BACAAJA, SEMARANG – Cerita soal anjing yang tiba-tiba menggonggong ke arah kosong bukan hal baru. Banyak orang pernah mengalami atau setidaknya mendengar kisah serupa, yang sering dikaitkan dengan hal-hal mistis.
Salah satu cerita datang dari Marc Eaton, profesor sosiologi di Ripon College. Ia pernah berbincang dengan seorang penyelidik paranormal yang baru saja kehilangan ayahnya.
Dalam cerita itu, anjing milik pria tersebut sering menggonggong ke arah tangga dan tampak seperti mengikuti sesuatu yang tak terlihat. Karena kejadian itu muncul setelah sang ayah meninggal, ia yakin anjingnya sedang merasakan kehadiran arwah.
Cerita semacam ini langsung terasa familiar. Banyak orang mengaitkan perilaku hewan yang “aneh” dengan sesuatu yang gaib, apalagi jika terjadi di momen emosional seperti kehilangan orang tercinta.
Kepercayaan bahwa anjing bisa melihat atau merasakan roh bahkan sudah ada sejak lama. Di peradaban Aztec kuno, anjing dipercaya mampu melihat hantu dan menjadi penuntun jiwa manusia di alam setelah kematian.
Dari situ muncul pertanyaan yang terus berulang: apakah benar anjing punya kemampuan khusus yang tak dimiliki manusia?
Sebagian kalangan mencoba menjawab lewat pendekatan parapsikologi. Mereka percaya anjing memiliki kemampuan ekstra seperti Extrasensory perception atau ESP.
Konsep ini mencakup kemampuan di luar lima indera, seperti telepati, melihat kejadian jauh, atau bahkan memprediksi masa depan. Dalam pandangan ini, anjing dianggap bisa menangkap “sesuatu” yang tidak kasatmata.
Parapsikolog seperti Loyd Auerbach berpendapat bahwa jika hantu bukan fenomena fisik, maka dibutuhkan persepsi nonindrawi untuk bisa merasakannya.
Namun di sisi lain, sains modern belum menemukan bukti kuat yang mendukung keberadaan kemampuan semacam itu. Banyak penelitian yang mencoba menguji ESP justru berakhir tanpa hasil yang meyakinkan.
Karena itu, sebagian besar ilmuwan memilih pendekatan yang lebih realistis. Mereka melihat perilaku anjing bukan sebagai hal mistis, melainkan sebagai respons terhadap rangsangan fisik yang tidak kita sadari.
Misalnya, anjing bisa saja mendengar suara kecil di dalam dinding atau mencium bau yang sangat halus. Hal-hal seperti ini sering kali luput dari indera manusia.
Psikolog Christopher French bahkan menyebut bahwa reaksi anjing lebih mungkin dipicu oleh rangsangan alami daripada hal supernatural.
Faktanya, kemampuan indera anjing memang luar biasa. Mereka memiliki sekitar 220 juta reseptor penciuman, jauh lebih banyak dibanding manusia.
Selain itu, anjing juga punya organ khusus bernama Organ Jacobson yang memungkinkan mereka mendeteksi sinyal kimia yang sangat halus.
Kemampuan ini membuat anjing bisa mencium hal-hal yang benar-benar tak terdeteksi oleh manusia, termasuk perubahan kondisi tubuh atau lingkungan.
Dari sisi pendengaran, anjing juga unggul jauh. Mereka bisa menangkap frekuensi suara yang lebih tinggi dan suara yang sangat pelan.
Peneliti seperti Ellen Furlong menjelaskan bahwa ketika anjing terlihat menatap kosong atau memiringkan kepala, bisa jadi mereka sedang fokus pada suara atau bau tertentu.
Menariknya, justru penglihatan anjing tidak sebaik manusia. Mereka tidak melihat warna sejelas kita dan lebih mengandalkan gerakan serta perubahan cahaya.
Hal ini bisa membuat kita salah paham. Saat anjing tampak melihat sesuatu yang “tidak ada”, sebenarnya mereka mungkin hanya menangkap gerakan kecil atau cahaya yang berubah.
Lalu kenapa kepercayaan soal anjing dan makhluk halus tetap kuat? Eaton menjelaskan bahwa faktor budaya punya peran besar.
Dalam banyak budaya, hewan dan anak kecil dianggap lebih “peka” terhadap hal-hal spiritual. Sementara orang dewasa cenderung mencari penjelasan logis.
Akhirnya, saat anjing bereaksi aneh, orang yang sudah percaya pada hal gaib akan langsung mengaitkannya dengan keberadaan makhluk tak terlihat.
Meski sains menawarkan penjelasan rasional, daya tarik cerita mistis tetap sulit hilang. Apalagi jika pengalaman itu terasa personal dan emosional.
Jadi, apakah anjing benar-benar bisa melihat hantu? Sampai sekarang, sains lebih condong mengatakan tidak. Tapi satu hal pasti, kemampuan indera mereka memang jauh lebih tajam dari yang kita kira. (*)

