BACAAJA, SEMARANG– Dua atlet meninggal saat mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026. Tragedi ini menjadi alarm bagi penyelenggara dan pengelola cabang olahraga untuk mengevaluasi kesiapan pertandingan. Bukan hanya soal mengejar medali, tetapi juga memastikan setiap atlet terlindungi selama berkompetisi.
Pengamat olahraga Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr Soedjatmiko, MPd menilai, persiapan atlet yang kurang maksimal dapat meningkatkan risiko terjadinya insiden dalam pertandingan. Namun, ia tidak menyimpulkan faktor tersebut sebagai penyebab langsung meninggalnya dua atlet dalam Porprov kali ini.
Kedua atlet tersebut adalah Syabilla Rizkia Putri Raharja (22), atlet selam asal Kabupaten Jepara, dan Ayudiah Rivana Tridiandinata (19), atlet pencak silat asal Kota Semarang.
Soedjatmiko menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut. Menurutnya, kejuaraan merupakan puncak dari proses latihan dan persiapan panjang seorang atlet. Karena itu, kesiapan sebelum bertanding harus menjadi perhatian serius.
Baca juga: Tragis! Atlet Selam Jepara Meninggal saat Berlaga di Porprov Jateng 2026
“Kejuaraan merupakan puncak dari persiapan yang dilakukan seorang atlet. Jika persiapannya tidak maksimal, bisa terjadi insiden dan bahkan membahayakan jiwa atlet yang bersangkutan,” ujarnya.
Mantan Wakil Ketua Umum II KONI Jawa Tengah periode 2021-2025 itu juga menyoroti keterbatasan anggaran yang menurutnya masih menjadi salah satu tantangan dalam persiapan sejumlah cabang olahraga menghadapi kompetisi.
Ia menilai, perencanaan pembinaan perlu disusun secara tepat agar kebutuhan penting, termasuk aspek keselamatan, tidak terabaikan. Meski demikian, keterbatasan anggaran tersebut merupakan catatan umum mengenai pembinaan olahraga, bukan kesimpulan mengenai penyebab tragedi yang menimpa kedua atlet.
Risiko Berbeda
Selain kesiapan atlet, Soedjatmiko menekankan pentingnya manajemen risiko dalam penyelenggaraan pertandingan. Setiap cabang olahraga memiliki karakteristik dan potensi bahaya berbeda sehingga membutuhkan prosedur keselamatan yang sesuai.
“Masing-masing cabang olahraga memiliki karakteristik dan potensi bahaya berbeda sehingga membutuhkan prosedur keselamatan yang sesuai,” jelasnya.
Menurut dia, evaluasi perlu mencakup kesiapan atlet, penerapan prosedur keselamatan, ketersediaan dukungan medis, hingga mekanisme penanganan keadaan darurat.
Baca juga: Atlet Pencak Silat Semarang Meninggal setelah Pertandingan Porprov Jateng, Sempat Jalani Operasi
Koordinasi antara penyelenggara, pengurus cabang olahraga, pelatih, dan tenaga medis juga perlu diperkuat untuk mengantisipasi risiko sejak tahap persiapan.
Soedjatmiko menegaskan, penyebab pasti meninggalnya Syabilla dan Ayudiah harus mengacu pada hasil pemeriksaan serta keterangan pihak berwenang. Karena itu, belum tepat mengaitkan kedua kejadian tersebut secara langsung dengan persoalan anggaran atau kurangnya persiapan tanpa bukti yang memadai.
Ia berharap peristiwa ini menjadi momentum evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan olahraga. Penyelenggaraan kompetisi, menurutnya, tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian prestasi, tetapi juga harus menempatkan keselamatan atlet sebagai prioritas.
Sebab, keberhasilan sebuah kejuaraan bukan semata-mata dihitung dari jumlah medali dan posisi klasemen. Podium bisa dikejar kembali pada kompetisi berikutnya, tetapi nyawa atlet tidak bisa digantikan. (tebe)

