BACAAJA, CIROBAN — Warga Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon lagi resah.
Kawasan perbukitan yang selama ini dikenal sebagai hutan penyangga mata air, mendadak ditanami kelapa sawit.
Iya, tanaman sawit memang pohon. Ada daunnya. Tapi gak berfungsi seperti vegetasi alami yang bisa menahan air dan mengikat tanah.
Konyolnya lagi, pemerintah kabupaten setempat ngaku kaget. Kok tibta-tiba ada kebun sawit di wilayahnya. Bukan sulapan kan ya?
Bacaaja: Izin 128.000 Hektare Hutan Papua untuk Sawit Diam-diam Terbit, Masyarakat Adat Murka
Bacaaja: Dewan Adat Papua Tolak Kebun Sawit: Ogah Warisin Bencana ke Anak-Cucu
Hamparan sawit itu tersebar di area sekitar empat hektar, tepat di lereng dan bukit yang sebelumnya masih hijau dengan vegetasi hutan alami.
Foto-fotonya pun viral di media sosial dan langsung menuai kritik. Banyak yang mempertanyakan: kok bisa sawit masuk ke kawasan hutan?
Pegiat lingkungan dari Sawala Buana, Hipal Surdiniawan, ikut angkat suara.
Menurutnya, penanaman sawit di kawasan perbukitan Cigobang adalah langkah yang keliru dan berisiko tinggi.
Soalnya, hutan di wilayah itu punya fungsi penting sebagai penyangga mata air sekaligus pelindung tanah dari longsor.
“Sebagai pegiat lingkungan, kami jelas menolak. Hutan Cigobang ini penyangga mata air. Jangan ditanami sawit, harusnya tetap jadi hutan,” tegas Hipal, Selasa (30/12/2025).
Hipal menyebut, sawit-sawit tersebut ditanam sekitar empat bulan lalu dengan jarak tanam sekitar enam meter per pohon. Area yang sekarang dipenuhi sawit sebelumnya merupakan kawasan hutan di lereng bukit.
Kondisi ini, kata dia, bisa memperbesar risiko longsor saat musim hujan karena vegetasi alami yang menahan tanah mulai berkurang.
Dari informasi yang beredar, lahan yang ditanami sawit merupakan lahan milik warga, namun sebagian pengelolaannya melibatkan perusahaan lewat skema kerja sama.
Mulai dari sistem sewa lahan sampai bagi hasil. Meski begitu, pola kerja sama ini tetap menuai penolakan dari warga sekitar.
Salah satunya datang dari Sara (55), warga Desa Cigobang. Ia mengaku khawatir dampak jangka panjang dari keberadaan sawit di kawasan bukit.
Menurutnya, persoalan air bersih di Cigobang saja sudah jadi masalah sejak lama—dan sawit bisa bikin situasi makin parah.
“Kalau sawit terus ada, nanti air bisa terdampak. Yang rugi masyarakat, apalagi anak cucu kita. Kami mohon ini jadi perhatian pemerintah,” ujar Sara.
Kekhawatiran warga bukan tanpa dasar. Secara ekologis, kelapa sawit dikenal sebagai tanaman dengan kebutuhan air tinggi. Banyak kajian menyebut, penanaman sawit di kawasan perbukitan bisa menguras cadangan air tanah.
Ditambah lagi, akar sawit yang relatif dangkal dinilai tidak sekuat pohon hutan alami dalam menahan struktur tanah, sehingga rawan erosi dan longsor saat hujan deras.
Menariknya, Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon justru mengaku kaget dengan kemunculan kebun sawit di Cigobang.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan menyebut pihaknya belum mengetahui secara pasti bagaimana awal mula penanaman sawit tersebut.
Ia juga menegaskan, kelapa sawit bukan komoditas unggulan di Kabupaten Cirebon. Selama ini, arah pengembangan perkebunan difokuskan pada tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Apalagi, Desa Cigobang dikenal sebagai kawasan hutan dan daerah penyangga mata air.
Kini, warga berharap ada langkah tegas dari pemerintah. Bagi mereka, menjaga hutan Cigobang bukan cuma soal hari ini, tapi soal masa depan air, tanah, dan kehidupan generasi berikutnya. (*)

