BACAAJA, SEMARANG – Rasa tidak nyaman saat berhubungan intim ternyata bukan sesuatu yang selalu bisa dianggap sepele. Pada sebagian perempuan, kondisi itu memang bisa terjadi sesekali dan bukan pertanda masalah serius.
Namun, kalau nyerinya muncul berulang, makin berat, atau bahkan disertai perdarahan, ada baiknya segera melakukan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut.
Dokter mengingatkan bahwa salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah kanker serviks, terutama jika keluhan tersebut dibarengi gejala lain yang tidak biasa.
Kanker serviks sendiri merupakan kanker yang berkembang pada leher rahim atau serviks, yaitu bagian bawah rahim yang terhubung langsung dengan vagina.
Sebagian besar kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi Human Papillomavirus atau HPV, virus yang umumnya menular melalui kontak seksual.
Pada banyak orang, sistem imun mampu melawan virus tersebut sehingga tidak menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang.
Namun pada sebagian lainnya, HPV bisa bertahan bertahun-tahun dan memicu perubahan sel abnormal yang akhirnya berkembang menjadi kanker.
Karena prosesnya berlangsung perlahan, kanker serviks sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun pada tahap awal.
Banyak pasien baru menyadari adanya masalah ketika penyakit sudah memasuki stadium yang lebih lanjut dan mulai memengaruhi jaringan di sekitarnya.
Salah satu tanda yang kerap muncul adalah perdarahan dari vagina setelah berhubungan intim.
Selain itu, perdarahan di luar siklus menstruasi atau setelah menopause juga termasuk gejala yang patut mendapatkan perhatian khusus.
Perubahan pada pola haid, seperti menstruasi yang lebih lama atau lebih banyak dari biasanya, juga bisa menjadi salah satu sinyal yang tidak boleh diabaikan.
Gejala lain yang cukup sering dilaporkan adalah keputihan berair bercampur darah dan terkadang menimbulkan bau yang tidak sedap.
Di samping itu, rasa nyeri pada area panggul maupun sakit saat berhubungan seksual juga bisa menjadi pertanda bahwa kondisi sudah berkembang lebih jauh.
Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Prof Dr dr Yudi Mulyana Hidayat, SpOG, Subsp Onk, menjelaskan bahwa nyeri saat berhubungan intim memang bisa berkaitan dengan kanker serviks stadium lanjut.
Menurutnya, jika rasa sakit muncul bersamaan dengan perdarahan, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena kemungkinan kanker sudah menyebar keluar dari leher rahim.
Ketika sel kanker menjalar ke jaringan sekitar rahim atau dinding vagina, sentuhan maupun tekanan saat berhubungan dapat memicu rasa nyeri yang lebih signifikan.
Situasi ini berbeda dengan rasa tidak nyaman akibat penetrasi yang terlalu dalam pada kondisi serviks yang sehat.
Dalam kasus biasa, nyeri umumnya hanya berupa rasa tertekan tanpa diikuti perdarahan atau keluhan lain yang mencurigakan.
Kalaupun terjadi luka, penyebabnya biasanya lebih berkaitan dengan robekan jaringan, bukan karena adanya pertumbuhan sel kanker.
Karena itu, kombinasi antara nyeri, perdarahan, dan keputihan yang tidak normal menjadi tanda yang perlu segera diperiksakan ke dokter.
Deteksi dini tetap menjadi langkah terbaik untuk meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus mencegah penyakit berkembang ke tahap yang lebih berat.
Salah satu metode pemeriksaan yang paling dikenal adalah Pap smear, yaitu pengambilan sampel sel dari leher rahim untuk melihat adanya perubahan abnormal.
Pemeriksaan ini sudah lama menjadi standar skrining kanker serviks dan direkomendasikan dilakukan secara berkala.
Selain Pap smear, tes HPV juga bisa dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat infeksi virus yang menjadi penyebab utama kanker serviks.
Dalam beberapa kasus, dokter menggunakan sampel yang sama dengan Pap smear, tetapi ada pula yang memerlukan pengambilan sampel tambahan.
Jika ditemukan indikasi mencurigakan, prosedur biopsi biasanya menjadi langkah berikutnya untuk memastikan diagnosis.
Biopsi dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan dari area yang diduga mengalami perubahan sel agar dapat diperiksa lebih detail di laboratorium.
Metode lain yang cukup banyak digunakan di Indonesia adalah pemeriksaan IVA atau Inspeksi Visual dengan Asam Asetat.
Cara ini dilakukan dengan mengoleskan larutan asam asetat encer pada leher rahim untuk melihat adanya perubahan warna yang mengarah pada sel abnormal.
Selain skrining rutin, vaksin HPV juga menjadi salah satu upaya pencegahan paling efektif untuk menurunkan risiko kanker serviks.
Pada akhirnya, memahami sinyal tubuh dan tidak menunda pemeriksaan saat muncul gejala yang tidak biasa merupakan langkah penting agar masalah kesehatan bisa ditangani lebih cepat dan tepat. (*)

