BACAAJA, SEMARANG – Drama anak menolak sayur seolah sudah jadi cerita sehari-hari di banyak rumah. Ada yang langsung tutup mulut, ada yang pilih-pilih makanan, bahkan ada juga yang cuma mau menu tertentu setiap hari.
Banyak orangtua akhirnya memilih jalan pintas dengan memaksa anak menghabiskan sayur di piring. Padahal, cara itu justru belum tentu efektif untuk jangka panjang.
Sejumlah peneliti mengungkap, membangun kebiasaan makan sehat pada anak lebih ampuh dilakukan lewat pengalaman yang menyenangkan dan konsisten daripada tekanan atau paksaan.
Laporan BBC yang terbit akhir Juni 2026 menjelaskan bahwa kebiasaan makan anak sebenarnya bisa dibentuk sejak usia dini melalui interaksi sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Anak pada dasarnya memang lebih mudah menyukai rasa manis. Hal ini bahkan sudah dimulai sejak bayi karena ASI mengandung gula alami yang memberikan rasa manis.
Itulah sebabnya mengenalkan sayuran yang punya rasa lebih pahit atau hambar sering menjadi tantangan tersendiri bagi banyak keluarga.
Meski begitu, konsumsi buah dan sayur tetap punya peran penting untuk mendukung tumbuh kembang, kesehatan tubuh, kemampuan berkonsentrasi, hingga perilaku anak dalam keseharian.
Para ahli pun membagikan beberapa langkah sederhana yang dinilai lebih efektif dibanding memaksa anak menghabiskan sayur.
Cara pertama adalah mengenalkan sayuran secara berulang tanpa menyerah di percobaan awal. Anak membutuhkan waktu untuk menerima rasa baru yang belum familiar di lidah mereka.
Profesor Biopsikologi dari University of Leeds, Marion Hetherington, mengatakan paparan sayuran sebaiknya dimulai sebelum anak berusia lima tahun.
Menurutnya, semakin dini anak mengenal berbagai jenis makanan, semakin besar peluang mereka untuk menyukainya saat tumbuh besar.
Beragam penelitian menunjukkan bahwa seorang anak bisa membutuhkan lima hingga lima belas kali perkenalan dengan makanan yang sama sebelum akhirnya mau mencicipinya.
Bahkan, preferensi makanan disebut sudah mulai terbentuk sejak dalam kandungan melalui pola makan yang dijalani ibu selama masa kehamilan.
Langkah berikutnya yang cukup efektif adalah menyajikan sayuran lebih dulu sebelum menu utama lainnya hadir di meja makan.
Saat anak masih lapar, peluang mereka untuk mencoba sayur cenderung lebih besar dibanding ketika perut sudah terisi makanan favorit.
Penelitian di sejumlah pusat pengasuhan anak di Inggris menemukan bahwa anak-anak cukup terbuka mengonsumsi sayuran saat sarapan ketika pilihan tersebut ditawarkan lebih awal.
Cara ketiga adalah memperbanyak porsi sayur tanpa mengubah menu kesukaan anak secara drastis.
Orangtua bisa menambahkan sayuran parut ke dalam saus, sup, atau lauk pendamping sehingga anak tetap mendapatkan asupan nutrisi tanpa merasa dipaksa.
Penelitian juga menunjukkan bahwa anak akan mengonsumsi lebih banyak sayuran ketika porsinya diperbesar dalam sajian sehari-hari.
Peningkatan jumlah buah dan sayur hingga setengah dari porsi awal bahkan terbukti membuat konsumsi kedua bahan pangan itu ikut meningkat.
Selain soal rasa, tampilan makanan juga ternyata memegang peranan penting bagi minat makan anak.
Sayuran yang dipotong menyerupai bunga, kupu-kupu, atau karakter lucu lebih mudah menarik perhatian si kecil untuk mencoba makanan baru.
Anak juga lebih mungkin mengambil camilan sehat jika buah dan sayur diletakkan di tempat yang mudah terlihat dan gampang dijangkau.
Kebiasaan makan bersama keluarga pun punya pengaruh besar terhadap pola makan anak dalam jangka panjang.
Anak biasanya belajar dari apa yang dilakukan orangtua, termasuk soal makanan yang rutin dikonsumsi setiap hari.
Jika ayah dan ibu terbiasa makan sayur dengan santai dan menikmati menu sehat, anak cenderung akan mengikuti kebiasaan tersebut.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa makan bersama keluarga minimal tiga kali dalam seminggu berkaitan dengan konsumsi buah dan sayur yang lebih tinggi pada anak.
Para peneliti juga mengingatkan agar waktu makan tidak berubah menjadi momen penuh tekanan atau pertengkaran.
Anak justru lebih terbuka terhadap makanan baru ketika mereka diberi ruang untuk mengenal, memegang, mencium, atau mengamati bahan makanan tanpa kewajiban langsung mencicipinya.
Dalam salah satu penelitian, pendekatan seperti itu terbukti membuat anak lebih berani mencoba makanan yang sebelumnya terasa asing.
Mengajak anak ikut memasak juga dinilai mampu meningkatkan rasa penasaran sekaligus ketertarikan mereka terhadap sayuran.
Koki eksperimental Jozef Youssef yang terlibat dalam penelitian mengatakan pengalaman makan yang santai menjadi kunci utama keberhasilan mengenalkan makanan baru.
Menurutnya, anak-anak akan lebih mudah bermain, bereksperimen, dan mencicipi berbagai jenis makanan ketika suasananya menyenangkan dan bebas tekanan.
Temuan ini menunjukkan bahwa membiasakan anak makan sayur tidak harus lewat paksaan, melainkan melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari. (*)

