BACAAJA, SEMARANG– Semarang tak mau cuma jadi latar foto wisatawan. Kota ini ingin masuk layar lebar, ikut menggerakkan industri film, bahkan membuka pintu menuju pasar internasional. Targetnya bukan sekadar bikin kota terlihat keren, tetapi juga mendatangkan peluang kerja, menghidupkan UMKM, dan menarik wisatawan.
Ambisi itu disampaikan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti saat menjadi pembicara dalam diskusi panel Jakarta Film Summit 2026 di Park Hyatt Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Diskusi tersebut mengangkat tema “The Multiplier Effect: Mengapa Mendukung Produksi Film Menguntungkan Kota-Pelajaran dari Semarang dan Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF) 2026”.
Menurut Agustina, film bukan cuma urusan kamera, aktor, dan adegan yang bikin penonton terpukau. Di balik satu produksi, ada banyak sektor yang bisa ikut kecipratan rezeki, mulai dari hotel, transportasi, katering, penyewaan lokasi, hingga usaha kecil di sekitar tempat syuting.
“Film adalah sektor yang bisa menyentuh banyak aspek pembangunan sekaligus. Produksi film membutuhkan kru, pemain, transportasi, hotel, katering, hingga berbagai jasa dari pelaku usaha lokal. Pada saat yang sama, film membawa nama kota ke layar nasional, bahkan dunia,” menjadi pesan utama yang diusung dalam paparannya.
Artinya, ketika rumah produksi datang ke Semarang, peluang ekonominya tidak berhenti di lokasi syuting. Belanja produksi bisa mengalir ke pemasok makanan, penyedia peralatan, penjahit kostum, percetakan, sampai warung makan yang melayani kru.
Baca juga: Saat Anak Muda Semarang Diajak Bikin Film
Jika filmnya menarik perhatian penonton, efek berikutnya bisa berupa kunjungan wisatawan ke lokasi yang muncul di layar. Kota pun berpeluang mendapatkan promosi tanpa harus terus-menerus mengandalkan brosur wisata.
Semarang punya modal visual yang beragam. Lawang Sewu menawarkan cerita sejarah, Kota Lama punya bangunan klasik untuk drama periode, Simpang Lima merekam denyut kehidupan perkotaan, sementara Sam Poo Kong menyimpan kekayaan sejarah dan budaya.
Potensi itu dirangkum dalam gagasan “Semarang, Seribu Cerita”. Kota ini ingin menawarkan lebih dari sekadar lokasi syuting: ada cerita, karakter, dan kehidupan masyarakat yang bisa diangkat menjadi karya sinema.
Hanung Bramantyo, yang terlibat sebagai juri LOFF juga menilai Semarang memiliki modal penting untuk pengembangan produksi film, terutama dari ketersediaan bangunan dan lokasi syuting.
Namun, modal visual saja tidak cukup. Produksi film membutuhkan perizinan yang jelas, akses lokasi, kru yang terampil, dan dukungan pemerintah yang bisa diandalkan. Karena itu, Agustina mendorong pembenahan regulasi, penataan kawasan, serta pelibatan komunitas film lokal.
Salah satu langkah yang sudah dijalankan Pemkot Semarang adalah Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF), yang dirintis pada 2025 dan berlanjut pada 2026.
Peluang Kolaborasi
Mengusung tema “Seribu Pintu Menuju Sinema Dunia” dan tagline “Semarang Berkisah untuk Cerita Dunia”, festival ini dirancang bukan sekadar tempat membagikan piala. Programnya mencakup pembinaan, pengembangan ide, produksi, pemutaran film, hingga peluang kolaborasi.
Data LOFF 2026 mencatat 167 film pendek terdaftar dari seluruh Indonesia. Selain itu, terdapat 31 proposal ide cerita dari komunitas film Semarang, dengan delapan tim mendapat pembinaan intensif selama tiga hari melalui workshop dan mini lab.
LOFF Film Week juga menghadirkan pemutaran tujuh film terkurasi dari Prancis, India, dan Indonesia. Sementara itu, LOFF Market melibatkan UMKM dan Dekranasda, membuka ruang pertemuan antara kegiatan perfilman dan promosi produk lokal.
Angka partisipasi tersebut menjadi modal awal bagi Semarang untuk memperluas jejaring perfilman. Tantangan berikutnya adalah memastikan ide-ide yang sudah dibina tidak berhenti sebagai proposal, tetapi punya peluang berkembang menjadi produksi nyata.
Agustina mendorong empat langkah untuk memperkuat ekosistem perfilman Semarang. Pertama, menjadikan LOFF dan Film Fund sebagai agenda berkelanjutan agar pembinaan sineas muda tidak berhenti setelah festival selesai.
Kedua, mempermudah perizinan syuting, termasuk pemanfaatan aset milik pemerintah kota sebagai lokasi produksi. Agustina bahkan menyatakan siap mendukung kemudahan tersebut.
Baca juga: Semarang Siapkan Festival Literasi Internasional, Penulis Prancis Bakal Dilibatkan
“Saya selaku wali kota yang menjaminkan diri atas kemudahan-kemudahan tersebut. Jadi tunggu apalagi, ayo produksi film di Kota Semarang,” ajaknya. Ketiga, meningkatkan kemampuan talenta dan kru lokal melalui kerja sama dengan perguruan tinggi serta komunitas film. Dengan begitu, produksi dari luar daerah juga bisa membuka lapangan kerja dan transfer pengetahuan bagi warga Semarang.
Keempat, memperluas kerja sama antarkota melalui film commission, koproduksi, pertukaran talenta, dan pemanfaatan lokasi syuting lintas daerah. Bagi Agustina, industri film tidak perlu dibangun dengan membuat satu kota bersaing mati-matian melawan kota lain. Kolaborasi justru dapat memperbesar peluang bagi perfilman Indonesia secara keseluruhan.
Film memang bisa mempromosikan kota, tetapi promosi yang berhasil seharusnya diikuti manfaat nyata bagi masyarakat. UMKM perlu mendapat akses, kru lokal perlu dilibatkan, dan lokasi bersejarah perlu dikelola agar tetap terawat.
Lawang Sewu bisa menjadi pintu masuk. Namun, untuk sampai ke panggung dunia, Semarang perlu memastikan pintu-pintu lainnya juga benar-benar terbuka.
Sebab, kota yang ingin terkenal lewat film bukan cuma harus pandai tampil di layar. Kota itu juga harus siap menjadi tempat yang nyaman untuk berkarya, bekerja, dan berusaha. (tebe)

