BACAAJA, SEMARANG – Kehidupan kadang membawa seseorang ke situasi yang benar-benar sulit, bahkan ketika ia sudah berusaha sekuat tenaga. Pengalaman seperti itu juga pernah dirasakan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, terutama ketika menghadapi masa-masa berat saat tinggal di perantauan.
Gus Baha pernah menceritakan kondisi ekonominya yang serba terbatas ketika anak pertamanya hendak lahir. Tinggal di rumah kontrakan tanpa uang di tangan, ia menghadapi keadaan yang membuatnya harus benar-benar bersandar kepada pertolongan Allah SWT.
Dari pengalaman tersebut, Gus Baha mengungkap pelajaran tentang doa yang masih diingatnya hingga sekarang. Baginya, ada momen ketika seseorang tidak lagi mengandalkan kemampuan diri sendiri, melainkan menyadari bahwa pertolongan Allah dibutuhkan bahkan untuk urusan yang terlihat sederhana.
Sujud Hati, Bukan Sekadar Gerakan
Dalam sebuah pengajian, Gus Baha menjelaskan pentingnya menghadirkan hati secara sungguh-sungguh ketika berdoa. Ia menyebut konsep sujud hati atau sujud qalbi, yakni sikap batin yang penuh ketundukan dan penghambaan kepada Allah SWT.
Menurutnya, seseorang perlu melatih hati agar mampu benar-benar khusyuk ketika bersujud. Bukan sekadar menjalankan gerakan salat sebagai rutinitas, tetapi menghadirkan kesadaran bahwa manusia tidak mempunyai daya tanpa pertolongan-Nya.
“Hanya butuh satu sujud, tapi sujudnya hati,” kata Gus Baha.
Ia juga mengingatkan agar seseorang tidak buru-buru merasa belum mampu mencapai kekhusyukan tersebut. Justru, hati perlu terus dilatih agar ibadah tidak berhenti pada gerakan fisik, tetapi juga melibatkan ketulusan dan kesadaran batin.
Gus Baha turut mengaitkan renungan tersebut dengan penghayatan terhadap ayat iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn, yang berarti, “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Pernah Malu Meminta Pertolongan Allah
Gus Baha mengisahkan bahwa dirinya pernah merasa malu untuk meminta pertolongan Allah dalam urusan yang dianggap sederhana. Perasaan tersebut bukan berarti tidak percaya kepada kekuasaan Allah, melainkan muncul dari cara pandangnya ketika menghadapi persoalan hidup.
“Saya sebagai manusia sering berdoa, tapi kalau minta sama Allah malu,” tuturnya.
Ia bahkan sempat berpikir bahwa urusan kelahiran merupakan sesuatu yang secara alami terjadi pada makhluk hidup. Namun, ketika benar-benar berada dalam situasi sulit, ia akhirnya melaksanakan salat hajat dan memanjatkan doa kepada Allah SWT.
“Akhirnya saya sholat hajat. Dalam keadaan begitu saya doa, doa saya itu saya bawa sampai mimpi,” ungkapnya.
Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa manusia tidak seharusnya menganggap remeh pertolongan Allah. Sesuatu yang tampak mudah sekalipun tetap membutuhkan izin dan kehendak-Nya.
Jangan Merasa Bisa Melakukan Semuanya Sendiri
Dari kisah tersebut, Gus Baha mengajak umat Islam untuk tidak terjebak pada perasaan mampu mengatasi segala persoalan dengan kekuatan sendiri. Manusia tetap perlu berusaha, tetapi juga harus menyadari keterbatasan dirinya.
Ia mencontohkan bahwa aktivitas sehari-hari yang terlihat biasa saja bisa menghadirkan risiko ketika manusia tidak mendapatkan pertolongan Allah. Karena itu, doa bukan hanya dipanjatkan ketika menghadapi masalah besar, tetapi juga menjadi bagian dari kesadaran dalam menjalani kehidupan.
Ayat iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn pun tidak semestinya hanya dibaca berulang kali tanpa penghayatan. Kandungannya mengingatkan manusia untuk beribadah sekaligus menggantungkan pertolongan kepada Allah SWT.
Kisah Gus Baha menjadi pelajaran bahwa kesulitan hidup bisa dialami siapa saja. Melalui doa, salat hajat, dan sujud yang tulus, seseorang diajak untuk memperkuat ketergantungan kepada Allah tanpa meninggalkan ikhtiar dalam menjalani kehidupan. (*)

