BACAAJA, MAGELANG– Kalau urusan kurban biasanya yang ramai adalah soal sapi mana yang paling besar atau domba mana yang paling gemuk. Tapi ada satu hal yang kadang luput dari perhatian: sehat nggak hewannya, bersih nggak prosesnya, dan aman nggak dagingnya?
Nah, pertanyaan itu yang coba dijawab Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (Unnes) lewat pendampingan warga Desa Seworan, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.
Bukan sekadar datang, kasih penyuluhan, lalu pulang. Program yang berlangsung April hingga Agustus 2026 itu menyasar kesehatan ternak sampai urusan daging kurban yang nantinya masuk ke piring warga.
Tim tersebut dipimpin drh Irma Dian Nurani, SKH, M.Sc, bersama dosen dan mahasiswa Unnes. Menurut Irma, kesehatan ternak dan keamanan pangan sebenarnya satu paket. Ternaknya sehat, prosesnya benar, dagingnya juga diharapkan aman dikonsumsi.
Baca juga: Dua Ton Harapan dari Semarang: FK Unnes Kirim Bantuan ke Aceh
“Melalui kegiatan ini, kami ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menjaga kesehatan ternak, menerapkan sanitasi yang baik, serta memastikan daging qurban yang dihasilkan aman, sehat, utuh, dan halal,” ujarnya.
Pendampingan dimulai dari hal yang sering dianggap sepele: kandang. Peternak diberikan edukasi mengenai manajemen kesehatan ternak, kebersihan kandang, pengelolaan limbah, sampai cara mencegah penyakit. Sebab, kandang yang kotor bukan cuma bikin hidung protes. Ada risiko penyakit zoonosis, alias penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia.
Tim Unnes kemudian melakukan pemeriksaan kesehatan ternak, pemberian obat cacing, hingga penyuntikan vitamin. Tujuannya jelas. Infeksi parasit dikendalikan, daya tahan tubuh ternak dijaga, dan kondisi hewan tetap prima. Jadi bukan sekadar prinsip “kelihatannya sehat, berarti sehat.”
Menjelang Iduladha, fokus pendampingan bergeser ke pelaksanaan kurban. Panitia kurban diberikan pemahaman soal teknik penyembelihan halal, higiene dan sanitasi, sampai kesejahteraan hewan. Tim juga membantu menyediakan peralatan pendukung seperti pisau sembelih, alat pengulitan, dan perlengkapan penanganan daging.
Hewan Kurban
Setelah itu, dokter hewan Unnes turun melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem. Total ada 19 hewan kurban yang diperiksa. Rinciannya dua sapi dan 17 domba.
Pemeriksaan antemortem dilakukan sebelum hewan disembelih. Setelah penyembelihan, pemeriksaan postmortem dilakukan dengan melihat kondisi organ dan bagian tubuh hewan untuk memastikan daging yang dihasilkan layak dan aman dibagikan. Dengan kata lain, daging kurban tidak cukup hanya berstatus “habis disembelih”. Ada proses panjang sebelum akhirnya sampai ke tangan warga.
Pendampingan ternyata belum selesai setelah daging dipotong. Warga penerima daging juga diberikan edukasi mengenai daging ASUH: Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.
Masyarakat diberi pemahaman tentang cara memilih, menyimpan, sampai mengolah daging agar tidak terkontaminasi dan tidak menimbulkan risiko penyakit akibat pangan.
Baca juga: Bu Maria Riang-Gembira Dipinang Berondong di Nikah Massal Unnes
Irma berharap pengetahuan tersebut tidak berhenti ketika kegiatan pendampingan selesai. “Kami berharap masyarakat dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh secara mandiri dan berkelanjutan, mulai dari pemeliharaan ternak, kebersihan kandang, hingga penanganan daging setelah penyembelihan,” katanya.
Sebab, urusan kesehatan ternak dan keamanan pangan bukan pekerjaan musiman yang cuma muncul ketika kalender mulai mendekati Iduladha. Harapannya, kebiasaan menjaga kebersihan kandang, memperhatikan kesehatan hewan, dan menangani daging secara benar bisa terus dilakukan sehari-hari.
Program ini pun menjadi bagian dari kontribusi Unnes dalam mendukung kesehatan masyarakat, kesejahteraan hewan, sekaligus keamanan pangan asal hewan. Karena pada akhirnya, daging kurban itu bukan cuma soal dapat bagian. Ada perjalanan panjang dari kandang sampai piring yang juga harus dipikirkan.
Jadi kalau tahun depan masih ada yang bilang, “Tenang, yang penting sapinya gemuk,” mungkin perlu dijawab pelan-pelan: Gemuk itu bonus. Sehat, bersih, halal, dan aman? Nah, itu baru urusan serius. (tebe)

