BACAAJA, SEMARANG- Wayang disebut sudah menjadi bagian dari napas kehidupan Kota Semarang. Karena itu, pelestariannya tak cukup hanya dengan menyimpannya sebagai warisan budaya, tetapi harus terus diberi ruang untuk tampil dan berinteraksi dengan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng saat menyaksikan Wayang On The Street dalam rangkaian Festival Kota Lama 2026 di kawasan Kota Lama, Minggu (13/9/2026) malam.
Menurut Agustina, wayang bukan sekadar tontonan. Seni tradisi tersebut telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Semarang. “Karena kita sebagai masyarakat sangat menghargai wayang, menjadikan wayang adalah bagian dari napas hidup kita,” kata Agustina.
Baca juga: Agustina Ajak Warga Ikut “Nostalgia” di Festival Kota Lama 2026
Ia menilai konsep Wayang On The Street justru memiliki daya tarik tersendiri karena membawa pertunjukan tradisional keluar dari ruang konvensional. Wayang tak lagi berjarak dengan penonton, tetapi hadir di tengah keramaian dan bisa dinikmati siapa saja.
Antusiasme warga yang memadati kawasan pertunjukan, bahkan tanpa disediakan tempat duduk, menurut Agustina menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki ketertarikan terhadap seni tradisi.
“Wayang On The Street ini menjadi ikonik dan jika ini menjadi sesuatu yang terus-menerus dilakukan di waktu tertentu maka akan menjadi momen yang ditunggu,” ujarnya.
Bagi Agustina, menjaga wayang tetap hidup juga harus dibarengi kemampuan Semarang merawat keberagaman budaya. Kota ini sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai budaya, sehingga akulturasi menjadi bagian dari perjalanan identitasnya.
Akar Budaya
Namun, keterbukaan terhadap budaya lain tidak boleh membuat akar budaya Jawa justru hilang. “Budaya asli kita tetap harus kita pelajari supaya proses harmoninya itu semakin lama tidak memudarkan budaya kita sebagai masyarakat Jawa di Kota Semarang,” tegasnya.
Agustina mencontohkan Warak Ngendog yang menjadi simbol percampuran budaya Tionghoa, Arab, dan Jawa. Menurutnya, keberagaman semacam itu justru menjadi kekuatan Semarang.
Karena itu, pelestarian budaya tidak berarti membekukan tradisi. Sebaliknya, budaya harus tetap memiliki akar, tetapi diberi ruang untuk berkembang mengikuti zaman.
Tak berhenti pada urusan budaya, Agustina melihat kegiatan seperti Festival Kota Lama juga memiliki efek ekonomi. Ketika pertunjukan budaya mampu menarik masyarakat dan wisatawan, kawasan perdagangan ikut bergerak. Pelaku UMKM, kuliner, hingga sektor wisata pun mendapat peluang dari ramainya aktivitas kota.
Baca juga: Festival Kota Lama 2025 Siap Pecah Banget! Dari Musik, Fashion, Sampai Kuliner Nostalgia, Semua Ada!
Pengalaman Wayang Orang Ngesti Pandowo tampil di Rotterdam, Belanda, menjadi salah satu bukti bahwa seni tradisi Semarang sebenarnya memiliki panggung yang lebih luas. Tantangannya tinggal bagaimana keberlanjutan seni tersebut dijaga melalui regenerasi dan dukungan kebijakan.
Agustina pun memberi perhatian pada keterlibatan generasi muda dan komunitas. Sebab, tanpa regenerasi, wayang berisiko hanya menjadi cerita tentang masa lalu.
“Biarkan wayang membawa cerita, Kota Lama membawa suasana, dan Kota Semarang memberi pengalaman yang akan dibawa pulang oleh setiap tamu yang datang,” kata Agustina.
Lewat Wayang On The Street, Pemkot Semarang ingin budaya tidak berhenti sebagai pertunjukan yang selesai ketika lampu panggung dimatikan. Wayang diharapkan menjadi bagian dari pengalaman kota, menghibur warga, menarik wisatawan, menggerakkan ekonomi, sekaligus mengingatkan bahwa Semarang boleh modern, tetapi tak perlu kehilangan akar budayanya. (tebe)

