BACAAJA, SEMARANG– Raihan satu medali perak dan tiga perunggu dari Asian Games Aichi-Nagoya 2026 ternyata belum bikin sepak takraw Jawa Tengah puas. Justru sebaliknya, hasil itu seperti alarm untuk naik level.
Usai membawa pulang empat medali, Pengprov Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Jateng mulai mengarahkan pandangan ke Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. Targetnya pun bukan sekadar ikut bertanding atau numpang lewat di podium. Tiga medali emas dipatok.
Ketua Umum Pengprov PSTI Jateng, Agung Hariyadi mengatakan, penampilan atlet Jateng di level Asia menjadi tambahan motivasi untuk mempersiapkan tim menghadapi PON mendatang.
“PON 2028 menjadi sasaran berikutnya. Kami menargetkan tiga medali emas dan tentu berharap para atlet yang tampil di Asian Games bisa menjadi bagian penting dari tim Jateng,” ujarnya.
Baca juga: Empat Atlet Takraw Jateng Buktikan PPLOP Tak Sekadar Nama
Pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, empat atlet Jateng memang punya kontribusi nyata untuk Indonesia. Yudha Aswinatama asal Demak berhasil meraih medali perak nomor quadrant event putra. Sedangkan tiga perunggu dipersembahkan Dini Mitasari, M Ubaidur Rohman, dan Frisca Kharisma.
Empat medali tersebut menunjukkan satu hal: Jateng masih punya stok atlet yang bisa bersaing di level tinggi. Tapi tentu saja, modal medali saja tidak cukup.
Agung menilai persiapan menuju PON harus dilakukan sejak jauh-jauh hari. Pengalaman bertanding di level Asia juga menjadi bekal penting, terutama untuk menghadapi tekanan pertandingan dan lawan dengan kualitas yang tidak bisa dianggap enteng.
Dini Mitasari bahkan mengakui persaingan di Asian Games cukup ketat. Thailand dan Korea Selatan menjadi dua negara yang menurutnya punya kekuatan besar di sepak takraw.
Lebih Panjang
Yang menarik, persiapan menuju Asian Games kali ini hanya sekitar tiga bulan. Padahal, dalam kondisi normal, persiapan bisa jauh lebih panjang, bahkan mencapai 10 bulan.
“Persiapan kami kali ini sekitar tiga bulan. Biasanya bisa lebih lama, bahkan sampai 10 bulan. Dengan persiapan yang terbatas, kami bersyukur tetap bisa membawa pulang medali,” kata Dini.
Artinya, kalau waktu persiapan lebih panjang, ruang untuk berkembang juga sebenarnya masih terbuka lebar. Begitu pula dengan Yudha Aswinatama. Tampil untuk pertama kalinya di Asian Games, atlet asal Demak itu langsung mampu membawa pulang medali perak.
Tampil di panggung Asia, menghadapi lawan-lawan tangguh, lalu pulang dengan medali tentu menjadi modal berharga untuk menghadapi pertandingan berikutnya.
Baca juga: Atlet Jateng Sabet 11 Medali di Asian Games 2026
Kini pekerjaan rumah PSTI Jateng adalah menjaga agar capaian tersebut tidak berhenti sebagai cerita manis selepas Asian Games. Evaluasi harus jalan. Regenerasi harus jalan. Pembinaan juga harus jalan.
Sebab target tiga emas PON 2028 jelas bukan target yang bisa dikejar dengan modal semangat sehari dua hari. Atlet perlu disiapkan, kompetisi diperbanyak, kualitas pelatih dijaga, dan jam terbang terus ditambah.
Empat atlet sudah menunjukkan bahwa Jateng bisa bersaing di Asia. Berikutnya tinggal membuktikan apakah tiga emas PON 2028 hanya akan menjadi target di atas kertas atau benar-benar berubah menjadi kenyataan.
Karena dalam olahraga, target itu gratis diucapkan. Yang mahal adalah proses untuk mewujudkannya. Dan medali emas, tentu saja, tidak bisa dicetak hanya dari baliho bertuliskan “target juara”. (tebe)

