BACAAJA, SEMARANG – Bacaan takbir saat sholat memang hanya terdiri dari dua kata, tetapi cara melafalkannya tidak boleh sembarangan. Gus Baha mengingatkan ada detail kecil yang perlu diperhatikan, terutama saat mengucapkan huruf awal dalam lafadz Allahu Akbar.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menjelaskan, memanjangkan bunyi hamzah atau huruf “A” pada awal takbir bisa mengubah maksud kalimat. Kesalahan tersebut bukan sekadar persoalan enak atau tidaknya bacaan, melainkan bisa menggeser makna dari sebuah pernyataan menjadi pertanyaan.
“Kalau hamzahnya dipanjangin, bisa-bisa artinya berubah dari kalimat khabar menjadi kalimat tanya. Itu kan bahaya,” ujar Gus Baha dalam sebuah pengajian.
Menurut ulama asal Narukan, Rembang, lafadz “Allahu Akbar” merupakan kalimat khabar yang menegaskan bahwa Allah Maha Besar. Karena itu, pengucapannya harus dijaga agar tidak terdengar seperti sedang mempertanyakan kebesaran Allah.
Ia kemudian memberikan contoh ketika seseorang membaca takbir dengan bunyi “Aaa…llahu Akbar”. Menurutnya, pelafalan semacam itu berpotensi mengubahnya menjadi bentuk istifham atau kalimat tanya.
“Misalnya dibaca ‘Aaa…llahu Akbar’ itu bisa jadi bentuk istifham, jadi kayak nanya ‘Apakah Allah Maha Besar?’ Nah, ini bukan hanya keliru, tapi juga bisa jatuhnya mendekati kekufuran,” jelasnya.
Penjelasan tersebut disampaikan Gus Baha dalam kajian yang membahas ketelitian membaca lafadz dalam ibadah sholat. Cuplikan ceramahnya juga diunggah melalui kanal YouTube @khidmatumatchannel9230.
Gus Baha menerangkan, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan tajwid, tetapi juga menyangkut pemahaman terhadap makna bahasa. Menurutnya, seseorang perlu mengetahui apa arti bacaan yang dilafalkan agar tidak asal mengucapkan kalimat dalam ibadah.
Ia juga mengingatkan bahwa belajar tajwid sebaiknya dilakukan secara talaqqi, yakni belajar langsung kepada guru dengan bimbingan dan koreksi. Cara ini dinilai lebih tepat dibandingkan hanya mengandalkan bacaan dari teks.
Dalam ceramahnya, Gus Baha bahkan menyindir orang yang tidak menyadari kekeliruan tersebut dengan gaya khasnya. “Setengah kafir itu, wong goblok!” ujarnya sambil tertawa.
Ia juga menyinggung kemungkinan imam melakukan kesalahan pengucapan tanpa disadari makmum. “Alhamdulillah makmumnya ora paham, kalau paham bisa repot,” katanya yang disambut tawa jamaah.
Meski disampaikan dengan candaan, Gus Baha menegaskan bahwa setiap bacaan sholat harus diperhatikan. Sebab, kalimat takbir bukan sekadar rangkaian kata yang dihafalkan, melainkan bentuk pengagungan seorang hamba kepada Allah SWT.
Ia mengajak umat Islam untuk tidak terburu-buru ketika membaca lafadz ibadah. Memahami makna setiap ucapan juga penting agar sholat tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi dijalankan dengan kesadaran dan kekhusyukan. (*)

