedur. Tapi akhirnya dibatalkan,” kata Dalsaf.
Bukan cuma jadi Manager HRD, Ermanto juga pernah jadi ketua serikat pekerja. Setelah pensiun 9 tahun lalu, bukannya santai, dia malah makin aktif bikin podcast dan diskusi publik.
Topiknya nggak main-main: dugaan korupsi dan perpanjangan kontrak JICT dengan perusahaan Hong Kong, Hutchison Port Holdings (HPH). Berani? Banget.
Keluarga: ini bukan sekadar perampokan
Ermanto dan istrinya ditemukan meninggal dunia pada Senin (2/3/2026). Dugaan awal polisi mengarah ke perampokan karena ada barang hilang.
Tapi keluarga merasa ada yang janggal.
Putra sulungnya bilang, sang ayah sadar banget risiko dari apa yang dia lakukan.
“Bapak saya mencoba membuka kebenaran,” katanya.
Keluarga bahkan meminta keadilan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto, berharap kasus ini nggak cuma berhenti di label “perampokan”.
Fakta-faktanya bikin orang mikir dua kali:
- Pernah vokal soal dugaan korupsi
- Sempat dua kali dipecat
- Masih aktif ngomong di ruang publik
- Tewas secara misterius
Apakah ini murni kriminal biasa? Atau ada layer lain yang belum kebuka?
Polisi masih menyelidiki. Tapi satu hal yang jelas: kematian Ermanto bukan cuma soal kehilangan satu orang, tapi juga soal keberanian bersuara di sektor strategis seperti pelabuhan.
Dan sekarang, semua mata tertuju: siapa yang sebenarnya bermain di balik layar? (*)


