BACAAJA, SEMARANG- Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Kota Semarang komentar soal dana Bantuan Operasional (BOP) RT yang tidak terserap pada pelaksanaan Tahun Anggaran 2025.
Anggota Fraksi PDIP DPRD Kota Semarang yang juga anggota Komisi A, Rahmulyo Adi Wibowo menilai, besaran dana yang belum terserap tahun kemarin dinilai masih wajar. Mayorotas RT lebih dari 90 persen mengambilnya.
Dia menyebut menyebut BOP pada dasarnya adalah bantuan. Jadi maklum kalau ada RT atau RW yang mengambil, ada juga yang memilih tidak. “Ada sekitar 400-an RT yang tidak mengambil dari 10 ribu sekian. Menurut saya itu hal yang wajar,” kata Rahmulyo, Sabtu (10/1/2026).
Baca juga: Dana BOP RT di Semarang Sisa, PKS Sentil Ribetnya Administrasi
Menurutnya, dana yang tidak terserap otomatis masuk ke Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa). Dana itu nantinya tetap diperhitungkan dalam pengelolaan keuangan daerah.
“Yang enggak terserap masuk Silpa. Itu biasa saja, enggak ada masalah,” ujarnya. Rahmulyo menilai, dari sisi persentase, jumlah RT yang tidak mengambil BOP sangat kecil, di bawah 5 persen. Artinya, program ini tetap dirasakan manfaatnya oleh mayoritas RT dan RW.
Respons Positif
“400 sekian dari 10 ribu lebih itu kan kecil. Artinya BOP Rp25 juta ini benar-benar dimanfaatkan,” katanya. Dari aspirasi yang ia terima selama setahun terakhir, Rahmulyo menyebut respons RT dan RW justru positif. Banyak pengurus lingkungan merasa terbantu dengan adanya BOP.
“Mereka senang. Geliat kegiatan masyarakat juga kelihatan,” ucapnya. Ia mencontohkan, pertemuan warga yang dulu jarang digelar kini jadi lebih rutin. Banyak kegiatan sosial yang sebelumnya tidak ada, sekarang bisa jalan karena dicover BOP.
Baca juga: Ratusan RT di Kota Semarang Ogah Ambil BOP, Anggaran Tersisa Miliaran
Sebelumnya, Kepala DP3A Kota Semarang, Eko Krisnarto bilang, pada 2025 kemarin, dari 10.621 RT yang terdaftar, sebanyak 10.157 RT mengambil BOP Rp25 juta per tahun.
Sedangkan jika dirupiahkan, dari jumlah RT itu yang mengambil 253,925 miliar, yang tidak mengambil 464 RT tadi ada sekitar Rp11,6 miliar. Kemudian, berdasarkan hasil monitoring evaluasi, dari jumlah RT yang mengambil tidak semuanya terserap, tetapi ada sisa Rp5,4 miliar. (bae)


