BACAAJA, SEMARANG- Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan mulai diuji coba di 10 kabupaten/kota di Jawa Tengah sejak Senin (5/10/2026). Model ini diharapkan membuat makanan tetap hangat dan anak-anak lebih antusias saat makan.
Sepuluh daerah tersebut meliputi Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Grobogan, Rembang, Pekalongan, Pemalang, Batang, Sragen, Kudus, dan Jepara. Uji coba berlangsung sekitar dua pekan sebelum dievaluasi.
Baca juga: Keracunan MBG Berulang, Gus Yasin Minta Daerah Bisa Suspend SPPG
Anggota Komisi IX DPR RI, Muhammad Harris menilai, sistem prasmanan layak dipertimbangkan jika terbukti memberi manfaat bagi penerima program.
“Kalau memang ini bagus, makanan masih hangat lalu disajikan dan kemudian anak-anak antusias dengan program ini, saya kira enggak ada salahnya ini kita lanjutkan,” kata Harris di Hotel Grasia Semarang, Sabtu (10/10/2026).
Selain mengevaluasi cara penyajian, Harris meminta sekitar 13 ribu dapur MBG yang telah dibangun tetapi belum beroperasi diverifikasi ulang. Langkah ini penting untuk memastikan fasilitas layak digunakan dan anggaran publik tidak terbuang.
Verifikasi Ulang
“Saya termasuk yang menyampaikan agar 13.000 yang sudah jadi itu diverifikasi ulang. Karena itu menyangkut dana publik, dana masyarakat,” ujarnya.
Harris menyebut biaya pembangunan satu dapur bisa mencapai Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar. Ia juga mengusulkan penyesuaian jumlah penerima manfaat di dapur yang sudah beroperasi agar dapur lain yang siap dapat segera dimanfaatkan.
Baca juga: Siswa SLB Blitar Pingsan, Diduga Tahan Sakit Keracunan MBG
Menurutnya, evaluasi perlu mencakup sistem penyajian, kesiapan dapur, dan pembagian penerima manfaat agar pelaksanaan MBG berjalan lebih efektif. Sebab, membuat anak semangat makan tentu kabar baik. Tetapi program makan bergizi tak boleh berhenti pada urusan makanan terlihat lebih menarik di atas meja.
Jangan sampai prasmanannya bikin anak tambah lahap, sementara evaluasi anggarannya malah kurang selera. Kalau uang publik sudah keluar miliaran rupiah untuk dapur, yang harus matang bukan cuma makanannya, tetapi juga perencanaan dan pelaksanaannya. (dul)

